Advertisement
GazanaPublika.com – Dalam sejarah dan budaya Indonesia, banyak situs arkeologi yang menyimpan jejak-jejak masa lalu yang penting, salah satunya adalah Arca Domas. Arca Domas merupakan kelompok artefak batu, berupa patung yang ditemukan di beberapa lokasi penting di Jawa Barat dan Banten, yang mengungkapkan banyak tentang tradisi spiritual dan sejarah masa Sunda Kuno. Keberadaan arca ini memberikan wawasan mendalam tentang praktik pemujaan leluhur dan perkembangan kepercayaan lokal pada masa Kerajaan Pajajaran.
Tiga situs utama yang dikenal sebagai tempat ditemukannya Arca Domas—Pemakaman Jerman, Megamendung (Bogor), Situs Balay Bogor , dan Cimarga Lebak (Banten) —menawarkan gambaran berharga mengenai tradisi dan kehidupan masyarakat Sunda pada masa lalu. Masing-masing situs ini tidak hanya memiliki karakteristik yang unik, tetapi juga mencerminkan transformasi makna dan fungsi yang terjadi seiring dengan perubahan sejarah dan budaya di wilayah tersebut.
Advertisement
Artikel ini akan membahas secara rinci setiap situs Arca Domas, termasuk latar belakang sejarah, karakteristik arca, dan peran mereka dalam tradisi spiritual Sunda Kuno. Dengan menggali lebih dalam ke dalam situs-situs ini, kita dapat memahami lebih baik bagaimana tradisi pemujaan leluhur dan kepercayaan lokal berkembang, serta bagaimana pengaruh eksternal seperti kolonialisme dan penjajahan mengubah makna dan fungsi situs-situs tersebut.
Berikut beberapa lokasi Arca Domas:
1. Situs Arca Domas di Megamendung
Terletak di Megamendung, Bogor, situs ini dikenal dengan nama Situs Makam Jerman atau Arca Domas Gadog. Lokasinya berada di bukit Pasir Muncang, yang kini menjadi bagian dari kompleks pemakaman tentara Nazi. Namun, jauh sebelum tanah ini menjadi tempat peristirahatan tentara Belanda dan Jepang, kawasan ini memiliki makna spiritual yang dalam bagi masyarakat Sunda Kuno.
Awalnya, situs ini merupakan tempat pemujaan leluhur pada masa Sunda Klasik. Bukti dari masa lalu ini mencakup 99 arca yang dulunya tersebar di area tersebut. Namun, kini hanya tersisa enam arca, yang dipindahkan pada tahun 2010 untuk alasan keamanan. Arca-arca ini mewakili bentuk arca Polinesia dengan desain minimalis dan pahatan sederhana, berbeda dari arca-arca Hindu-Buddha yang biasa ditemukan di daerah lain.
Arca-arca ini dulunya digunakan untuk memuja Hyang, sosok adikodrati yang dianggap lebih tinggi dari dewa-dewa Hindu dan Buddha. Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian, yang merupakan salah satu teks penting dalam kepercayaan Sunda Kuno, menyebutkan kedudukan Hyang di atas para dewa. Transformasi situs ini dari tempat pemujaan leluhur menjadi kompleks pemakaman Jerman mencerminkan perubahan signifikan dalam fungsi dan makna tempat ini seiring dengan datangnya pengaruh eksternal dan penjajahan.

2. Situs Arca Domas di Balay Bogor
Situs Arca Domas di Balay Bogor, yang terletak di kawasan Balai Kota Bogor atau Buitenzorg pada masa kolonial Belanda, merupakan contoh penting dari peninggalan masa Kerajaan Pajajaran. Situs ini menyimpan beberapa arca yang memiliki hubungan erat dengan tradisi spiritual masyarakat Sunda Kuno.
Peninggalan di sini sering dikaitkan dengan arca Polinesia karena kesederhanaan pahatan dan minimalisme figur manusia. Dalam penelitian yang dilakukan oleh arkeolog J.F.G. Brumund dan N.J. Krom, arca-arca ini dikategorikan sebagai arca tipe Pajajaran, yang juga dianggap sebagai arca Polinesia. Meskipun desainnya tampak sederhana, arca-arca ini memiliki makna spiritual yang mendalam, terutama sebagai media pemujaan leluhur.
Penelitian ini menyoroti pentingnya arca-arca ini dalam konteks spiritual dan budaya lokal. Kesederhanaan bentuknya tidak mengurangi nilai simbolisnya, yang melibatkan kepercayaan mendalam terhadap leluhur dan pemujaan roh-roh nenek moyang.

3. Situs Arca Domas di Cimarga, Lebak
Di Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, terletak situs Arca Domas yang juga penting dalam tradisi spiritual masyarakat Sunda Kuno. Arca-arca di situs ini, mirip dengan yang ditemukan di Megamendung dan Balay Bogor, menggambarkan figur manusia dengan detail minimalis. Arca-arca ini digunakan dalam praktik spiritual dan pemujaan leluhur oleh masyarakat Baduy.
Situs ini masih memegang nilai sakral bagi masyarakat Baduy, yang melihatnya sebagai bagian dari warisan leluhur dan tempat pemujaan kepada roh-roh nenek moyang. Arca-arca ini menunjukkan kesinambungan antara bentuk arca yang digunakan di wilayah Sunda Kuno dan praktik spiritual yang masih hidup di komunitas Baduy hingga saat ini.
Situs-situs Arca Domas di Megamendung, Balay Bogor, dan Cimarga Lebak menawarkan wawasan yang mendalam tentang tradisi pemujaan leluhur pada masa Kerajaan Pajajaran. Arca-arca di ketiga lokasi ini berbagi karakteristik arca Polinesia yang sederhana namun sarat makna spiritual, digunakan dalam ritual keagamaan yang memuja leluhur dan sosok Hyang dalam kepercayaan lokal Sunda.
Transformasi fungsi dan makna situs-situs ini mencerminkan perubahan sejarah dan budaya yang dialami wilayah tersebut, dari pemujaan leluhur dalam masa Sunda Kuno hingga pengaruh kolonialisme dan penjajahan Jepang. Walaupun dalam konteks yang berbeda, ketiga situs ini tetap memperlihatkan pentingnya Arca Domas sebagai jejak sejarah yang berharga dan simbol tradisi pemujaan leluhur yang berkembang di wilayah Sunda.
Advertisement
