Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Peka dan Meraba Perasaan Orang Lain

Peka dan Meraba Perasaan Orang Lain

Tasawuf Elegan Minggu, 15 September 2024 15:21 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: Flickr.com

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Salah satu tujuan tasawuf adalah meningkatkan budi pekerti. Jika budi pekerti halus, hasilnya akan banyak disukai oleh orang lain. Sebaliknya, jika kita tidak bisa menjaga budi pekerti, kita akan dinilai buruk oleh orang lain. Banyak pertanyaan yang muncul ketika seorang penganut tasawuf, seandainya tidak memiliki budi pekerti. Salah satu bentuk budi pekerti adalah menjaga sopan santun.

Advertisement

Namun, ternyata sopan santun saja tidak cukup ketika berhadapan dengan orang lain. Sopan santun hanyalah salah satu bentuk penghargaan terhadap orang lain dalam lingkungan sosial. Ada banyak ragam perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap orang lain, dan inilah yang perlu diamalkan.

Beberapa syarat untuk menghargai orang lain antara lain: Pertama, hilangkan rasa sombong beserta “anak-anaknya.” Anak-anak sombong mencakup sifat egois, angkuh, merendahkan, meremehkan, mengecilkan, membandingkan, ‘nyinyir’, acuh tak acuh, dan sebagainya. Sementara itu, sifat-sifat lain yang berkaitan dengan sombong adalah kebencian, dendam, dan diskriminasi. Jika semua ini ada dalam diri kita, niscaya kita tidak akan mampu menghargai orang lain.

Syarat kedua adalah kepekaan. Kita harus peka, baik terhadap kepribadian seseorang maupun hal-hal umum seperti lingkungan pergaulan, sosial, dan budaya. Dengan kepekaan, kita harus bisa meraba perasaan orang lain, misalnya dengan berpikir, “Jika saya berbuat seperti ini, bagaimana perasaan orang lain?” Kepekaan ini harus menjadi pengawas perilaku kita sehingga kita dapat mengendalikan diri dalam berbuat, bersikap, dan berucap.

Contoh kecilnya, misalkan kita membeli makanan yang hanya cukup untuk diri sendiri, padahal di sekitar kita ada orang lain, seperti teman-teman. Jika kita makan sendiri tanpa memperhatikan situasi, meskipun kita menawarkan makanan terlebih dahulu, tentu tetap bisa menimbulkan anggapan tertentu. Konteks lingkungan sosial juga perlu diperhatikan, karena hal inilah yang menilai apakah suatu tindakan pantas atau tidak.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan aspek budaya dalam lingkungan kita bergaul. Misalnya, di suatu daerah, seorang menantu tidak diperkenankan berbicara lebih dahulu kepada mertua kecuali jika mertua mengajak bicara lebih dahulu. Bahkan bertanya pun dianggap tidak sopan dalam situasi tersebut.

Oleh karena itu, menjadi peka berarti kita harus bisa meraba keadaan, terutama dalam konteks sosial dan budaya, serta yang lebih penting lagi, memahami kepribadian orang yang bersangkutan. Karena kepribadian manusia sangat beragam, mereka membutuhkan perlakuan khusus. Jika kita tidak mengenal karakter tersebut, maka gunakanlah kaidah umum dalam budaya setempat. Kaidah umum adalah gambaran umum tentang kepribadian manusia yang berlaku di suatu wilayah. Perhatikan hal ini dan pelajarilah dengan bijak. Misalnya, jangan berbicara tentang kebahagiaan di hadapan orang yang sedang menderita. Jangan membicarakan kekayaan di hadapan orang yang kurang mampu. Jangan bicara tentang kesehatan di hadapan orang yang sedang sakit. Masih banyak contoh lain yang tak bisa dijelaskan satu per satu di sini, tetapi mulailah dengan meraba, memperhatikan, dan mencontoh orang lain.

Meraba adalah bentuk antisipasi agar kita tidak keluar dari kaidah masyarakat. Terakhir, ingatlah bahwa patut atau tidak patutnya suatu perbuatan sangat bergantung pada konteksnya. Misalnya, jika kita sering bertukar pikiran dengan sahabat tentang masa lalu, tetapi kemudian membicarakannya di ruang publik, seperti di dalam angkot, hal yang awalnya layak menjadi tidak layak karena konteks yang berbeda.

Advertisement

Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.