Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kiai Hudi Nurhudiyat: Jangan Sembarangan Bawa-bawa Karuhun, Cimande itu Amanat

Kiai Hudi Nurhudiyat: Jangan Sembarangan Bawa-bawa Karuhun, Cimande itu Amanat

Banten Sabtu, 28 September 2024 8:26 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Kiai Hudi Nurhudiyat tengah memberikan wejangan penuh makna dalam acara silaturahmi Tjimande Tari Kolot pada Selasa (24/9), mengingatkan pentingnya menjaga warisan leluhur dan adab dalam kehidupan pesilat.

Advertisement

GazanaPublika.com, Serang – Acara silaturahmi para pendekar Tjimande Tari Kolot yang diselenggarakan oleh Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) pada Selasa (24/9/2024) di Kampung Cikeusik, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, meninggalkan kesan mendalam bagi para pesilat dan budayawan yang hadir. Tak kurang dari 30 paguron turut serta dalam acara ini, membawa semangat persatuan dan pengenalan lebih dalam terhadap warisan budaya Cimande.

Di tengah gemuruh respons positif yang terus berdatangan, Kiai Hudi Nurhudiyat, S.Ag., SH., MH., Pembina DPW 2 Lebak Selatan, Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI), dan juga salah satu kasepuhan pencak silat Cimande Banten Selatan, memberikan tanggapan khusus kepada Gazana Publika.com saat ditemui di Serang, Sabtu (28/9/2024).

Advertisement

Dalam wawancaranya, Kiai Hudi menjelaskan pentingnya menjaga keselarasan antara wadah dan budaya dalam setiap paguron yang ada di bawah naungan TTKKBI.

“Acara ini bukan hanya sekadar pertemuan, tapi momen penting untuk mengenalkan dan mempererat hubungan antarpesilat Tjimande. Antara wadah dan budaya harus menyatu, karena TTKKBI bergelut di budaya itu sendiri,” ujar Kiai Hudi.

Baginya, silaturahmi tersebut adalah kesempatan untuk membangun kesadaran bahwa setiap paguron Tjimande memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga warisan leluhur yang sarat dengan nilai-nilai adab dan moralitas.

Kiai Hudi juga mengingatkan bahwa para pesilat Tjimande harus memahami betul budaya yang mereka junjung, terutama mengingat keterkaitannya dengan nama besar karuhun (leluhur).

“Jangan sampai ada yang membawa nama karuhun tapi tak mengenal budayanya. Mereka akan merasa terhina jika kita hanya memanfaatkan nama Tjimande untuk kepentingan pribadi,” lanjutnya dengan tegas.

BACA JUGA:  Polda Banten Ancam Pidana 15 Tahun dan Denda Rp15 Miliar bagi Pelaku Pembakar Hutan dan Lahan

“Jangan sembarangan bawa-bawa nama karuhun, bahaya,” sambungnya.

Menurutnya, Tjimande Tari Kolot bukanlah ajang mencari keuntungan pribadi, tapi sarana untuk melestarikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu hal penting yang disampaikan Kiai Hudi adalah mengenai filosofi ‘talek Cimande’, sebuah amanat leluhur yang tak boleh dilupakan oleh para pesilat. Dalam amanat tersebut, ada larangan tegas terhadap judi, takabur, sombong, dan mabuk,

“Iringi keburukan dengan kebaikan,” ungkapnya.

Selain itu, para pesilat juga diingatkan untuk selalu menghormati orang yang kurang mampu, dan menjaga mereka dari kesulitan, “Jangan biarkan mereka mengemis karena keadaannya,” tuturnya.

“Pesilat Tjimande harus bisa melihat ke bawah, menghormati yang lemah, dan mencintai mereka yang membutuhkan. Juga pesilat Cimande jangan jadi pengemis,” katanya.

Ia juga mengurai makna mendalam di balik nama Cimande, yang berasal dari beberapa interpretasi filosofi. Pertama, Cai Iman nu Hade yang berarti ‘Air Iman yang Baik’, mengajarkan bahwa setiap langkah pesilat harus dilandasi oleh iman dan keyakinan yang kuat. Kedua, Ci Mani Dewek, mengingatkan bahwa manusia tidaklah sempurna dan harus selalu mengingat asal-usulnya. Manusia adalah makhluk yang lemah, karenanya tidak boleh sombong dan adigung adiguna (merasa paling kuat – red). Ketiga, Pande atau pandai besi, menyiratkan bahwa pesilat harus bisa melunakkan hati orang lain dengan adab, sebagaimana besi yang keras pun bisa dilelehkan. Lebih dahulu, lunakkan hati diri sendiri agar tidak keras kepala, dengan kata lain, harus bisa lemah lembut.

Lebih jauh, Kiai Hudi menjelaskan bahwa budaya talek Cimande memiliki tiga kelompok besar, yaitu Cimande Girang yang berlokasi di Talang, Bogor, dan inilah asal mula Tjimande Tari Kolot. Kedua, Cimande Hilir yang banyak tersebar di Karawang, serta Cimande Tengah yang tersebar di Banten dan Jakarta. Kelompok Cimande yang membawa pengaruh kuat dari ajaran Islam berasal dari Cimande Tengah, yaitu wilayah Banten dan Jakarta.

BACA JUGA:  Perkuat Pencegahan Narkoba, Polres Lebak Edukasi Pelajar SMAN 2 Malingping

“Budaya Cimande yang terakhir ini bernuansa Islam. Selain budaya, mereka memegang ajaran yang agama yang kokoh adalah selalu ingat Allah di mana pun kita berada dan iringi setiap kejahatan dengan kebaikan,” jelas Kiai Hudi, sambil menambahkan bahwa hubungan erat antara budaya dan agama harus tetap dalam koridor ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.

Saat ditanya mengenai makna pencak silat dalam konteks pertunjukan dan kehidupan sehari-hari, Kiai Hudi menjawab dengan bijak, “Pencak itu seni yang kita pertontonkan atau pertunjukan, sementara silat bersifat rahasia yang tidak bisa ditunjukkan sembarangan. Silat adalah beladiri, untuk menjaga diri dan orang lain.”

Ia juga menekankan dengan penuh keyakinan bahwa pencak silat tidak dapat menghidupkan orang yang telah mati, namun silat bisa menghidupkan hati yang mati menjadi hidup.

Silaturahmi TTKKBI di Cikeusik memang bukan sekadar pertemuan para pesilat. Ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali warisan leluhur yang tak ternilai, mempererat ikatan persaudaraan antarpesilat, serta menjaga nilai-nilai moral yang terkandung di dalam ajaran Tjimande. Di bawah naungan TTKKBI, budaya dan agama menyatu dalam harmoni, membentuk karakter pesilat yang rendah hati, beradab, dan senantiasa peduli terhadap sesama. (Red)

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Banten

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Banten

Gerakan Sembilan Desak Pemkab Lebak Tutup Batching Plant PT BCL dan PT Alin

Banten

Lari dari Proses Hukum, Kakak Ipar Pemerkosa Adik di Binuang Serang Jadi Buronan Polisi

Banten

Dua Polisi Gadungan di Malingping Culik dan Siksa Warga, Uang Jutaan Rupiah Turut Dirampas

BERITA TERBARU

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version