Advertisement
“Belajar mental untuk menghacurkan kekerasan hati seseorang” – AOA
GazanaPublika.com, Sebagian manusia memiliki hati yang keras, sifat yang tumbuh seiring perkembangan watak sejak kecil. Mungkin hanya segelintir orang yang dianugerahi hati lembut, dan bisa jadi itu pun merupakan bawaan sejak masa kanak-kanak—sebagaimana kekerasan hati juga sering kali berasal dari pola asuh dan pengalaman awal hidup.
Advertisement
Yang dimaksud dengan keras hati adalah sikap seseorang yang sulit menerima kebenaran maupun nasihat dari orang lain. Bahkan, pada tingkat tertentu, sikap ini dikenal dengan istilah “kepala batu”—meski hanya sebagai ungkapan. Orang dengan hati keras cenderung menolak ketika dinasihati, dan merasa lebih tahu meski ditunjukkan jalan yang baik. Kekerasan hati seperti inilah yang menjadi akar tumbuhnya ego. Oleh karena itu, sifat ini termasuk watak yang sangat penting untuk diubah.
Biasanya, orang dengan hati keras merasa dirinya sudah sempurna—baik dari segi kebenaran maupun kebaikan. Akibatnya, hati mereka tertutup terhadap masukan atau koreksi dari siapa pun.
Lalu, bagaimana cara mengubah watak semacam ini? Semua perubahan harus dimulai dari diri sendiri, yakni dengan meningkatkan kesadaran nafsiyah (kesadaran diri terhadap hawa nafsu) dan kesadaran ruhiyah (kesadaran spiritual). Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan belajar mental.
Apa itu belajar mental? Belajar mental adalah kemampuan untuk menerima sesuatu yang bertentangan dengan watak atau kecenderungan diri kita sendiri. Misalnya, jika kita merasa memiliki harga diri yang tinggi, maka tantanglah diri untuk membongkar perasaan itu. Jika kita merasa lebih mulia atau lebih tinggi derajatnya dari orang lain, maka latihlah diri untuk bersedia menerima hinaan—meskipun tentu bukan berarti kita harus sengaja mencari penghinaan.
Hal-hal yang bertolak belakang dengan watak kita ini justru dapat mengasah ketajaman batin, hingga akhirnya melunakkan hati. Namun, itu hanya mungkin terjadi bila diawali dengan kesadaran yang tinggi—bahwa kita benar-benar ingin berubah dan membersihkan diri dari sifat-sifat buruk yang masih melekat.
Segala perubahan sejati datang dari dalam diri. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kita, selain diri kita sendiri.
Advertisement
