Advertisement
GazanaPublika.com – Situasi politik Korea Selatan kembali bergejolak. Rabu dini hari (15/1/2025), upaya penyidik dari Kantor Investigasi Korupsi (CIO) untuk menangkap Presiden Yoon Suk Yeol, yang tengah diskors dan dalam proses pemakzulan, berujung bentrokan dengan pengawal presiden di kediaman resminya.
Yoon Suk Yeol, mantan jaksa yang kini menghadapi pemakzulan akibat perintah darurat militer kontroversialnya pada Desember lalu, menjadi sorotan internasional. Jika penangkapan ini berhasil, ia akan menjadi presiden pertama yang ditangkap saat masih menjabat dalam sejarah Korea Selatan.
Advertisement
Bentrokan di Kediaman Presiden
Penyidik CIO bersama polisi tiba di kediaman Yoon dengan membawa surat perintah penangkapan. Namun, mereka dihalangi oleh pengawal presiden dan sekelompok orang tak dikenal yang berjaga di gerbang masuk. Adu fisik pun terjadi saat kedua kubu saling dorong.
“Saat ini, pelaksanaan surat perintah penangkapan Presiden Yoon telah dimulai,” tegas Choi Sang-mok, penjabat Presiden Korea Selatan. “Ini adalah ujian penting bagi supremasi hukum di negara ini.”
Dalam insiden tersebut, setidaknya satu orang dilaporkan terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Para penyidik bahkan mencoba memasuki kediaman melalui jalur alternatif, namun pengamanan yang ketat, termasuk kawat berduri, barikade, dan penghalang bus polisi, membuat akses menjadi sulit.
Protes dari Pendukung Presiden
Ribuan pendukung Yoon berkumpul di luar kediamannya sambil membawa bendera Korea Selatan dan Amerika Serikat, meneriakkan “surat perintah ilegal!” Sebanyak 30 anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat, partai yang mendukung Yoon, turut hadir untuk memblokir penyidik.
Sementara itu, pengawal presiden dilaporkan meningkatkan keamanan dengan memasang kawat berduri dan mengubah kediaman resmi menjadi “benteng.” Meski demikian, polisi yang terlibat operasi ini hanya mengenakan rompi antipeluru dan tidak membawa senjata api demi menghindari eskalasi.
Sidang Pemakzulan Tetap Berjalan
Di sisi lain, proses pemakzulan terhadap Yoon telah dimulai. Meski Yoon tidak hadir dalam sidang perdana yang digelar Selasa (14/1/2025), pengadilan menyatakan persidangan akan terus berjalan. Sidang berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Kamis mendatang.
Dengan situasi politik yang kian memanas, perhatian publik kini tertuju pada kelanjutan upaya penangkapan dan hasil persidangan pemakzulan yang dapat menentukan masa depan kepemimpinan Korea Selatan.
Advertisement
