Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Memaknai 1 Muharam  Dalam Sufisme

Memaknai 1 Muharam  Dalam Sufisme

Tasawuf Elegan Minggu, 7 Juli 2024 17:46 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Hari ini, tepat pada 1 Muharam 1446 Hijriyah, banyak orang bersukaria, khususnya bagi muslim yang memperingatinya. Para santri dari berbagai pesantren di Nusantara melakukan pawai obor, mengelilingi desa dan kota sambil membacakan shalawat atau kalimat-kalimat thayyibah. Kadang sebagian muslim yang merayakannya mengungkapkan perkataan sinis, “Tahun baru Masehi kok dirayakan sedangkan tahun baru Islam diabaikan.” Apapun bentuk ungkapan hati, sekali lagi dalam hal ini tidak bisa dipaksakan karena kembali kepada keimanan masing-masing.

Advertisement

Bagi yang mengerti, bulan Muharam adalah bulan yang penting dan dianggap sakral oleh banyak orang. Peringatan Muharam tidak seperti peringatan tahun Masehi yang mengikuti tradisi Barat. Banyak orang memandang Muharam sebagai peringatan yang sakral, bukan pesta seperti tahun Masehi. Tanggal 1 Muharam juga dikenal sebagai tanggal 1 Suro di Jawa. Malam ini, sakralitas ditunjukkan dengan mandi, menyucikan diri, memandikan keris dan barang bertuah lainnya, serta melakukan ritual tertentu dengan pergi ke tempat-tempat yang memiliki aura magis. Di seluruh dunia, khususnya di Iran, umat Syiah memperingati Hari Karbala pada bulan Muharam, mengenang kisah terbunuhnya Sayyidina Husein RA pada perang Karbala.

Ini menunjukkan bahwa banyak kalangan, dari kaum tradisional, sekte, bahkan firqah agama, memperingati dan menjalankan sakralitas dalam bulan Muharam ini. Kaum kebatinan menggunakan momen penting ini untuk meningkatkan ilmu kebatinan dengan melakukan puasa-puasa.

Kisah bulan Muharam ini bermula dari zaman sahabat dan zaman halifah Umar bin Khatab, ketika mereka berdebat tentang penentuan tanggal dan bulan untuk umat muslim saat ini. Beberapa menginginkan penentuan berdasarkan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sementara yang lain menghitung dari Tahun Gajah atau pengangkatan kenabian. Para sahabat akhirnya sepakat bahwa tahun Islam dimulai dari hijrah Nabi beserta sahabatnya, karena momentum ini sangat penting.

Para sahabat juga bermusyawarah tentang bulan mulai berdasarkan sistem qamariyah, yang berhubungan dengan sistem perhitungan bulan berdasarkan peredaran bulan setiap sekitar 29 atau 30 hari, serta hubungannya dengan bulan ibadah umat Islam. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA mengusulkan dimulainya tahun hijriyah dari Bulan Muharam, karena jika dimulai dari Rabi’ul Awal, itu bukan hanya bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga bulan wafatnya. Usulan ini diterima dan diterapkan sampai hari ini.

Dari berbagai cara memperingati bulan ini, dari sudut pandang tasawuf khususnya dan agama Islam umumnya, yang paling masyhur adalah bersedekah dan menyantuni anak yatim. Bulan ini adalah bulan sedekah dan Hari Besar Anak Yatim, dengan tujuan untuk membersihkan jiwa dan mengenal Allah. Jika Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulan Nabi Muhammad SAW, dan Ramadhan adalah bulan umat Muslim, maka Muharam adalah bulan pembersihan diri, sedekah, dan bulan anak yatim.

Dalam semua ini, kita tetap menjaga kebahagiaan diri dengan terus meningkatkan ibadah kepada Allah, tidak hanya di bulan-bulan tersebut tetapi setiap saat. Ibadah adalah kewajiban dan takwa adalah pencapaian kepada Allah.

Advertisement

Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Sinergi Penegak Hukum: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Sambangi Kejagung, Tekankan Hilangnya Rivalitas

Kapolri Temui Jaksa Agung: Tidak Pernah Ada Masalah di Antara Dua Institusi

Kronologi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tersangka Megakorupsi dan TPPU

Gerakan Ayah Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah Mendapat Dukungan Resmi di Berbagai Daerah

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.