Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com, – Semua berawal dari kenyataan bahwa manusia memiliki karakter dan tipe yang beragam. Di antara mereka ada yang cenderung mudah menyesali diri. Disadari atau tidak, sifat ini sering kali lahir dari kelemahan karakter. Banyak hal dapat membuat seseorang menyesali dirinya, namun secara umum penyesalan diri berakar dari perjalanan hidup. Biasanya, hal itu terjadi ketika seseorang mengalami kegagalan dalam meraih obsesi dunia yang dicita-citakan, atau berasal dari kelamnya masa lalu yang diwarnai dosa.
Advertisement
Mereka yang gagal dalam kehidupan, apalagi jika merasa hidup semakin menghimpit, sering kali memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri. Kegagalan yang terus diulang-ulang dalam pikirannya membuat ia seolah menghukum dirinya dan merasa tidak mampu. Akar masalahnya sering kali adalah obsesi terhadap dunia yang dibarengi dengan kurangnya rasa syukur atas kehidupan yang telah Allah berikan. Padahal, sikap yang benar bukanlah menyesali diri secara berlarut-larut, melainkan mengantisipasi kegagalan sebelum melangkah, serta selalu mengingat untuk bersyukur atas setiap karunia yang ada.
Penyesalan diri juga bisa muncul dari pengalaman berdosa. Ada orang yang terjebak dalam perbuatan dosa besar—perbuatan yang sebenarnya tidak ia inginkan—namun dorongan hawa nafsu yang kuat atau tekanan kebutuhan hidup membuatnya tergelincir. Dalam proses itu, muncul pertentangan batin: suara hati yang menolak, namun dorongan jiwa yang tidak mampu dibendung.
Pertentangan batin seperti ini sering kali tergolong neurotisme, yaitu benturan antara nilai kebenaran yang tertanam dalam kesadaran agama dan realita di mana ia tak mampu menahan dorongan untuk berbuat dosa. Memang, tidak semua orang mengalaminya, tetapi bagi yang sudah memahami agama, pertentangan ini menjadi jelas: di satu sisi ia memegang nilai yang baik, di sisi lain ia terjerat nilai yang buruk.
Gejala neurotisme dapat tampak dalam bentuk kecemasan yang terus-menerus tanpa sebab yang jelas, atau rasa takut akan hukuman Allah. Bahkan setelah bertaubat, rasa cemas itu bisa tetap melekat. Dari sinilah lahir penyesalan mendalam terhadap masa lalu.
Sebagian orang mencoba menghapus rasa bersalah itu dengan membangun keyakinan bahwa mereka kini suci setelah bertaubat, padahal cara berpikir seperti itu tidak tepat. Jika rasa bersalah tetap disimpan dan penyesalan terus dipelihara, overthinking akan menggerogoti kesadaran dan pikiran.
Untuk melepaskan pikiran yang mengikat seperti ini, agama adalah jalan keluarnya. Penyesalan yang berasal dari kegagalan duniawi atau kelamnya masa lalu hanya bisa dilepaskan dengan istighfar dan taubat. Istighfar dilakukan terus-menerus untuk membersihkan hati dari beban masa lalu, dibarengi penyerahan diri kepada Allah—memasrahkan segala perkara kepada-Nya dan menerima keputusan-Nya.
Seorang mukmin harus yakin bahwa Allah Maha Menerima taubat, dan tidak layak menghukum dirinya sendiri karena masa lalu. Allah berfirman:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Kita juga harus menjauhi pemahaman yang keliru bahwa Allah hanya Maha Menghukum, sebab Dia juga Maha Pengampun. Begitu pula, jangan merasa diri suci setelah bertaubat, tetapi tetaplah rendah hati sebagai hamba yang penuh dosa—tanpa memelihara rasa sesal yang melumpuhkan. Jika dosa baru dilakukan, segera sikapi dengan shalat taubat dan istighfar sebagaimana diajarkan oleh Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili.
Sementara itu, obsesi dunia yang tidak tercapai harus dihadapi dengan memperbesar rasa syukur kepada Allah atas rezeki yang telah diberikan setiap hari, serta menerima perjalanan hidup dengan ikhlas. Tidak ada kebutuhan yang mustahil terpenuhi selama kita mau berikhtiar menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, sering kali perasaan membelenggu, semangat melemah, dan rasa malas menghalangi langkah kita.
Karena itu, yang perlu diutamakan bukanlah penyesalan yang berlarut-larut, melainkan usaha yang sungguh-sungguh, dibarengi rasa syukur atas setiap pahit dan manisnya kehidupan. Jangan lupa untuk senantiasa memohon kepada Allah agar meridhai setiap langkah kita, baik dalam urusan dunia maupun ibadah kepada-Nya.
Advertisement
