Advertisement
GazanaPublika.com, Bali – Suasana di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, mendadak memanas pada Sabtu dini hari (13/7/2025), ketika mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, meluapkan kemarahannya atas keterlambatan penerbangan Super Air Jet yang berjam-jam lamanya tanpa penjelasan teknis yang memadai. Kekecewaan tak hanya datang dari RK, sapaan akrabnya, tetapi juga dari puluhan penumpang lain yang merasa ditelantarkan di tengah malam dengan fasilitas bandara yang sudah tak berfungsi.
Dalam sebuah video yang viral di media sosial, khususnya TikTok, Ridwan Kamil tampak berdiri di hadapan seorang petugas bandara, menuntut penjelasan atas keterlambatan keberangkatan pesawat yang mereka tumpangi. Menurut informasi, penundaan terjadi karena adanya proyek pengaspalan di kawasan landasan Bandara Ngurah Rai yang menyebabkan beberapa penerbangan tidak mendapat izin lepas landas.
Advertisement
“Kami punya hak sebagai yang bayar … saya mau bicara langsung ke pengambil keputusan. Ya telepon, biar saya dengar langsung,” ucap Ridwan Kamil tegas kepada petugas bandara.
Namun, permintaannya tidak langsung ditanggapi. Petugas yang berdiri di hadapan Ridwan hanya mencoba menenangkan situasi tanpa memberikan jawaban substansial. Ketegangan pun meningkat seiring waktu berjalan, dan para penumpang mulai menunjukkan rasa frustrasi mereka. Beberapa mengeluh bahwa udara di ruang tunggu bandara sudah pengap karena pendingin udara dimatikan sejak pukul 2 dini hari.
“Sudah setengah tiga. AC juga udah mati,” terdengar suara salah satu penumpang di antara kerumunan.
Petugas bandara akhirnya menjelaskan bahwa mereka telah melakukan koordinasi dengan pihak maskapai, dan menurut prosedur, urusan dengan penumpang menjadi tanggung jawab maskapai penerbangan. Namun, penjelasan ini justru memperburuk suasana. Para penumpang bersikeras bahwa keberangkatan pesawat tetap memerlukan izin dari pihak bandara, sehingga tidak masuk akal jika bandara melepaskan tanggung jawab sepenuhnya.
Ridwan Kamil kemudian mengalihkan kritiknya kepada perwakilan maskapai Super Air Jet yang turut hadir di lokasi. Ia mendesak agar perwakilan maskapai itu segera menghubungi atasan atau otoritas teknis yang bisa memberikan keputusan langsung, termasuk kapten pesawat atau direktur operasional maskapai.
“Kesimpulannya, pihak bandara maupun airlines tidak solutif. Karena Anda berdua bukan pengambil keputusan, Anda hanya kurir, menyampaikan pesan orang,” ujar RK, dengan nada kecewa.
Ia melanjutkan bahwa dalam situasi krisis seperti ini, publik membutuhkan kejelasan dan komunikasi langsung dari pihak yang berwenang, bukan sekadar perwakilan yang tidak mampu memberikan keputusan tegas.
“Kami ingin dengar dari pengambil keputusan yang teknis, namanya direktur terminal untuk bandara, dan dari pihak airlines itu kapten pesawat. Itu dua pihak yang bisa memberi penjelasan logis dan bertanggung jawab,” ucapnya lantang.
Sayangnya, baik dari pihak bandara maupun maskapai tidak ada sosok yang bersedia atau dapat dihubungi langsung untuk merespons permintaan RK dan penumpang lain malam itu. Situasi pun berakhir tanpa solusi pasti, sementara waktu terus berjalan hingga mendekati subuh.
CNNIndonesia.com telah berupaya menghubungi pihak Humas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Humas Lion Air selaku induk dari maskapai Super Air Jet untuk meminta tanggapan resmi. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada respons yang diberikan.
Kejadian ini menyoroti pentingnya transparansi dan respons cepat dari otoritas bandara serta maskapai dalam menghadapi situasi darurat atau gangguan operasional, terutama ketika melibatkan kenyamanan dan hak penumpang. Terlebih lagi jika di antara penumpang terdapat tokoh publik seperti Ridwan Kamil, yang keberadaannya bisa menarik perhatian nasional terhadap kualitas layanan bandara dan maskapai penerbangan. ***
Advertisement
