Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Jakarta dari Masa ke Masa – Masa Awal

Jakarta dari Masa ke Masa – Masa Awal

Historika Senin, 7 Oktober 2024 5:31 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Ilustrasi - Armada Fatahillah, pendiri Jayakarta

Advertisement

GazanaPublika.com – Sejarah berdirinya Batavia merupakan salah satu bagian penting dari perjalanan panjang wilayah yang kini dikenal sebagai Jakarta. Kota ini tidak langsung muncul dalam bentuknya yang modern, tetapi berkembang dari sebuah pelabuhan kecil yang menjadi pusat perdagangan hingga berubah menjadi ibu kota kolonial yang besar dan berpengaruh. Dengan latar belakang kerajaan-kerajaan lokal, penaklukan, serta campur tangan asing, Batavia membawa cerita tentang perjuangan, perdagangan, dan kekuasaan yang saling bertautan.

Berikut adalah perjalanan singkat dari Sunda Kelapa hingga menjadi Batavia:

Advertisement

1. Sunda Kelapa (Abad ke-12 hingga 1527)

Sunda Kelapa adalah pelabuhan utama Kerajaan Sunda yang makmur dan memiliki hubungan dagang dengan berbagai negara, termasuk Tiongkok, India, dan bangsa-bangsa di Eropa. Pada abad ke-12 hingga ke-16, pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan lada dan barang-barang lainnya yang diekspor dari pedalaman Sunda ke luar negeri. Sunda Kelapa berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda dengan ibu kotanya di Pakuan (Bogor), hingga tahun 1527.

2. Penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah (1527)

Pada tahun 1527, pasukan dari Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah (atau Faletehan) berhasil merebut Sunda Kelapa dari pengaruh Portugis dan Kerajaan Sunda. Penaklukan ini dilakukan untuk menghalangi Portugis yang bersekutu dengan Kerajaan Sunda. Setelah merebut Sunda Kelapa, Fatahillah mengganti nama pelabuhan tersebut menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan yang sempurna”. Jayakarta kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Banten.

BACA JUGA:  Lada 'Black Gold', Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

3. Kedatangan VOC dan Perebutan Jayakarta (1619)

Pada awal abad ke-17, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda mulai menaruh perhatian pada Jayakarta karena letak strategisnya. VOC awalnya mengadakan perjanjian dengan Pangeran Jayakarta, penguasa lokal, untuk mendirikan pos perdagangan di kota tersebut. Namun, hubungan antara VOC dan Kesultanan Banten yang berkuasa atas Jayakarta memburuk.

Pada 1619, VOC di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen menyerang dan menghancurkan Jayakarta. Setelah berhasil menguasai kota tersebut, Coen membangun benteng baru di atas reruntuhan Jayakarta dan menamakan kota itu Batavia, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur orang Belanda, suku Batavi. Batavia kemudian menjadi pusat administrasi dan perdagangan VOC di Hindia Timur.

4. Batavia sebagai Pusat Pemerintahan Kolonial (1619-1942)

Sejak didirikan pada 1619, Batavia berkembang pesat menjadi pusat perdagangan internasional, terutama dalam komoditas rempah-rempah. VOC mendirikan berbagai infrastruktur penting seperti kanal-kanal, benteng, dan gedung-gedung pemerintahan di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Kota ini ditata ulang dengan gaya Eropa yang berpadu dengan unsur lokal.

BACA JUGA:  Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Namun, Batavia juga dikenal dengan kondisi sanitasi yang buruk, yang menyebabkan kota ini sering dilanda penyakit seperti malaria dan kolera. Akibatnya, pada abad ke-18, banyak penduduk Eropa mulai pindah ke kawasan Weltevreden di selatan Batavia (sekarang sekitar Lapangan Banteng), yang dianggap lebih sehat.

Setelah VOC dibubarkan pada 1799, Batavia tetap menjadi pusat administrasi di bawah pemerintahan Hindia Belanda hingga kedatangan Jepang pada 1942.

5. Pendudukan Jepang dan Akhir Nama Batavia (1942-1945)

Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia dan mengakhiri pemerintahan Belanda di Batavia. Salah satu perubahan besar yang dilakukan Jepang adalah mengganti nama Batavia menjadi Jakarta. Nama ini diambil dari nama asli “Jayakarta” yang diberikan oleh Fatahillah pada 1527. Setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, nama Jakarta tetap digunakan sebagai ibu kota Republik Indonesia.

Perjalanan Sunda Kelapa dari sebuah pelabuhan penting Kerajaan Sunda hingga menjadi Batavia, dan akhirnya Jakarta, mencerminkan sejarah panjang perdagangan, konflik, dan kekuasaan di wilayah ini. Sejak dikuasai oleh Belanda pada 1619, Batavia bertransformasi menjadi pusat kolonial penting di Asia Tenggara hingga akhirnya berubah menjadi Jakarta, ibu kota Indonesia.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Historika

Mumi Dua Ribu Tahun, Tubuh Lady Dai Masih Tampak Segar

Historika

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

BERITA TERBARU

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version