Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Mursyid

Mursyid

Tasawuf Elegan Senin, 6 Mei 2024 17:34 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto Ikustrasi: Glestser Pegunungan Himalaya (wirestock/freepik)

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Praktik tarekat membutuhkan seorang guru mursyid. Mursyid berasal dari kata ‘arsyada, yursidu, irsyadan fahuwa mursyidun.’ Mursyidun berarti ‘penuntun.’ Istilah ini khas dalam dunia tasawuf dan sangat terkenal.

Advertisement

Kapasitas mursyid sebanding dengan ulama. Namun, istilah ‘ulama’ lebih mengacu pada ahli ilmu agama, terutama syariat. Dalam istilah lokal, ulama sering disebut kiyai atau ustadz. Sedangkan panggilan untuk mursyid beragam, seperti syekh, abuya (Banten), buya (Sumatera), Tuan Guru (Indonesia Timur), bahkan ada yang memanggil abah.

Mursyid diartikan sebagai penuntun karena berperan membimbing dan menuntun seperti memandu orang buta atau anak kecil. Artinya, mursyid menuntun dari jalan kebodohan menuju kebenaran, dari kegelapan menuju terang. Mereka yang dituntun disebut muridin atau salikin.

Karena tugasnya menuntun dari kegelapan menuju terang, mursyid dipahami sebagai guru spiritual. Oleh karena itu, mursyid harus memiliki nazhar dan bashar. Nazhar adalah kemampuan melihat aspek gaib yang terlihat secara fisik, sedangkan bashar adalah pandangan batin yang menjadi nyata.

Aspek-aspek tersebut membedakan seorang guru mursyid dari ulama. Karena tugasnya menuntun dan membebaskan salik dari kegelapan, seorang mursyid mampu membimbing kejiwaannya, misalnya mengubah sifat sombong seorang salik menjadi rendah hati. Seorang mursyid tidak akan mengusir murid yang bodoh karena memiliki amanah untuk meningkatkan keterbelakangan mental muridnya.

Sebelum seseorang mengenal Tuhan, dia harus memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Memperhatikan diri sendiri menjadi sangat penting dalam pemahaman ilmu tarekat. Praktik zikir dengan berbagai lafaz dan cara harus diseimbangkan dengan penataan diri.

Hal ini tentu tidak mudah bagi seorang salik, sehingga salik membutuhkan penuntun, yaitu Guru Mursyid.

Mengubah jiwa seseorang menjadi lebih baik bukanlah hal yang mudah. Menginsyafkan pemabuk mungkin lebih mudah, tetapi mengubah kepribadian seseorang bukanlah hal yang mudah. Bahkan, bisa dikatakan bahwa menaklukkan lautan masih lebih mudah daripada menaklukkan hati seorang manusia. Kekerasan batu tidak sekeras hati manusia. Ketika masih merasa kuat, manusia akan melawan; ketika takut, dia akan berkelit atau tampak tunduk padahal tidak. Mursyid memiliki kemampuan untuk mengubah semua hal tersebut.

Keberadaan seorang Mursyid sering digambarkan dengan sosok-sosok luar biasa dari para ahli tasawuf, seperti Imam Al-Qusyairi dan Ibnu Atthaillah. Dikisahkan bahwa jika setan mendengarkan ucapan Imam Al-Qusyairi, setan akan bertaubat. Itulah sebabnya setan bahkan menghindari pertemuan dengan Imam Al-Qusyairi.

Sosok Ibnu Atthaillah dikenal memiliki kekuatan aphorisme yang melekat dalam dirinya, sehingga jika seorang pelaku maksiat bersalaman dengannya, niscaya orang tersebut akan mendapatkan hidayah dan bertaubat. Namun, seorang mursyid tidak mengandalkan hal-hal ini, karena semuanya terjadi atas izin Allah.

Di dalam diri mursyid, terdapat teladan dari akhlak dan adab Rasulullah SAW. Oleh karena itu, jika akhlak yang dicontohkannya adalah sebuah kedustaan, hal itu bagaikan membangun gunung pasir di pantai yang akan hancur seketika oleh ombak. Murid yang dibina akan berbalik fasad atau rusak.

Kepribadian mursyid harus bersifat ilahiyah, memancarkan energi dan kekuatan yang dapat mengubah keadaan manusia. Kepribadian ini dikenal sebagai karomah, karena mengikuti perilaku batin mursyid dapat membawa salik menuju maqam yang diraih.

Namun, jika seorang mursyid menunjukkan perilaku yang tidak baik, maka hal itu seharusnya tidak ditiru oleh murid, karena hal tersebut mungkin merupakan ujian bagi salik atau menunjukkan sisi kemanusiaan mursyid.

Pengertian sifat Ilahiyah bukan berarti mursyid adalah Tuhan. Jelas bukan. Mursyid bukan Tuhan atau yang merasa di dalam dirinya Tuhan. Akidah kita mengajarkan seperti itu, dimana tidak ada manusia Tuhan. Namun aspek ilahiyah dipahami dalam kepribadianya terdapat cermin kebesaran Tuhan. Pribadinya unik dan tidak seperti manusia biasa. Bahkan ada yang tidak bisa ditiru. Namun akhlak dan adabnya menjadi tauladan semua saliknya. Seorang pribadi mursyid, hidup dalam humul (samar) dan hulthoh (menyamar) sehingga apabila tidak dekat dengannya maka tidak akan mengenal kepribadiannya. Sulit sekali diuraikan disini dan menggambarkan prilaku tersebut.

Masih banyak bahasan soal mursyid, namun tulisan ini sekedar gambaran untuk bisa melihat orang-orang yang termasuk kategori tersebut. Yang jelas mursyid yang ideal adalah bahwa dirinya akan menutupi dirinya dan akan terlihat biasa dengan kesederhanaannya, bersahabat, tidak bergaya kraton apalagi memperlihatkan diri sebagai seorang yang suci. Kerendahan hatinya mentauladani rasulullah SAW. Mursyid memiliki pribadi orang yang merasa berdosa sebagaimana orang berdosa, tidak merasa memiliki lebih dari orang yang lemah, tidak merasa lebih tinggi dari orang hidupnya biasa. Semua egaliter, asyik, bersahaja, tanpa kelas sosial namun tempatkan segala seauatu dengan adab.

Advertisement

Tarekat Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Sinergi Penegak Hukum: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Sambangi Kejagung, Tekankan Hilangnya Rivalitas

Kapolri Temui Jaksa Agung: Tidak Pernah Ada Masalah di Antara Dua Institusi

Kronologi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tersangka Megakorupsi dan TPPU

Gerakan Ayah Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah Mendapat Dukungan Resmi di Berbagai Daerah

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.