Advertisement
GazanaPublika.com – Apakah kita bangga ketika membangun narasi bahwa kita dijajah 350 tahun ataukah mulai saat ini kita anulir pandangan seperti itu dengan sebuah pandangan yang lebih baru berdasarkan bukti-bukti sejarah. Sebagai pemerhati sejarah saya merasa itu terlalu bodoh ketika kita mempercayai dijajah selama 350 tahun dan saya tidak mau disebut bangsa yang terlalu bodoh.
Dalam beberapa konteks, pendekatan “350 tahun nusantara terjajah” telah digunakan untuk mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan Jepang, terutama menjelang dan sesudah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Namun, pemahaman yang lebih mendalam menunjukkan bahwa hubungan antara VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) dan kerajaan-kerajaan Nusantara tidak selalu sejalan dengan narasi klasik penjajahan.
Advertisement
Hubungan perdagangan antara VOC dan kerajaan-kerajaan Nusantara pada awalnya bersifat saling menguntungkan, dan seringkali dipelihara dengan perjanjian dan kesepakatan dagang. Namun, seiring berjalannya waktu, VOC mulai mengkonsolidasikan kekuasaannya di wilayah Nusantara dengan mengadopsi berbagai strategi, termasuk intervensi militer dan pembentukan perjanjian yang merugikan bagi pihak lokal.
Perlawanan terhadap kekuasaan VOC memang terjadi, bahkan jika motifnya awalnya lebih terkait dengan kepentingan dagang daripada semangat nasionalisme. Namun demikian, perlawanan ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara tidak pasif dalam menghadapi penindasan, bahkan jika hal itu dilakukan atas nama perdagangan.
Selain itu, setelah kekuasaan Inggris dipindahkan kepada Belanda pada akhir abad ke-18, penjajahan di Nusantara semakin sistematis dengan penerapan politik kolonial yang lebih terstruktur, termasuk sistem tanam paksa dan eksploitasi sumber daya alam yang massif.
Oleh karena itu, penting untuk menyampaikan narasi yang lebih kompleks tentang masa penjajahan, yang tidak hanya mencakup dimensi perdagangan dan interaksi budaya, tetapi juga realitas penderitaan dan perlawanan yang dialami oleh masyarakat lokal. Ini akan membantu membangun pemahaman yang lebih akurat tentang sejarah bangsa Indonesia, serta menginspirasi semangat untuk terus berjuang melawan penindasan dalam segala bentuknya, baik di masa lalu maupun masa kini.
Terdapat sedikit kesalahan dalam perhitungan waktu penjajahan Belanda. Jika dimulai dari tahun 1816 hingga 1945, waktu penjajahan tersebut sebenarnya hanya sekitar 129 tahun. Namun, penting untuk memahami bahwa periode penjajahan Belanda di Nusantara, terutama pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, memiliki dampak yang mendalam terhadap perkembangan sejarah Indonesia.
Selama masa penjajahan Belanda, terutama setelah kerajaan Belanda mengambil alih kendali dari Inggris pada tahun 1816, penerapan sistem kolonial cenderung otoriter dan militeristik. Kebijakan-kebijakan yang diberlakukan oleh para gubernur-jenderal Belanda, seperti Herman Willem Daendels, mencerminkan pendekatan yang drastis, termasuk reformasi administratif yang meliputi pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan sistem transportasi. Namun, seringkali penerapan kebijakan tersebut bersifat otoriter dan memaksa.
Pemerintahan kolonial Belanda di Hindia Belanda bertujuan untuk menguasai secara total wilayah-wilayah Nusantara, baik dari segi politik, ekonomi, maupun budaya. Mereka menggunakan kekuatan militer dan sistem administratif yang kuat untuk memperkuat kendali mereka atas wilayah tersebut, meskipun seringkali dengan mengorbankan hak asasi manusia dan kebutuhan masyarakat lokal.
Meskipun durasi penjajahan yang sebenarnya lebih singkat dari yang diperkirakan, perlu diakui bahwa masa penjajahan Belanda memberikan dampak yang besar terhadap sejarah dan perkembangan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia.
Pemerintahan Daendels sendiri tidak termasuk dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda, tetapi berada di bawah kendali kerajaan Prancis melalui adiknya, Napoleon Bonaparte. Oleh karena itu, kekuasaan Belanda di Nusantara secara sistematis dimulai sejak tahun 1816, membawa konsekuensi besar bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Penulis:
Dzad Aquadza
Advertisement
