Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Pernahkah kita mendengar istilah Ahlud-dunya dan hubbud-dunya. Insya Allah, sering didengar. Sering kali pemahaman antara keduanya bercampur. Lalu banyak sekali anggapan orang-orang yang berkecimpung dan terlibat dalam aktifitas dunia disebut sebagai hubbud-dunya. Dia antara mereka boleh jadi lalai dalam ibadah namun bukan dalam kategori hubbud-dunia. Namun, banyak sekali para ahli dunia tersebut tergolong orang-orang yang taat kepada Allah SWT. Apa beda keduanya? Baiknya kita simak penjelasan berikut:
Advertisement
Ahlud-dunya dan hubbud-dunya (ahli dunia dan cinta dunia) adalah sesuatu yang terpisah. Orang ahli dunia adalah orang yang telah memiliki harta di dunia bahkan memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Ahli dunia adalah orang yang ahli dalam hal dunia, misalnya seorang profesor dalam dunia pendidikan, ahli mesin, ahli komputer, presiden, atau menteri yang membidangi bidang tertentu. Coba direnungkan, apakah salah berada pada posisi seperti itu? Tentu tidak ada salahnya. Mereka bekerja untuk dirinya sendiri, menafkahi keluarganya, dan bermanfaat bagi dunia. Perubahan yang pesat di dunia, dari abad ke abad, dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, adalah hasil usaha para ahli dunia. Apabila tidak ada para ahli dunia, tentu tidak akan ada perubahan. Tidak ada pembangunan, mungkin dunia ini hanya sebatas hutan dan perkampungan kecil sebagaimana gambaran zaman primitif. Kehadiran ahli dunia sangat bermanfaat bagi manusia. Manusia memiliki segala fasilitas untuk kehidupannya. Manusia pun menjadi sejahtera, seiring dengan berkurangnya kemiskinan secara perlahan. Fasilitas rumah sakit tersedia untuk mengurangi angka kematian, didukung perkembangan farmasi. Semua itu adalah gambaran yang tidak perlu diuraikan satu per satu.
Lalu, apa bahayanya bagi ahli dunia? Apabila mereka lalai menyembah Allah SWT karena asyik dengan dunianya. Di sisi lain, ahli dunia–sebagai ahli ilmu–berpotensi melakukan perusakan alam dengan teori dan tindakannya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)
Untuk para ahli dunia ini, berulang kali Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya, agar jangan melampaui batas. Oleh karenanya, meskipun berada dalam posisi sebagai ahli dunia, mereka tetap diingatkan untuk mengingat Allah SWT, beribadah, dan bertindak waspada karena apa yang mereka perbuat dapat menyebabkan kerusakan di muka bumi.

Lalu siapa yang disebut hubbud-dunya? Yaitu orang-orang yang sebetulnya kekurangan atas dunia, namun di dalam hatinya selalu berharap meraih dunia yang tak kunjung diraih. Mereka terus penasaran, berulang kali mengupayakan itu sehingga lupa kepada Allah. Orang yang hubbud-dunya akan kurang rasa syukurnya kepada Allah.
Kemiskinan dan kefakiran bukanlah hal yang menghalangi ibadah kepada Allah SWT. Bahkan, apabila seseorang ikhlas menerima keadaannya, ia justru mulia di hadapan Allah SWT. Sebaliknya, apabila mereka tidak mau bersyukur, mereka akan diazab oleh Allah SWT, sebagaimana janji Allah SWT dalam Al-Qur’an.
Ciri hubbud-dunya adalah orang-orang yang haus akan dunia, tidak menerima keadaannya sementara harapannya sangat besar untuk meraih dunia. Mereka terus berharap ada keberuntungan, ingin cepat kaya, sehingga lupa kepada Allah SWT. Boleh jadi mereka beribadah seperti biasa layaknya orang beribadah, namun hatinya tetap tertaut kepada dunia yang terus diharapkan, senang berkhayal seolah ada uang sekarung yang jatuh dari langit. Orang seperti ini tidak akan pernah merasa puas, bahkan seandainya seluruh dunia diberikan. Kemudian, mereka terlibat dalam kegiatan yang penuh ‘modus’, usaha yang tidak jelas. Ini semua adalah gambaran-gambaran kehidupan dunia. Sebagai solusi, beribadahlah dengan baik dan ikutlah dalam aktifitas pengajian, karena hal itu lebih bermanfaat bagi ahli dunia untuk kehidupan akhirat.
Semoga Allah SWT menghindarkan hal tersebut dari dalam diri dan keberadaan kita, amin ya rabbal alamin.
Advertisement
