Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Tajam! Pengamat Pendidikan Eko Kritik Penonaktifan Guru di Banten

Tajam! Pengamat Pendidikan Eko Kritik Penonaktifan Guru di Banten

Banten Kamis, 16 Oktober 2025 17:25 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Serang – Akademisi kritis sekaligus pengamat pendidikan dari Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten, Eko Supriatno, melontarkan kritik tajam terhadap sistem pendidikan Indonesia, khususnya terkait polemik penonaktifan kepala sekolah yang menampar siswa karena merokok di lingkungan sekolah.

Menurut Eko, peristiwa ini bukan sekadar soal tindakan individual, tetapi mencerminkan krisis nilai dan arah moral pendidikan nasional. “Kasus ini menggambarkan betapa rapuhnya sistem yang seharusnya menjadi penopang pembentukan karakter bangsa,” ujarnya.

Advertisement

Eko menilai langkah Gubernur Banten menonaktifkan kepala sekolah terlalu terburu-buru dan tidak memperhitungkan konteks moral tindakan tersebut. “Kepala sekolah itu sedang menjalankan fungsi pembinaan. Menegur, bahkan menepuk kepala siswa yang melanggar disiplin, seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan kriminalisasi,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa guru bukan sekadar pelaksana administrasi, melainkan penjaga moral dan karakter peserta didik. “Ketika guru takut menegur, maka yang rusak bukan hanya disiplin sekolah, tapi fondasi etika bangsa,” tambahnya.

Eko juga menyoroti lambannya proses birokrasi di Dinas Pendidikan dan BKD yang memperlihatkan wajah sistem pendidikan yang tumpul secara moral. Menurutnya, kebijakan yang terlalu administratif tanpa mempertimbangkan konteks nilai justru mereduksi makna pendidikan.

“Transparansi dan keadilan dalam proses penonaktifan harus menjadi prioritas. Jika guru dihukum tanpa memahami niatnya, publik akan kehilangan kepercayaan pada lembaga pendidikan,” katanya.

BACA JUGA:  Momentum Peringatan Muharam TTKKBI, Wakil RW Taman Banjar Agung Indah Bangga

Lebih jauh, Eko menyoroti benturan antara nilai kolektif tradisional (disiplin, hormat, adab) dengan nilai modern yang terlalu menonjolkan hak individu. “Sekarang guru dihukum karena menegur siswa, padahal dulu guru dihormati karena mendidik dengan tegas. Standar ganda ini menunjukkan masyarakat modern lebih memprioritaskan kenyamanan pribadi daripada moralitas bersama,” jelasnya.

Ia menilai fenomena ini membuat banyak guru kehilangan wibawa di hadapan murid. “Ketika guru menegur, ia dianggap kasar. Ketika diam, ia dianggap lalai. Ini paradoks sosial yang lahir dari budaya instan dan hukum yang kering dari nilai,” sindirnya.

Kasus seperti penonaktifan Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, menurut Eko, menunjukkan bagaimana guru menjadi korban sistem hukum dan persepsi publik yang tidak selaras dengan nilai pendidikan. “Guru sering berada di pihak yang benar, tetapi tetap dipersalahkan karena sistemnya sendiri tidak berpihak pada niat moral,” ucapnya.

Eko menilai, penerapan regulasi dan SOP yang kaku tidak bisa menggantikan pemahaman moral. “Hukum tanpa konteks pendidikan akan menciptakan ketidakadilan dan merusak martabat guru,” tegasnya.

Dalam pandangan Eko, solusi dari krisis ini terletak pada kembalinya pendidikan Indonesia pada akar nilai tradisionalnya. Ia mengutip ajaran Ki Hajar Dewantara — Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani — serta kitab klasik Ta’limul Muta’allim sebagai dasar moral bagi pendidikan yang beradab.

BACA JUGA:  Warga Lebak Perbaiki Jalan Swadaya, PMII: Bukti Pemerintah Belum Adil Pemerataan Infrastruktur

“Filosofi pendidikan Nusantara selalu menempatkan guru sebagai panutan dan pembimbing jiwa, bukan sekadar penyampai materi. Ketika nilai-nilai ini mati, maka sekolah hanya akan menjadi pabrik ijazah,” ujarnya.

Eko juga mengingatkan, kesalahan sistem tidak hanya terletak di birokrasi pendidikan, tetapi juga pada mentalitas masyarakat modern. “Banyak orang tua terlalu cepat membela anaknya tanpa menimbang moralitas perbuatannya. Gengsi dan proteksi berlebihan justru menciptakan anak yang kehilangan karakter,” ungkapnya.

Menurutnya, pendidikan sejati memerlukan kerja sama antara guru, orang tua, dan masyarakat. “Pendidikan bukan arena permusuhan antara guru dan wali murid. Semua pihak harus saling memahami peran dan batasnya,” katanya.

Dalam kritik satirnya terhadap sistem pendidikan modern, Eko menyindir: “Sekolah kini dianggap penyedia layanan. Guru diposisikan seperti karyawan yang harus memuaskan pelanggan. Ketika guru menegur, ia disebut melanggar. Ketika diam, ia dituduh tidak bertanggung jawab. Inilah ironi pendidikan modern.”

Menurutnya, pandangan semacam itu telah merusak budaya kolektif yang dulu menjadi kekuatan pendidikan Indonesia. “Moralitas guru terkikis oleh logika pasar dan hukum yang menafsirkan segalanya secara formal,” katanya.

Advertisement

Budaya Nusantara UNMA
Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Banten

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

Banten

Driver Lokal Lontar Tolak Penambahan Armada FABA dari Luar Wilayah, Minta Kontrak dan Ritasi Transparan

Banten

Febi Pirmansyah Kritik Pernyataan Cak Imin soal NU: Jangan Salahkan Organisasi, Lihat Rekam Jejak Sendiri

Banten

Aksi Gerakan 9 di Malingping Diwarnai Bentrokan, Mahasiswa Desak Pemeriksaan Proyek Jalan Cikeusik–Simpang Cijaku

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.