Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Saat Rapat Komisi X DPR RI Fadli Zon Ditegur Keras Terkait Pemerkosaan Tragedi ’98

Saat Rapat Komisi X DPR RI Fadli Zon Ditegur Keras Terkait Pemerkosaan Tragedi ’98

Berita Utama Kamis, 3 Juli 2025 0:23 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto ilustrasi: kemenpora.go.id

Advertisement

GazanaPublika.com, Jakarta — Rapat kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang digelar pada Rabu (2/7/2025), dilansir Kompas.com,  berubah menjadi forum yang penuh emosi dan tangis saat membahas salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah reformasi Indonesia: pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa pada kerusuhan Mei 1998.

Awalnya, rapat berlangsung normal hingga memasuki pembahasan tentang upaya pelurusan sejarah. Namun suasana berubah drastis ketika Fadli Zon mempertanyakan validitas penggunaan istilah “massal” dalam merujuk pada pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa saat tragedi tersebut.

Advertisement

Pernyataan Fadli itu memicu interupsi emosional dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati dari Fraksi PDI-P. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan bahwa sebagai saksi hidup yang berada di Jakarta saat tragedi terjadi, pernyataan Fadli sangat menyakitkan.

“(Mendengar) Pak Fadli Zon ini bicara, kenapa semakin sakit ya soal pemerkosaan. Mungkin sebaiknya tidak perlu di forum ini, Pak. Karena saya pas kejadian itu juga ada di Jakarta, sehingga saya tidak bisa pulang beberapa hari,” ujar My Esti dengan nada terbata.

Menurut Esti, penjelasan Fadli yang dianggap terlalu teoretis dan minim empati hanya memperburuk luka yang belum sepenuhnya sembuh, terutama bagi para penyintas maupun saksi tragedi tersebut. Ia menilai, sikap Fadli sebagai seorang menteri kebudayaan seharusnya lebih menunjukkan sensitivitas terhadap trauma korban.

BACA JUGA:  Roy Suryo dan Dokter Tifa Tidak Ditahan Kasus Ijazah Palsu, Jokowi: Kita Hormati Keputusan Kejaksaan

“Penjelasan Bapak yang sangat teoretis seperti ini… justru akan semakin menambah luka dalam. Ini bukan soal data dan teori saja, Pak. Ini soal luka bangsa,” tambahnya sebelum akhirnya terdiam karena emosinya tak tertahan.

Ketegangan semakin memuncak ketika anggota Komisi X lainnya, Mercy Chriesty Barends, juga dari Fraksi PDI-P, turut menyampaikan kekecewaannya sambil menangis. Mercy yang selama ini dikenal aktif dalam pendokumentasian kekerasan terhadap perempuan, menegaskan bahwa negara tidak boleh terus-menerus abai terhadap pengakuan sejarah.

“Pak, saya ingin kita mengingat sejarah kasus Tribunal Court Jugun Ianfu. Pemerintah Jepang saja bisa minta maaf. Kenapa kita, negara sendiri, begitu berat mengakui?” katanya dengan suara serak.

Mercy menuturkan bahwa dirinya ikut langsung mendata testimoni para korban, dalam situasi yang mencekam selepas reformasi. Menurutnya, banyak testimoni yang berasal dari etnis yang sama—Tionghoa—dan semua menunjukkan pola kekerasan seksual yang masif dan terstruktur.

“Ini kalau saya bicara, ini kita sakit, Pak. Testimoni itu kami bawa dalam desingan peluru, dalam ketakutan luar biasa. Lebih dari satu kasus saja sudah sangat tidak manusiawi,” ujarnya penuh tekanan emosional.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, mencoba meredakan ketegangan dengan menjelaskan bahwa Fadli Zon sebenarnya tidak menyangkal adanya kasus pemerkosaan, tetapi mempertanyakan diksi ‘massal’.

BACA JUGA:  Pemerintah Pastikan Guru Honorer Tetap Mengajar, Tak Ada PHK Massal Setelah 2026

Namun klarifikasi tersebut tidak cukup untuk meredam gelombang emosi. Ketika diberi waktu untuk merespons, Fadli Zon pun akhirnya menyampaikan permintaan maaf bila ucapannya dianggap tidak sensitif.

“Saya minta maaf jika dianggap tidak sensitif. Tapi saya, sekali lagi, dalam posisi yang mengutuk dan mengecam peristiwa itu juga. Tidak ada niat untuk mereduksi apalagi menyangkal,” ujar Fadli.

Meski demikian, Fadli tetap mempertahankan sikapnya mengenai pentingnya penggunaan diksi yang tepat dan berbasis dokumentasi yang akurat. Ia menegaskan bahwa penggunaan istilah “massal” memerlukan bukti yang sahih dan tidak bertentangan dengan prinsip pelurusan sejarah.

Namun sikap itu justru menuai kritik tajam dari berbagai pihak di luar DPR. Koalisi Masyarakat Sipil, yang selama ini mendampingi para korban, menyatakan bahwa keraguan terhadap istilah ‘massal’ justru berpotensi menyingkirkan kebenaran sejarah dan menyakiti kembali para korban yang masih hidup dalam trauma.

Koalisi mendesak Fadli Zon untuk secara terbuka meminta maaf dan menghentikan apa yang mereka sebut sebagai upaya “penulisan ulang sejarah” yang cenderung melanggengkan pengingkaran negara terhadap tragedi kemanusiaan.

Tragedi Mei 1998 yang menyebabkan ratusan korban jiwa dan banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan—khususnya dari etnis Tionghoa—masih menjadi luka yang belum sembuh dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Data dari berbagai LSM dan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kekerasan tersebut berlangsung dalam skala luas dan sistematis.

Advertisement

DPR Pemerkosaan Tragedi
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

KPK Jawab Desakan Mahfud MD Terkait Kasus Febrie

Nasional

Habib Rizieq Kritik Mahfud MD Soal Sikapnya Plin-Plan

Nasional

Seleksi CPNS 2026 Disiapkan, Pemerintah Petakan Kebutuhan dan Anggaran

Nasional

Resmi Mendaftar ke Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Besutan Eks Jubir Anies Bersiap Menuju Pemilu 2029

BERITA TERBARU

Ketua DPD GRANAT Banten Kecam Dugaan Keterlibatan Kasat Narkoba Polres Tangsel dalam Kasus Narkotika

Diskominfo Kabupaten Serang Sosialisasikan Alur Pelayanan Digital Terpadu di Kramatwatu

Warga Kp. Sitoko Gelar Swadaya Cor Jalan, Minta Perhatian Pemkab Lebak & Pemprov Banten

Pembangunan Rumah Ratusan Juta di Baleendah Disorot, Status Kepemilikan Lahan Diragukan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.