Advertisement
GazanaPublika.com, Cirebon – Kawasan pertambangan Gunung Kuda di Desa Bobos, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kembali menelan korban. Sebuah bencana longsor besar terjadi pada Jumat, 30 Mei 2025, menimbun puluhan kendaraan dan pekerja tambang di bawah timbunan material batu dan tanah. Dugaan sementara menyebutkan bahwa sedikitnya 20 orang menjadi korban jiwa dalam insiden tragis ini.
Dalam sejumlah video yang beredar luas di media sosial, situasi di lokasi kejadian tampak mencekam. Puluhan truk pengangkut material batu terlihat terjebak di area longsor, yang dipenuhi bongkahan batu besar, kepulan debu, dan asap tebal. Di tengah kepanikan, terdengar suara jeritan dan perintah evakuasi dari para pekerja dan warga sekitar.
Advertisement
Salah satu video yang diunggah oleh akun Komunitas Orang Cirebon (KOCI) memperlihatkan kondisi dramatis sesaat setelah longsor terjadi. Asap putih pekat mengepul dari lereng Gunung Kuda yang ambrol, sementara para pekerja tambang dan warga yang selamat berlarian menyelamatkan diri, berusaha menolong rekan-rekan mereka yang masih terperangkap.
“Gunung Kuda Bobos berduka lagi,” tulis akun KOCI dalam unggahan video yang menggambarkan kepanikan dan kesedihan di lokasi kejadian.
Peristiwa ini menambah catatan kelam bagi kawasan tambang Gunung Kuda, yang selama ini memang dikenal sebagai area eksploitasi batuan dengan risiko geologis tinggi. Longsor bukanlah hal baru di kawasan ini, namun intensitas aktivitas tambang yang terus berjalan seolah mengabaikan potensi bencana yang mengintai.
Tim SAR gabungan bersama aparat kepolisian dan BPBD Cirebon telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan proses evakuasi dan pencarian korban. Alat-alat berat dikerahkan, meski medan curam dan kondisi tanah yang labil menyulitkan upaya pencarian.
Menurut informasi sementara dari petugas di lapangan, sudah ditemukan sedikitnya 7 jenazah korban yang tertimbun material longsor. Namun jumlah korban diperkirakan lebih banyak. Dugaan awal menyebutkan bahwa hingga 20 orang masih belum ditemukan dan kemungkinan besar masih berada di bawah timbunan longsoran.
“Evakuasi sangat sulit karena kondisi medan berbahaya, banyak batu besar dan tanah yang masih labil. Tapi kami terus berusaha maksimal,” ujar salah satu anggota tim penyelamat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah atau instansi terkait mengenai jumlah pasti korban maupun penyebab pasti longsor. Namun kuat dugaan bahwa intensitas kegiatan tambang serta kondisi geologi yang tidak stabil menjadi pemicu utama bencana ini.
Masyarakat sekitar Gunung Kuda kini diliputi duka dan kecemasan. Suara sirene ambulans dan mesin alat berat masih terdengar bersahutan, sementara keluarga para korban tampak menanti dengan penuh harap dan tangis di posko darurat yang didirikan di dekat lokasi.
Tragedi ini menjadi peringatan keras atas bahaya laten aktivitas pertambangan yang tidak disertai dengan kajian risiko geologi yang memadai. Banyak pihak kini mendesak agar dilakukan evaluasi total terhadap izin dan operasional pertambangan di Gunung Kuda, agar nyawa manusia tidak kembali menjadi tumbal.
Advertisement
