Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Prabu Sri Jayabhupati Dalam Prasasti Sanghyang Tapak

Prabu Sri Jayabhupati Dalam Prasasti Sanghyang Tapak

Historika Jumat, 6 September 2024 20:00 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Prasasti nomor D96, salah satu dari empat prasasti batu Sanghyang Tapak yang disebut juga Prasasti Jayabupati atau Prasasti Cicatih (foto: Wikipedia)

Advertisement

GazanaPublika.com – Sejarah Kerajaan Sunda sering kali diwarnai dengan kisah-kisah dari cerita rakyat dan naskah babad seperti Carita Parahyangan. Naskah-naskah tersebut banyak menyajikan cerita yang tidak sepenuhnya bersesuaian dengan peristiwa sejarah yang sebenarnya, karena umumnya ditulis jauh setelah kejadian yang diceritakan terjadi. Hal ini menyebabkan validitas dari naskah-naskah tersebut sering kali diragukan, terutama jika dibandingkan dengan sumber-sumber sejarah yang lebih tua dan terverifikasi, seperti prasasti.

Salah satu prasasti yang penting untuk memahami sejarah Kerajaan Sunda adalah Prasasti Sanghyang Tapak, yang juga dikenal dengan nama Prasasti Sri Jayabhupati atau Prasasti Cicatih. Ditemukan di tepi Sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, prasasti ini diperkirakan berasal dari tahun 1030 Masehi (952 Saka) dan ditulis dalam aksara Kawi serta bahasa Kawi.

Advertisement

Prasasti Sanghyang Tapak terdiri dari empat batu prasasti yang masing-masing memuat informasi penting mengenai raja dan aturan kerajaan. Berikut adalah beberapa informasi kunci dari prasasti-prasasti tersebut:

– D 73: Memuat pernyataan resmi dari Raja Sunda, Maharaja Sri Jayabhupati, tentang pembuatan tanda tapak dan aturan di kawasan pemujaan Sanghyang Tapak.
– D 96: Mengatur tentang kawasan pemujaan dan melarang aktivitas menangkap ikan di sekitar kawasan tersebut.
– D 97: Menegaskan sumpah dari Raja Sunda dan penegakan hukum di wilayah tersebut.
– D 98: Merupakan piagam persumpahan raja yang memanggil kekuatan gaib dan dewa-dewa untuk menjaga dan melindungi peraturan yang ditetapkan.

Keberadaan prasasti ini menjadi sangat penting karena memberikan bukti sejarah yang lebih akurat dan jelas dibandingkan dengan naskah-naskah babad yang ditulis belakangan. Keberadaan dan isi dari Prasasti Sanghyang Tapak membantu memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai struktur pemerintahan dan hukum di Kerajaan Sunda pada masa itu, serta memberikan validitas sejarah yang lebih baik daripada cerita rakyat dan naskah babad.

Prasasti yang disebutkan (D 73, D 96, dan D 98) adalah Prasasti Sanghyang Tapak, yang ditemukan di daerah Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, di dekat aliran Sungai Cicatih. Prasasti ini terkait dengan Sri Jayabhupati, seorang raja dari Kerajaan Sunda.

Prabu Sri Jayabhupati

Sri Jayabhupati adalah salah satu raja yang memerintah Kerajaan Sunda pada awal abad ke-11 Masehi. Dalam prasasti, ia disebut dengan berbagai gelar, termasuk Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa yang menunjukkan kekuasaannya dan ketinggian statusnya sebagai penguasa.

BACA JUGA:  Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Prasasti-prasasti ini, khususnya Prasasti D 98, menunjukkan bahwa Sri Jayabhupati memiliki hubungan erat dengan agama Hindu, terutama dalam hal pemujaan kepada dewa-dewa Hindu seperti Siwa dan Durga. Prasasti-prasasti tersebut juga menegaskan kekuasaannya atas wilayah tersebut dan larangan untuk melakukan aktivitas tertentu (seperti menangkap ikan) di kawasan suci yang dianggap sebagai tempat pemujaan.

Berikut adalah alihaksara dan terjemahan dari tiga prasasti pertama menurut etnolog C.M. Pleyte:

Prasasti D 73:

O Swasti shakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri- ka diwasha nira prahajyan sunda ma-haraja shri jayabhupati jayamana- hen wisnumurtti samarawijaya shaka-labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-mottunggadewa, ma-

Terjemahan:

Selamat dan sejahtera. Pada tahun Saka 952, bulan Kartika pada hari ke-12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, Wuku Tambir. Pada hari ini Raja Kerajaan Sunda, Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, membuat tanda tapak di bagian timur Sanghyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabhupati, raja Kerajaan Sunda. Tidak ada seorang pun yang boleh melanggar aturan ini. Di bagian sungai ini tidak boleh menangkap ikan, di kawasan pemujaan Sanghyang Tapak dekat hulu sungai. Jauh hingga ke batas Sanghyang Tapak yang ditandai dua pohon besar. Demikianlah tulisan ini dibuat dan ditegakkan dengan sumpah kerajaan Sunda.

Prasasti D 96:

gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway denira shri jayabhupati prahajyan sunda. mwang tan hanani baryya baryya shila. irikang lwah tan pangalapa ikan sesini lwah. Makahingan sanghyang tapak wates kapujan i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak wates kapujan i wungkalagong kalih matangyan pinagawayaken pra-sasti pagepageh. mangmang sapatha.

Terjemahan:

Dibuat di tempat awal Sanghyang Tapak oleh Sri Jayabhupati, Raja Kerajaan Sunda. Tidak ada seorang pun yang boleh melanggar aturan ini. Di bagian sungai ini tidak boleh menangkap ikan, di kawasan pemujaan Sanghyang Tapak dekat hulu sungai. Jauh hingga ke batas Sanghyang Tapak yang ditandai dengan dua pohon besar. Demikianlah prasasti ini dibuat dan ditegakkan dengan sumpah.

BACA JUGA:  Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

Prasasti D 97:

sumpah denira prahajyan sunda. lwirnya nihan.

Terjemahan:

Sumpah dari Raja Sunda. Begitulah isinya.

Prasasti D 98:

O indah ta kita kamung hyang Hara Agasti purbba, Daksina, Paccima, Uttara, Agniya neritibayabya aicanya urddhadah rawi caci patalapawanahutasanapah bhayu akaca teja sanghyang maho-ratra saddhya yaksa raksa-sa picaca preta sura, Garuda, Graha, kinaramahoraga catwara lokapala Yama Baruna Kuwera bacawa mwang putra dewata Panca kucika nandicwara mahakala du-Rggadewi ananta surindra anakta hyang kalam- R tyu gana bhuta sang prasiddha mulu manarira umasukisarwwajanma ata regnyaken iking sa- patha samaya sumpah pamangmang ni lebu ni paduka haji sunda iriki ta kamung hyang kabeh. ………paka dya umalapa ikan….. i sanghyang tapak ya patyananta ya kamung hyang denta t patiya siwak kapalanya cucup etekna belah dadanya inum rahnya rantan ususnya wekasaken pranantika…………. …….i sanghyang kabeh tawat hana wwang baribari cila irikang lwah i Sanghyang tapak apan iwak pakan parnnahnya kapangguh i sanghyang….. ……maneh kaliliran Paknanya kateke dlaha ning dlaha……. …….paduka haji i sunda umade- makna kadarman……. ing samangkana wekaet Paduka haji i sunda sanggum nti ring kulit i kata kamanah ing kanang….. …… i sanghyang tapak makatepa lwah watesnya i hulu i sanghyang tapak i…… ……. i hilir mahingan i-rikang….. umpi ing wungkal gde kalih. Iwruhhanta kamung hyang kabeh //O//

Terjemahan:

Sungguh indah kamu sekalian Hiyang Siwa, Agas-Tya, Timur, Selatan, Barat, Utara, Tenggara, Barat-Daya, Barat-Laut, Timur-Laut, zenith, nadir, matahari, bulan, bumi, air, angin, api, sungai, kekuatan, angkasa, cahaya, malam, senja, yaksa, raksasa, pisaca (sebangsa peri), sura, garuda, buaya, Kinara (manusia burung), naga, keempat pelindung dunia, Yama, Baruna, Kuwera, Besawa dan putera Dewata Panca Kusika, lembu tunggangan Siwa, Mahakala, Dewi Durga, Ananta (Dewa Ular), Surin-Dra, putera Hiyang kalamercu, gana (makhluk setengah dewa), buta (sebangsa raksasa), para arwah. Semoga semua kekuatan gaib ini ikut membantu dan melindungi semua orang. Ketahuilah bahwa siapa saja yang melanggar aturan ini akan dihukum dengan cara yang mengerikan seperti otaknya disedot, darahnya diminum, ususnya dihancurkan, dan dada dibelah dua. Demikianlah sumpah ini dibuat untuk menjaga dan melindungi peraturan di Sanghyang Tapak.

Dikutip dari Wikipedia

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Historika

Mumi Dua Ribu Tahun, Tubuh Lady Dai Masih Tampak Segar

Historika

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

BERITA TERBARU

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version