Advertisement
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (al-Hadits)
Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com, Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa kebanyakan orang cenderung mengerjakan sesuatu berdasarkan hobi atau kesukaannya. Ini merupakan sifat manusiawi, karena pilihan tersebut muncul dari kecenderungan umum manusia. Namun, dalam logika yang kami tawarkan: mampukah kita keluar dari kebiasaan itu dan melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh kebanyakan orang? Bagaimana jika kita justru melakukan sesuatu bukan karena menyukainya, tetapi karena hal itu membawa manfaat dan memiliki tujuan yang lebih luhur?
Gejala kedua yang umum dijumpai dalam kehidupan manusia adalah kecenderungan memilih pekerjaan yang ringan. Misalnya, ketika seorang anak diminta orang tuanya untuk mengangkat barang, ia lebih memilih barang yang ringan dan menghindari yang berat. Ini hanya sebuah perumpamaan, namun cukup menggambarkan sifat malas dan kurangnya rasa tanggung jawab yang sering muncul secara alami.
Ungkapan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan sebagai bahan perenungan. Dalam sebuah pandangan yang mendalam, almarhum B.J. Habibie pernah menyampaikan bahwa, “Belajarlah dari yang berat, maka yang ringan akan terasa mudah.” Sebuah pelajaran penting bahwa kesulitan justru bisa menjadi jalan menuju kemudahan.
Dalam tasawuf, hal serupa juga diajarkan. Untuk membedakan antara perbuatan yang berasal dari hawa nafsu dan yang tidak, salah satu tolok ukurnya adalah tingkat kesulitan dalam melaksanakannya. Umumnya, yang berasal dari hawa nafsu terasa ringan, menyenangkan, tidak butuh paksaan, dan sesuai keinginan diri. Sementara hal yang berat, asing, belum dikenal, atau bahkan menakutkan justru lebih dekat dengan nilai-nilai spiritual dan hikmah.
Perbuatan yang memiliki nilai hikmah seringkali justru terasa berat di awal, namun bila terus dipaksakan akan melahirkan kenyamanan dan keikhlasan. Misalnya, bersedekah terasa berat ketika harus mengeluarkan uang dari kantong pribadi. Tapi justru di sanalah nilai spiritualnya. Sebaliknya, jika kita bersedekah hanya karena menyukai kegiatan itu, maka kita perlu waspada: bisa jadi itu berasal dari hawa nafsu, apalagi jika di baliknya tersimpan keinginan untuk dipuji atau diakui.
Begitu pula dengan salat lima waktu. Jangan sampai rutinitas salat membuat kita merasa sudah suci dan benar. Kita perlu terus bermuhasabah, apakah salat yang kita lakukan itu benar-benar lahir dari kesadaran ataukah hanya kebiasaan yang didorong oleh hawa nafsu? Namun tentu, bukan berarti kita harus meninggalkan salat hanya karena khawatir dilandasi hawa nafsu. Salat tetap harus dilaksanakan sebagai kewajiban, namun hati dan niat harus terus disucikan agar tidak ternodai oleh motif tersembunyi.
Menuntut ilmu pun demikian. Jika hanya belajar apa yang disukai, kita perlu mengevaluasi diri. Cobalah pelajaran-pelajaran yang tidak disukai tapi sebenarnya bermanfaat—di sanalah ujian kesungguhan dan keikhlasan.
Dalam memilih jenis usaha, hal yang sama berlaku. Jika kita hanya memilih usaha yang disukai dan semangat hanya muncul saat itu, sementara menolak usaha lain hanya karena tidak sesuai selera, maka kita sedang digerakkan oleh hawa nafsu.
Bahkan dalam urusan memilih pasangan hidup pun demikian. Umumnya orang memilih berdasarkan kesukaan fisik atau perasaan. Maka cintanya pun sering berangkat dari hawa nafsu. Kadang, guru spiritual, amggaplah mursyid, menguji murid dengan mempertemukannya dengan pasangan yang tidak sesuai keinginan, untuk menguji kemurnian hati dan kesiapannya menerima takdir.
Dalam hal makanan pun kita cenderung hanya memakan yang kita sukai dan menolak yang tidak kita suka. Ini menggambarkan bahwa dalam diri kita belum tumbuh rasa adil dan menerima atas segala yang Allah berikan.
Padahal keadilan batin adalah fondasi penting dalam membentuk pribadi yang lapang dan berserah diri. Ridha terhadap sesuatu yang berat, yang tidak disukai, adalah pendidikan batin yang sejati. Dari sanalah akan tumbuh keikhlasan yang sejati: menerima dengan sepenuh hati apa yang diberikan Allah, meski terasa berat atau tidak menyenangkan.
Ikhlas bukanlah perkara ringan. Ia dibangun dari hal-hal yang terasa sulit, seperti memberi sesuatu yang sangat kita sukai. Tetapi jika hal ini terus dipaksakan dan dibiasakan, maka lambat laun ia menjadi kebajikan yang agung di sisi Allah.
Kesadaran spiritual pun lahir dari kebiasaan menghadapi hal-hal yang berat. Ia tidak tumbuh dari kenyamanan atau dari apa yang kita sukai. Kesadaran sejati muncul dari usaha melampaui diri, dari tindakan yang tidak terkontaminasi oleh hawa nafsu.
Advertisement
