Advertisement
GazanaPublika.com, Serang – Acara silaturahmi para pendekar Tjimande Tari Kolot yang diselenggarakan oleh Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) pada Selasa (24/9/2024) di Kampung Cikeusik, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, meninggalkan kesan mendalam bagi para pesilat dan budayawan yang hadir. Tak kurang dari 30 paguron turut serta dalam acara ini, membawa semangat persatuan dan pengenalan lebih dalam terhadap warisan budaya Cimande.
Di tengah gemuruh respons positif yang terus berdatangan, Kiai Hudi Nurhudiyat, S.Ag., SH., MH., Pembina DPW 2 Lebak Selatan, Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI), dan juga salah satu kasepuhan pencak silat Cimande Banten Selatan, memberikan tanggapan khusus kepada Gazana Publika.com saat ditemui di Serang, Sabtu (28/9/2024).
Advertisement
Dalam wawancaranya, Kiai Hudi menjelaskan pentingnya menjaga keselarasan antara wadah dan budaya dalam setiap paguron yang ada di bawah naungan TTKKBI.
“Acara ini bukan hanya sekadar pertemuan, tapi momen penting untuk mengenalkan dan mempererat hubungan antarpesilat Tjimande. Antara wadah dan budaya harus menyatu, karena TTKKBI bergelut di budaya itu sendiri,” ujar Kiai Hudi.
Baginya, silaturahmi tersebut adalah kesempatan untuk membangun kesadaran bahwa setiap paguron Tjimande memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga warisan leluhur yang sarat dengan nilai-nilai adab dan moralitas.
Kiai Hudi juga mengingatkan bahwa para pesilat Tjimande harus memahami betul budaya yang mereka junjung, terutama mengingat keterkaitannya dengan nama besar karuhun (leluhur).
“Jangan sampai ada yang membawa nama karuhun tapi tak mengenal budayanya. Mereka akan merasa terhina jika kita hanya memanfaatkan nama Tjimande untuk kepentingan pribadi,” lanjutnya dengan tegas.
“Jangan sembarangan bawa-bawa nama karuhun, bahaya,” sambungnya.
Menurutnya, Tjimande Tari Kolot bukanlah ajang mencari keuntungan pribadi, tapi sarana untuk melestarikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu hal penting yang disampaikan Kiai Hudi adalah mengenai filosofi ‘talek Cimande’, sebuah amanat leluhur yang tak boleh dilupakan oleh para pesilat. Dalam amanat tersebut, ada larangan tegas terhadap judi, takabur, sombong, dan mabuk,
“Iringi keburukan dengan kebaikan,” ungkapnya.
Selain itu, para pesilat juga diingatkan untuk selalu menghormati orang yang kurang mampu, dan menjaga mereka dari kesulitan, “Jangan biarkan mereka mengemis karena keadaannya,” tuturnya.
“Pesilat Tjimande harus bisa melihat ke bawah, menghormati yang lemah, dan mencintai mereka yang membutuhkan. Juga pesilat Cimande jangan jadi pengemis,” katanya.
Ia juga mengurai makna mendalam di balik nama Cimande, yang berasal dari beberapa interpretasi filosofi. Pertama, Cai Iman nu Hade yang berarti ‘Air Iman yang Baik’, mengajarkan bahwa setiap langkah pesilat harus dilandasi oleh iman dan keyakinan yang kuat. Kedua, Ci Mani Dewek, mengingatkan bahwa manusia tidaklah sempurna dan harus selalu mengingat asal-usulnya. Manusia adalah makhluk yang lemah, karenanya tidak boleh sombong dan adigung adiguna (merasa paling kuat – red). Ketiga, Pande atau pandai besi, menyiratkan bahwa pesilat harus bisa melunakkan hati orang lain dengan adab, sebagaimana besi yang keras pun bisa dilelehkan. Lebih dahulu, lunakkan hati diri sendiri agar tidak keras kepala, dengan kata lain, harus bisa lemah lembut.
Lebih jauh, Kiai Hudi menjelaskan bahwa budaya talek Cimande memiliki tiga kelompok besar, yaitu Cimande Girang yang berlokasi di Talang, Bogor, dan inilah asal mula Tjimande Tari Kolot. Kedua, Cimande Hilir yang banyak tersebar di Karawang, serta Cimande Tengah yang tersebar di Banten dan Jakarta. Kelompok Cimande yang membawa pengaruh kuat dari ajaran Islam berasal dari Cimande Tengah, yaitu wilayah Banten dan Jakarta.
“Budaya Cimande yang terakhir ini bernuansa Islam. Selain budaya, mereka memegang ajaran yang agama yang kokoh adalah selalu ingat Allah di mana pun kita berada dan iringi setiap kejahatan dengan kebaikan,” jelas Kiai Hudi, sambil menambahkan bahwa hubungan erat antara budaya dan agama harus tetap dalam koridor ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
Saat ditanya mengenai makna pencak silat dalam konteks pertunjukan dan kehidupan sehari-hari, Kiai Hudi menjawab dengan bijak, “Pencak itu seni yang kita pertontonkan atau pertunjukan, sementara silat bersifat rahasia yang tidak bisa ditunjukkan sembarangan. Silat adalah beladiri, untuk menjaga diri dan orang lain.”
Ia juga menekankan dengan penuh keyakinan bahwa pencak silat tidak dapat menghidupkan orang yang telah mati, namun silat bisa menghidupkan hati yang mati menjadi hidup.
Silaturahmi TTKKBI di Cikeusik memang bukan sekadar pertemuan para pesilat. Ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali warisan leluhur yang tak ternilai, mempererat ikatan persaudaraan antarpesilat, serta menjaga nilai-nilai moral yang terkandung di dalam ajaran Tjimande. Di bawah naungan TTKKBI, budaya dan agama menyatu dalam harmoni, membentuk karakter pesilat yang rendah hati, beradab, dan senantiasa peduli terhadap sesama. (Red)
Advertisement
