Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Salah satu tujuan tasawuf adalah meningkatkan budi pekerti. Jika budi pekerti halus, hasilnya akan banyak disukai oleh orang lain. Sebaliknya, jika kita tidak bisa menjaga budi pekerti, kita akan dinilai buruk oleh orang lain. Banyak pertanyaan yang muncul ketika seorang penganut tasawuf, seandainya tidak memiliki budi pekerti. Salah satu bentuk budi pekerti adalah menjaga sopan santun.
Advertisement
Namun, ternyata sopan santun saja tidak cukup ketika berhadapan dengan orang lain. Sopan santun hanyalah salah satu bentuk penghargaan terhadap orang lain dalam lingkungan sosial. Ada banyak ragam perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap orang lain, dan inilah yang perlu diamalkan.
Beberapa syarat untuk menghargai orang lain antara lain: Pertama, hilangkan rasa sombong beserta “anak-anaknya.” Anak-anak sombong mencakup sifat egois, angkuh, merendahkan, meremehkan, mengecilkan, membandingkan, ‘nyinyir’, acuh tak acuh, dan sebagainya. Sementara itu, sifat-sifat lain yang berkaitan dengan sombong adalah kebencian, dendam, dan diskriminasi. Jika semua ini ada dalam diri kita, niscaya kita tidak akan mampu menghargai orang lain.
Syarat kedua adalah kepekaan. Kita harus peka, baik terhadap kepribadian seseorang maupun hal-hal umum seperti lingkungan pergaulan, sosial, dan budaya. Dengan kepekaan, kita harus bisa meraba perasaan orang lain, misalnya dengan berpikir, “Jika saya berbuat seperti ini, bagaimana perasaan orang lain?” Kepekaan ini harus menjadi pengawas perilaku kita sehingga kita dapat mengendalikan diri dalam berbuat, bersikap, dan berucap.
Contoh kecilnya, misalkan kita membeli makanan yang hanya cukup untuk diri sendiri, padahal di sekitar kita ada orang lain, seperti teman-teman. Jika kita makan sendiri tanpa memperhatikan situasi, meskipun kita menawarkan makanan terlebih dahulu, tentu tetap bisa menimbulkan anggapan tertentu. Konteks lingkungan sosial juga perlu diperhatikan, karena hal inilah yang menilai apakah suatu tindakan pantas atau tidak.
Selain itu, penting juga untuk memperhatikan aspek budaya dalam lingkungan kita bergaul. Misalnya, di suatu daerah, seorang menantu tidak diperkenankan berbicara lebih dahulu kepada mertua kecuali jika mertua mengajak bicara lebih dahulu. Bahkan bertanya pun dianggap tidak sopan dalam situasi tersebut.
Oleh karena itu, menjadi peka berarti kita harus bisa meraba keadaan, terutama dalam konteks sosial dan budaya, serta yang lebih penting lagi, memahami kepribadian orang yang bersangkutan. Karena kepribadian manusia sangat beragam, mereka membutuhkan perlakuan khusus. Jika kita tidak mengenal karakter tersebut, maka gunakanlah kaidah umum dalam budaya setempat. Kaidah umum adalah gambaran umum tentang kepribadian manusia yang berlaku di suatu wilayah. Perhatikan hal ini dan pelajarilah dengan bijak. Misalnya, jangan berbicara tentang kebahagiaan di hadapan orang yang sedang menderita. Jangan membicarakan kekayaan di hadapan orang yang kurang mampu. Jangan bicara tentang kesehatan di hadapan orang yang sedang sakit. Masih banyak contoh lain yang tak bisa dijelaskan satu per satu di sini, tetapi mulailah dengan meraba, memperhatikan, dan mencontoh orang lain.
Meraba adalah bentuk antisipasi agar kita tidak keluar dari kaidah masyarakat. Terakhir, ingatlah bahwa patut atau tidak patutnya suatu perbuatan sangat bergantung pada konteksnya. Misalnya, jika kita sering bertukar pikiran dengan sahabat tentang masa lalu, tetapi kemudian membicarakannya di ruang publik, seperti di dalam angkot, hal yang awalnya layak menjadi tidak layak karena konteks yang berbeda.
Advertisement
