Advertisement
GazanaPublika.com – Sejarah Nusantara, seperti yang tercatat dalam berbagai prasasti kuno, adalah jendela berharga ke masa lampau yang memungkinkan kita memahami beragamnya peradaban di wilayah ini. Namun, keberadaan prasasti-prasasti ini sering kali disertai dengan kompleksitas dan kontroversi yang muncul dari campur tangan sejumlah sejarawan. Beberapa di antaranya cenderung memberikan interpretasi berlebihan terhadap bukti heuristik yang tersedia, sementara catatan sejarahnya seringkali tidak jelas sumbernya. Misalnya, prasasti-prasasti dari Naskah Wangsarerta masih menjadi subjek perdebatan, terutama mengenai eksistensi Salakanagara yang konon legendaris.
Tidak hanya itu, beberapa catatan sejarah seperti kerajaan Galuh mengenai Wretikendayun, Sana-Sanaha, Sempakwaja, dan Mandi Minyak, dan lain-lain atau cerita-cerita tentang Kerajaan Kendan, sering kali mencampurkan fakta dengan interpretasi yang kurang berdasar. Beberapa sejarawan, dalam upaya untuk menafsirkan fakta sejarah, terkadang melampaui bukti yang ada, bahkan hingga membuat cerita yang tidak didasarkan pada prasasti yang tersedia mirip cerpen atau novel.
Advertisement
Sebagaimana diketahui, bukti yang ada, catatan di prasasti tidak panjang lebar menjelaskan sesuatu, baik soal raja mapun kerajaannya, hanya teks-teks yang penting yang diukir di dalam prasasti. Sejarawan berharap catatannya panjang lebar tetapi forensik sejarah tidak menunjukan seperti itu.
Apabila ditelisik, masih banyak fakta-fakta sejarah yang ‘kotor’ yang diuraikan dalam tulisan-tulisan sejarah, padahal fakta tersebut tidak pernah ada catatannya. Boleh saja berinterpretasi, tetapi tidak boleh berlebihan, hanya dalam interpretasi yang wajar, misalnya kisah seorang raja yang merasa dirinya sebagai titisan Dewa Wisnu, yang bisa disimpulkan sebagai indikasi kecenderungan Hinduisme pada masa tersebut.
Oleh karena itu, secara ideal, sejarah kuno hanya bisa mengacu pada teks prasasti, naskah kuno yang sezaman dan terverifikasi, baik itu naskah lokal maupun dari kerajaan tetangga yang berdekatan karena adanya hubungan perdagangan dan lainnya.
Fenomena seperti ini seolah menegaskan adanya fakta konspirasi, sebagaimana situasi saat ini dimana sebagian orang sedang menyoroti kebenradaan ‘teori konspirasi’. Teori Konspirasi ini sedang banyak diperbincangkan. Sebagaimana hal ini terlihat dalam klaim sepihak tentang nashab Ba’alawi, dan juga sedang menjadi trending topik di public dalam dua tahun terakhir.
Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya pendekatan kritis terhadap sejarah dan pemahaman mendalam terhadap bukti-bukti yang tersedia. Hanya dengan metodologi yang kuat, bukti heuristik, dan kritisisme, kita dapat memisahkan fakta sejarah yang solid dari spekulasi sejumlah sejarawan yang kurang berdasar.
Mengenai keberadaan prasasti, tulisan ini ingin menyuguhkan sejumlah prasasti yang tercatat di Indonesia, setidaknya ada 46 buah. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana menghubungkan informasi yang tersebar ini untuk membentuk narasi sejarah yang utuh. Setiap prasasti memberikan gambaran yang berharga tentang kehidupan sosial, politik, dan keagamaan pada masa lampau di Nusantara, mencerminkan kekayaan budaya dan kompleksitas sejarah yang perlu dipahami dengan mendalam.
Berikut nama-nama prasasti tersebut:
- Prasasti Vo Canh (abad ke-3): Merupakan salah satu bukti awal penggunaan bahasa Sanskerta di wilayah Champa, Vietnam, yang menunjukkan hubungan perdagangan dan budaya dengan India, bukan prasasti luar tetapi catatan asing mengenai keberadaan aktifitas perdagangan masyarakat nusantara.
- Prasasti Mulawarman (~ 400 M): Ditemukan di Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur, mencatat keberadaan Raja Mulawarman dan kemakmuran kerajaannya.
- Prasasti Kebon Kopi I (~ 400 M): Terletak di Ciampea, Bogor, dengan gambar kaki gajah yang menggambarkan pengaruh Hindu-Buddha pada masa itu.
- Prasasti Tugu (abad ke-5): Menyebutkan pembangunan saluran air oleh Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara di Bekasi, Jawa Barat.
- Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul (abad ke-5): Ditemukan di Desa Lebak, Pandeglang, Banten, mengenai kekuasaan Raja Purnawarman dan aktivitas kerajaannya.
- Prasasti Ciaruteun: Terletak di Ciampea, Bogor, dengan informasi yang masih terbatas tentang kerajaan atau kegiatan di daerah tersebut.
- Prasasti Muara Cianten atau Prasasti Pasir Muara (536 M): Mencatat aktivitas pemerintahan dan keagamaan di Kerajaan Tarumanegara di Bogor.
- Prasasti Jambu (abad ke-5): Berhubungan dengan pujian terhadap Dewa Wisnu dan kemungkinan keterlibatan Raja Purnawarman dari Tarumanegara.
- Prasasti Pasir Awi atau Prasasti Ciampea: Ditemukan di Citeureup, Bogor, mencatat aktivitas administratif atau keagamaan di wilayah tersebut.
- Prasasti Tukmas (~ 500 M): Memuat teks pujian kepada dewa-dewa Hindu dan mungkin terkait dengan persembahan atau upacara keagamaan.
- Prasasti Canggal (732 M): Terletak di Candi Gunung Wukir, Magelang, Jawa Tengah, yang mencatat peristiwa penting dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno, seperti peresmian berdirinya Candi Gunung Wukir.
- Prasasti Ligor (775 M): Ditemukan di Nakhon Si Thammarat, Thailand selatan, yang menggambarkan pengaruh budaya dan agama dari Kerajaan Sriwijaya di wilayah tersebut.
- Prasasti Kalasan (778 M): Mencatat pembangunan Candi Kalasan oleh Rakai Panangkaran sebagai tempat persembahan untuk Dewi Tara.
- Prasasti Mañjuçrighra (792 M): Terletak di Candi Sewu, Prambanan, yang mencatat pembangunan kuil oleh Rakai Pikatan, salah satu raja dari Wangsa Sanjaya.
- Prasasti Candi Cebongan (abad ke-9): Mencatat donasi tanah untuk pembangunan Candi Cebongan di Sleman, Yogyakarta, menunjukkan perkembangan agama Buddha Mahayana di Jawa.
- Prasasti Kayumwungan (824 M): Prasasti dwibahasa (Sanskerta dan Jawa Kuno) yang mencatat pemberian tanah oleh Rakai Watuhumalang untuk pembangunan candi atau upacara keagamaan.
- Prasasti Tri Tepusan (842 M): Terletak di Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, yang mungkin terkait dengan kegiatan keagamaan atau pemberian tanah untuk pengembangan wilayah.
- Prasasti Wukiran (862 M): Mengandung informasi tentang pembangunan bangunan suci di kompleks Prambanan, menunjukkan kemakmuran dan keagamaan pada masa itu.
- Prasasti Salimar I (880 M): Terletak di Jawa Tengah, mencatat pemberian tanah untuk kepentingan keagamaan yang menunjukkan dukungan terhadap agama pada masa itu.
- Prasasti Sang Pamgat Swang I (881 M): Dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Medang Mataram, menggambarkan kemegahan dan kekuasaan raja pada saat itu.
- Prasasti Blanjong (913 M): Ditemukan di Sanur, Bali, prasasti dwibahasa (Sanskerta dan Bali Kuno) yang mencatat tentang pendirian lingga, menunjukkan pengaruh agama Hindu di Bali.
- Prasasti Lintakan (919 M): Ditemukan di Jawa Timur, yang berhubungan dengan aktivitas keagamaan atau administratif di daerah tersebut.
- Prasasti Sangguran (982 M): Mencatat pemberian tanah untuk kepentingan keagamaan di Malang, Jawa Timur, menunjukkan dukungan terhadap praktek keagamaan pada saat itu.
- Prasasti Pucangan (abad ke-11): Prasasti dwibahasa (Sanskerta dan Jawa Kuno) dari Gunung Penanggungan, Mojokerto, yang mencatat peristiwa sejarah atau pemberian tanah untuk kepentingan keagamaan.
- Prasasti Padang Roco (1286 M): Prasasti dwibahasa (Sanskerta dan Melayu Kuno) dari Dharmasraya, Sumatera Barat, yang menggambarkan kegiatan upacara keagamaan atau administratif.
- Prasasti Wurare (1289 M): Mencatat pemberian tanah untuk kepentingan keagamaan di Trowulan, Mojokerto, menunjukkan dukungan terhadap praktek keagamaan pada masa itu.
- Prasasti Pasir Panjang: Ditemukan di Karimun, Kepulauan Riau, yang mungkin terkait dengan perdagangan atau aktivitas keagamaan di wilayah tersebut.
- Prasasti Singapura: Terletak di Singapura, mencatat aktivitas politik atau keagamaan di kawasan tersebut, menunjukkan pentingnya wilayah ini dalam sejarah perdagangan dan kebudayaan di Asia Tenggara.
- Prasasti Akarendra (1316 M): Prasasti dwibahasa (Sanskerta dan Melayu Kuno) dari Suruaso, Sumatera Barat, yang mencatat pemerintahan lokal dan aktivitas keagamaan.
- Prasasti Manjusri (1343 M): Ditemukan di Tumpang, Malang, yang mungkin berhubungan dengan pendirian bangunan suci atau upacara keagamaan di daerah tersebut.
- Prasasti Amoghapasa (1347 M): Mencatat pemberian tanah untuk kepentingan keagamaan di Dharmasraya, Sumatera Barat, menunjukkan dukungan terhadap praktek keagamaan pada masa itu.
- Prasasti Pagaruyung III (1347 M): Terletak di Tanah Datar, Sumatera Barat, yang mencatat aktivitas politik atau keagamaan di Pagaruyung, salah satu kerajaan besar di Sumatera pada masa itu.
- Prasasti Kusmala (1350 M): Ditemukan di Jawa Tengah, yang mungkin terkait dengan aktivitas administratif atau keagamaan di daerah tersebut.
- Prasasti Pagaruyung VIII (1369 M): Mencatat tentang kegiatan politik atau keagamaan di Tanah Datar, Sumatera Barat, yang menunjukkan struktur pemerintahan yang terorganisir.
- Prasasti Bukit Gombak (1356 M): Prasasti dwibahasa (Sanskerta dan Melayu Kuno) dari Pagaruyung, Sumatera Barat, yang berhubungan dengan pemberian tanah atau upacara keagamaan di wilayah tersebut.
- Prasasti Suruaso (1375 M): Prasasti dwibahasa (Sanskerta dan Melayu Kuno) dari Suruaso, Sumatera Barat, yang mengandung informasi tentang pemerintahan lokal.
- Prasasti Ambetra: Prasasti ini mencatat aktivitas keagamaan atau administratif di wilayah yang belum dapat dipastikan lokasinya secara spesifik.
- Prasasti Batusangkar: Ditemukan di Batusangkar, Sumatera Barat, yang mencatat kegiatan keagamaan atau politik di daerah tersebut pada abad ke-14.
- Prasasti Kuburajo: Terletak di Limo Kaum, Sumatera Barat, prasasti ini mengandung informasi yang belum seluruhnya dipahami mengenai konteks dan isinya.
- Prasasti Bulai (860 M): Ditemukan pada tahun 860 M, prasasti ini mencatat kegiatan keagamaan atau administratif yang mungkin terjadi pada masa itu.
- Prasasti Hara Hara (960 M): Mencatat peristiwa atau aktivitas keagamaan yang terjadi pada tahun 960 M, dengan konteks dan isi yang spesifik tergantung pada penemuan arkeologis.
- Prasasti Jurungan (882 M): Prasasti ini mengandung informasi mengenai kegiatan keagamaan atau administratif pada tahun 882 M, meskipun detailnya mungkin bervariasi tergantung pada interpretasi.
- Prasasti Kalimusan: Ditemukan di Malang, yang mencatat aktivitas keagamaan atau administratif di wilayah tersebut, menunjukkan pentingnya prasasti ini dalam konteks sejarah lokal.
- Prasasti Kedengan: Terletak di Bojonegoro, Jawa Timur, yang mungkin berhubungan dengan kegiatan administratif atau keagamaan pada masa lalu.
- Prasasti Kiringan (917 M): Mencatat peristiwa atau donasi untuk kegiatan keagamaan yang terjadi pada tahun 917 M, menunjukkan dukungan terhadap praktek keagamaan pada masa itu.
- Prasasti Landa: Prasasti ini mengandung informasi yang belum seluruhnya dipahami mengenai konteks dan isinya, dengan lokasi penemuan yang belum pasti.
Ada baiknya untuk memahami keaslian sejarah harus kembali ke sumber-sumber aslinya, salah satunya dengan dokumen teks prasasti tersebut
Advertisement
