GazanaPublika.com – Berguru dalam hal apa pun adalah sebuah proses; dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, dan dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Berguru ibarat mesin produksi, awalnya hanya tepung terigu, diproses, dan keluarlah mie, terus diproses selanjutnya dalam tahapan-tahapan sehngga menjadi sesuatu yang diinginkan. Seperti itulah gambaran proses berguru. Seseorang yang tadinya tidak bisa silat, setelah berguru, akan mampu mempraktikkan silat.
Dalam proses berguru, ada pelajaran dan ujian, seperti halnya di sekolah. Setiap pelajaran yang diberikan akan diiringi dengan ujiannya. Pelajaran kurikulernya berupa teori, kemudian dilanjutkan dengan praktikum. Pelajaran tambahan, atau ‘sela’-nya, muncul ketika murid berbuat salah, dan tentu akan ditegur, bahkan mungkin dimarahi. Pada zaman dahulu, hukuman bisa berupa sabetan rotan, dan hal itu dianggap wajar. Karena itu, hukuman menjadi bagian dari pelajaran. Jika seorang murid melawan hukuman tersebut, maka hikmah dari guru tidak akan diperolehnya.
Masyarakat Timur, terutama dalam tradisi Islam, meyakini bahwa setiap hukuman dari guru membawa hikmah, berkah, bahkan bisa membuka jalan (futuh) bagi seorang murid. Ini bukan soal logika, melainkan soal kepercayaan. Oleh karena itu, pahit getir bersama guru harus diterima dan dijadikan sesuatu yang bermanfaat, yang kelak akan membawa hikmah.
Kadang, perkataan dan tindakan seorang guru mengandung ujian, dan maksudnya mungkin masih misteri. Hal ini hanya dapat dipahami dalam ranah tarekat. Perkataan seorang guru adalah kebenaran yang hakiki, meskipun terkadang hanya berupa ujian. Murid tidak perlu memperdalam hal itu; yang paling penting adalah menerima atau ‘ittiba’ (mengikuti).
Ujian yang diberikan oleh guru sering kali tidak diketahui sebagai ujian oleh murid. Tugas murid hanyalah mempersiapkan diri, baik secara jiwa, raga, maupun mental. Yang dibutuhkan adalah kekuatan mental agar tidak lemah, apalagi cengeng. Sebab, sebenarnya ujian dari guru bertujuan untuk menaikkan derajat murid di hadapan Allah SWT.
Guru adalah perpanjangan tangan Allah di dunia untuk memberikan pendidikan kepada murid-muridnya. Pendidikan dari Allah kepada seseorang bisa melalui dua cara: melalui alam atau melalui proses keguruan. Pendidikan melalui keguruan akan mengantarkan seseorang kepada derajat yang lebih tinggi, khususnya dalam pendidikan ketuhanan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2)
Lalu guru pun memberikan ujian sesuai dengan kadar kesanggupan seseorang sebagaimana Allah SWT berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَا قَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَا عْفُ عَنَّا ۗ وَا غْفِرْ لَنَا ۗ وَا رْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰٮنَا فَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)
