Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Salah satu ranah tasawuf adalah pembahasan terkait adab, akhlak, dan perbaikan diri. Tampaknya, bahasan ini tidak akan ada habis-habisnya. Tujuannya agar kita bermuhasabah, lalu memperbaiki diri sendiri. Mengalihkan perhatian dari kesalahan orang lain sehingga kita ingat kepada kesalahan diri sendiri.
Advertisement
Beribu kesalahan telah kita lakukan. Tidak ada henti-hentinya kita menginsyafi diri. Untuk itu, perlu sekali kita menginventarisasi apa saja kekurangan dan kelemahan di dalam diri sendiri.
Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, beliau bersabda:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
Memaknai hadis ini sebetulnya cukup luas, namun adakalanya perlu disederhanakan agar mudah dipahami. Hadis itu mengandung anjuran bahwa perlunya kita mengenali diri sendiri. Apabila mengenali diri berangkat dari kelebihan, maka dikhawatirkan yang muncul adalah kesombongan. Oleh karenanya, apabila kita merasa diri kita punya banyak kelebihan, maka beristighfarlah. Tempatkan diri kita sebagai seorang yang rendah di hadapan Allah SWT.
Maka yang paling utama ialah mengenali segala kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Lebih penting lagi dengan menggali permasalahannya. Kita mulai dengan sifat ‘tersinggung.’ Kadang memang perlu apabila sifat itu terkait hal yang vital, misalnya dihinanya sahabat, keluarga, apalagi agama. Namun, perlunya kita bersabar apabila yang dihina atau dilecehkan terkait diri kita sendiri.
Munculnya amarah dikarenakan seseorang merasa tersinggung. Penyebab tersinggung adalah karena merasa direndahkan, tidak dianggap, tidak berarti, tidak dipandang, apalagi dihina. Awalnya tersinggung kemudian memicu amarah. Kalau sudah marah, maka sekecil-kecilnya dengan reaksi ketidakterimaan, membalas, balik mencerca dan menghina, bahkan ada yang bisa membunuh.
Oleh karenanya, salah satu sifat yang harus dikendalikan adalah ‘tidak mudah tersinggung’ atau jangan terlalu sensitif. Caranya, berhusnuzan kepada sikap orang lain. Tidak mudah bereaksi atas sikap dan ucapan orang lain karena tersinggung itu efek dari mudahnya bereaksi. Lawan dari bereaksi ialah sikap tenang dan sabar. Anggap semua itu hal yang biasa atau kita merasa sering mengalaminya sehingga sudah merasa terbiasa. Sesuatu yang telah terbiasa biasanya lebih kuat menghadapi sesuatu, lebih tenang, dan bersikap santai saja. Sikap utama dari semuanya adalah bersabar.
Tersinggung, ternyata banyak faktor. Kadang bukan karena orang lain melecehkan kita saja, tetapi kadang kita memang merasa lebih dari orang lain sehingga tidak mau ditandingi, seperti merasa lebih hebat, lebih berpengalaman, lebih berilmu, kaya, berderajat, dan sebagainya. Tersinggung juga karena kita tidak mau kalah terhadap orang lain. Kita merasa lebih mulia.
Jika tersinggung dikarenakan reaksi hal seperti ini, maka yang harus dilakukan adalah rendahkan diri dan hati. Tempatkan di hadapan Allah bahwa kita adalah orang yang fakir sebab semua milik Allah. Dan pada dasarnya, bereaksi seperti ini sebetulnya bukan dikarenakan tersinggung tetapi karena eksistensi diri saja.
Di antara sifat orang, ada yang memiliki sifat tersinggungnya terlalu berlebihan. Hal seperti ini pun sangat fatal. Sebab apabila dituruti, kita akan mudah marah kepada orang lain dan bereaksi dengan cara apa saja. Tetapi, apabila dipendam di dalam hati, maka yang terjadi diri sendiri yang tersiksa. Jadi, apabila ada fenomena seperti itu, yang salah adalah diri sendiri, bukan orang lain. Lalu, apabila selalu dipelihara, apakah manfaatnya bagi diri sendiri?
Dari hal demikian, sebetulnya pengendalian diri itu sangat bermanfaat bagi diri sendiri, khususnya menjaga kesehatan jiwa dan keamanan diri sendiri. Bayangkan saja, ketika bereaksi ternyata yang dihadapi adalah orang yang lebih kuat, maka hasilnya akan merugi. Apalagi ternyata kitalah yang salah karena terlalu cepat bereaksi atas satu persoalan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Advertisement
