Advertisement
GazanaPublika.com, Serang – Gelombang semangat menjaga budaya lokal kian terasa di Kabupaten Serang. Salah satu yang menjadi magnet baru adalah Jaringan Organisasi Budaya dan Pencak Silat Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI). Di tengah derasnya arus modernisasi, organisasi ini justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, menarik perhatian berbagai tokoh masyarakat, termasuk para kepala desa yang dikenal dengan sebutan Jaro.
Dalam beberapa bulan terakhir, tiga tokoh desa memutuskan untuk bergabung ke TTKKBI. Mereka adalah Jaro Yana dari Desa Ranjeng, Kecamatan Ciruas — desa yang kerap disebut sebagai salah satu desa terbaik di Indonesia — kemudian Jaro Amin, Kepala Desa Cidahu, Kecamatan Kopo, dan Jaro Sayung, Kepala Desa Keserangan, Kecamatan Ciruas. Ketiganya kini berada di bawah naungan Dewan Pimpinan II Serang Timur, yang diketuai langsung oleh Jaro Yana panggilan akrab disapa Sapta Mulyana.
Advertisement
Momen kebersamaan para tokoh ini terlihat jelas pada Rabu (13/8/2025), ketika mereka menghadiri acara Walimatus Safar untuk keberangkatan Umrah Ketua Umum TTKKBI, H. Tb. Arif Hidayat, ke Tanah Suci Mekkah. Bukan sekadar seremoni, acara ini menjadi ajang silaturahmi yang hangat, penuh tawa, dan obrolan ringan yang sarat makna.
Ketika ditanya alasan mereka memilih bergabung, ketiga Jaro itu memberikan jawaban yang berbeda namun memiliki benang merah yang sama: kecintaan pada budaya dan keinginan untuk menjaga warisan leluhur.
Bagi Jaro Yana, keputusan ini lahir dari keprihatinan pribadi. Ia melihat budaya di Serang mulai terkikis oleh pengaruh modernisasi.
“Apabila budaya kita tidak diperhatikan, saya khawatir dalam 10 tahun ke depan, budaya kita akan runtuh. Mungkin inilah jalan hidup saya, saya harus bergabung dengan orang-orang yang sevisi di TTKKBI,” ujarnya dengan nada mantap.
Sementara itu, Jaro Sayung justru terpesona dengan suasana kekeluargaan yang terjaga di organisasi ini. Menurutnya, TTKKBI bukan sekadar wadah latihan pencak silat, melainkan ruang untuk memelihara tradisi silaturahmi yang mulai jarang ditemui.
“Saya merasakan suasana yang akrab seperti zaman dulu. Dalam satu bulan saja bisa beberapa kali bersilaturahmi,” kata Jaro Desa Keserangan itu.
Berbeda lagi dengan Jaro Amin, ketertarikannya lebih banyak dipicu oleh kegiatan yang dinamis. Ia mengaku terkesan dengan ragam agenda TTKKBI, mulai dari gelaran pencak silat, tari jaipong, hingga berbagai festival seni.
“Kegiatannya aktif sekali. Di mana-mana saya dengar ada acara TTKKBI. Kita harus terus dukung. Hayu, kita support,” ajaknya penuh semangat.
Kehadiran para tokoh desa ini dipandang sebagai suntikan energi baru bagi TTKKBI. Bagi masyarakat Serang, ini bukan hanya soal menjaga jurus pencak silat atau menghidupkan tarian tradisional, tetapi juga membangun kembali rasa kebersamaan yang mulai memudar di tengah derasnya arus zaman. ****
Advertisement
