Advertisement
GazanaPublika.com — H. Hudi Nurhudiyat, S.Ag., S.H., M.H., alias Ki Banjar Agung dikenal sebagai tokoh yang menekuni pelestarian budaya Banten sekaligus pembinaan spiritual masyarakat. Dalam kiprahnya, ia menjalankan dua bidang pengabdian yang saling melengkapi, yakni menjaga warisan seni dan tradisi leluhur serta membimbing masyarakat melalui pendidikan keagamaan dan tasawuf.
Di bidang kebudayaan, Hudi mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) Provinsi Banten. Sementara di bidang keagamaan, ia dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren dan Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah, sekaligus mursyid yang membimbing para salik dalam menapaki perjalanan spiritual.
Advertisement
Kedua peran tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya. Bagi Hudi, kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dipertontonkan dalam berbagai acara, melainkan warisan nilai yang perlu dipahami, dijaga, dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Demikian pula ilmu agama, yang tidak cukup hanya dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Menghidupkan Warisan Budaya Banten
Sebagai Ketua DPW I TTKKBI Provinsi Banten, Hudi berada di tengah upaya memperkuat keberadaan pencak silat dan kesenian tradisional sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Banten. TTKKBI menjadi wadah berhimpun bagi pendekar, pelaku seni, padepokan, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian warisan leluhur.
Dalam pandangannya, pencak silat tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan bela diri atau penguasaan jurus. Di balik gerakannya terdapat nilai kedisiplinan, keteguhan, penghormatan kepada guru, persaudaraan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut perlu diwariskan bersama keterampilan agar pencak silat tetap memiliki makna bagi kehidupan masyarakat.
Melalui TTKKBI, upaya pelestarian budaya juga mencakup pengenalan berbagai bentuk kesenian tradisional Banten. Pencak silat, seni pertunjukan debus dan tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat merupakan kekayaan budaya yang perlu mendapatkan ruang untuk berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Hudi memandang bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Organisasi kebudayaan, padepokan, pemerintah, masyarakat, dan generasi muda perlu membangun kerja sama agar warisan tersebut tidak berhenti pada satu generasi. Kebudayaan harus tetap hidup, dipelajari, dan dipraktikkan sesuai dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang menjadi landasannya.
Kepemimpinannya di DPW I TTKKBI Provinsi Banten menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut. Organisasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat berhimpun para pendekar, tetapi juga sebagai ruang pembinaan karakter, penguatan persaudaraan, serta pengembangan kegiatan sosial dan kebudayaan.
Membina Tasawuf melalui Majelis Al Ma’arijul Wathon
Di luar aktivitas kebudayaan, Hudi menjalankan pengabdian melalui Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah. Sebagai pengasuh sekaligus mursyid, ia membimbing jamaah dan para salik dalam memahami hubungan antara syariat, hakikat, dan perjalanan spiritual.
Pembinaan yang dijalankannya menekankan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan agama, pemahaman batin, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan spiritual tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya pengetahuan atau pengalaman batin, tetapi juga dari kemampuan seseorang menjaga perilaku, memperbaiki diri, dan menjalankan tanggung jawabnya.
Dalam kegiatan majelis, pendidikan spiritual menjadi proses yang membutuhkan kesungguhan dan tahapan. Para salik diarahkan untuk terus belajar, memperdalam pemahaman, serta menempatkan ilmu secara tepat. Pengetahuan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan menjadi jalan untuk memperbaiki kualitas diri dan memberi manfaat.
Hudi juga menaruh perhatian pada pemahaman masyarakat terhadap tradisi kebatinan dan tasawuf. Baginya, pembahasan mengenai pengalaman spiritual perlu disertai pemahaman yang baik terhadap syariat dan dasar keilmuan. Dengan demikian, masyarakat dapat membedakan antara pemahaman spiritual yang memiliki landasan dan penafsiran yang berpotensi menimbulkan kekeliruan.
Melalui Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah, ia berupaya menghadirkan ruang pembelajaran dan bimbingan bagi masyarakat yang ingin memperdalam pengetahuan keagamaan serta menapaki kehidupan spiritual secara lebih terarah.
Menyatukan Pengabdian Budaya dan Keagamaan
Kiprah Hudi Nurhudiyat memperlihatkan pertemuan antara dua bidang yang memiliki ruang pengabdian berbeda, tetapi sama-sama berhubungan dengan pembentukan manusia: kebudayaan dan spiritualitas.
Kebudayaan mengajarkan penghormatan terhadap akar sejarah, guru, leluhur, serta nilai-nilai yang diwariskan. Sementara pembinaan spiritual mengarahkan manusia untuk memperbaiki diri, menjaga perilaku, dan memahami tanggung jawab moralnya. Keduanya dapat menjadi landasan dalam membangun masyarakat yang memiliki identitas budaya sekaligus kesadaran etis.
Dalam menjalankan perannya, Hudi tidak hanya berhadapan dengan tantangan mempertahankan tradisi, tetapi juga dengan kebutuhan memperkenalkan kembali nilai-nilai tersebut kepada generasi muda. Warisan budaya akan kehilangan makna apabila hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu. Demikian pula ilmu keagamaan, yang memerlukan pengamalan agar tidak berhenti sebagai wacana.
Karena itu, pengembangan organisasi budaya dan pembinaan majelis keagamaan menjadi dua ruang pengabdian yang dijalankannya. Melalui TTKKBI, perhatian diarahkan pada pelestarian seni, pencak silat, dan tradisi Banten. Melalui Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah, pengabdian diwujudkan dalam pendidikan, pembinaan jamaah, dan pendalaman spiritual.
H. Hudi Nurhudiyat menempatkan kedua bidang tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga warisan sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Perannya sebagai tokoh budaya Banten dan pengasuh majelis keagamaan menjadi gambaran bahwa pelestarian tradisi dan pembinaan spiritual dapat berjalan berdampingan, dengan tujuan menjaga nilai-nilai luhur agar tetap hidup dan bermanfaat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Selain semua aktifitas tersebut, Hudi Nurhudiyat sangat menyukai budaya dalam kearifan lokal. Ia juga terlibat memberikan pembinaan langsung terhadap Warga TTKKBI Desa Cirinteun, Lebak. Desa ini bersentuhan langsung dengan warga Baduy dan karenanya TTKKBI disini, sebagiannya adalah warga Baduy dan keturunannya yang sudah menjadi warga Cirinteun.
Advertisement
