Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Berbicara tentang sabar adalah kewajiban setiap individu. Tanpa kesabaran, kehidupan manusia bisa terancam oleh berbagai hal, seperti frustrasi dalam menghadapi tantangan hidup, kegagalan dalam berinteraksi dengan orang lain, ketidakmampuan untuk konsisten dalam upaya tertentu, hingga berujung pada tindakan kekerasan. Sebaliknya, memelihara kesabaran dalam diri akan membantu seseorang terhindar dari semua hal negatif tersebut.
Advertisement
Dalam konteks ini, pertanyaan yang perlu dijawab adalah: mengapa seseorang sulit untuk bersabar? Salah satu penyebab utama ketidaksabaran adalah tingginya emosi yang tidak terkendali. Emosi merupakan ekspresi perasaan yang kuat terhadap rangsangan, baik dari perilaku orang lain maupun situasi yang dihadapi. Emosi yang tinggi sering kali memunculkan rasa tersinggung, sikap tergesa-gesa, dan amarah.
Rasa tersinggung dapat mengganggu hubungan sosial, menjadikannya tidak harmonis dengan sahabat, teman, atau orang lain. Sementara itu, tergesa-gesa mencerminkan sikap terburu-buru atau keinginan untuk mendapatkan hasil secara instan tanpa melalui proses yang wajar. Sikap ini menyebabkan seseorang tidak konsisten dalam meniti jalan hidup. Misalnya, ketika sedang merintis usaha perdagangan, seseorang yang tidak sabar akan mudah berpindah ke bidang lain hanya karena menghadapi kendala, tanpa memberi waktu cukup untuk berproses. Akibatnya, ia tidak pernah matang dalam mengembangkan apa pun yang dikerjakan. Dalam dunia kerja, ia mungkin sering berpindah-pindah pekerjaan, mengira selalu ada opsi yang lebih baik, padahal itu hanyalah angan-angan belaka.
Sementara itu, amarah yang tinggi mendorong seseorang untuk bersikap berlebihan terhadap perilaku orang lain, bahkan sampai pada tindakan keras atau ekstrem yang melanggar hukum. Situasi ini sering kali menyebabkan individu terlibat dalam masalah hukum yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Perlu dipahami bahwa tingginya perasaan (emosi) berbeda dengan kuatnya perasaan atau lemahnya jiwa. Kuatnya perasaan sering kali berkaitan dengan ekspresi cinta yang berlebihan, sementara lemahnya jiwa mencerminkan ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi perilaku orang lain atau keadaan kehidupannya, yang kerap dianggap sebagai sifat cengeng.
Oleh karena itu, unsur-unsur seperti tingginya emosi, sikap tergesa-gesa, dan amarah perlu diidentifikasi apakah ada dalam diri kita. Mengidentifikasi kelemahan diri adalah langkah awal untuk mengenal dan memperbaiki diri sendiri. Setelah mengenal kelemahan-kelemahan tersebut, langkah berikutnya adalah berusaha mengubahnya menjadi perilaku yang lebih baik.
Sebagaimana yang telah dikatakan: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Sebelum mencapai pemahaman tentang eksistensi Tuhan, mulailah dengan mengidentifikasi segala kelemahan diri untuk menuju Insan Kamil (manusia paripurna).
Advertisement
