Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Jakarta dari Masa ke Masa – Mencermin dari Pinggiran (Bagian 3)

Jakarta dari Masa ke Masa – Mencermin dari Pinggiran (Bagian 3)

Historika Rabu, 16 Oktober 2024 20:19 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com – Akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an di Jakarta, khususnya di pinggiran seperti Kelurahan Kamal, adalah masa-masa di mana modernisasi mulai merangsek masuk, seperti ombak besar yang tak bisa dibendung. Meskipun kota baru saja pulih dari krisis moneter yang mengguncang, pembangunan tak terbendung. Gedung-gedung baru menjulang tinggi, pabrik-pabrik berdiri di lahan-lahan kosong yang dulunya penuh dengan sawah, kebun, dan pepohonan. Lahan-lahan yang dulu menjadi tempat anak-anak berlari dan bermain kini telah berubah menjadi pabrik atau bangunan komersial, seolah-olah tanah itu disulap menjadi bagian dari kemajuan yang terus mengejar waktu.

Komputer, teknologi digital, dan handphone mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di tahun-tahun sebelumnya, televisi hitam putih masih menjadi barang mewah yang ditonton ramai-ramai di rumah tetangga, tetapi kini, layar komputer dengan gambar digital menggantikan kesederhanaan itu. Anak-anak yang dulu bermain petak umpet atau lompat tali di halaman kini mulai akrab dengan permainan video. Di tangan mereka, bukan lagi mainan sederhana, melainkan gawai canggih yang mengubah cara mereka berinteraksi. Perubahan kultural ini datang perlahan tapi pasti, membawa masyarakat menuju gaya hidup yang semakin individualistis.

Advertisement

Sementara itu, arus urbanisasi semakin deras. Pendatang dari berbagai daerah, terutama dari luar Jakarta, berdatangan untuk mencari peruntungan di ibu kota yang tengah berkembang pesat. Mereka membawa serta harapan dan cita-cita, menambah keramaian dan keberagaman. Namun, tidak semua warga asli Kamal mampu bertahan. Sebagian dari mereka memilih berhijrah ke daerah sekitar Jakarta, seperti Tangerang, demi mencari kehidupan yang lebih baik dan lebih terjangkau. Dalam perjalanan ini, mereka meninggalkan jejak-jejak nostalgia di kampung halaman yang kini semakin asing bagi mereka.

BACA JUGA:  Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

Di malam hari, pemandangan pun tak lagi sama. Jika dulu malam di Kamal gelap dengan cahaya pelita, kini lampu jalan yang terang benderang menerangi gang-gang sempit. Tidak ada lagi keheningan malam yang menyelimuti kampung, karena suara mesin dan hiruk-pikuk kendaraan mulai merambat ke wilayah pinggiran. Dulu, kebun-kebun menjadi tempat orang buang air besar, tetapi kini, WC dan toilet modern sudah menjadi kebutuhan di setiap rumah, seiring dengan semakin padatnya penduduk dan makin banyaknya bangunan.

Orang-orang yang dulu saling mengenal dan akrab di antara tetangga kini mulai jarang bertemu. Pintu-pintu rumah lebih sering tertutup rapat, komunikasi lebih sering terjadi lewat layar ponsel daripada sapaan hangat di depan rumah. Keluarga-keluarga yang dulu bergotong royong dalam kesederhanaan kini sibuk dengan urusan masing-masing. Budaya saling meminjam dan berbagi, yang dulu menjadi perekat, perlahan memudar, tergantikan oleh semangat individualisme yang semakin merajalela.

BACA JUGA:  Lada 'Black Gold', Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Pembangunan terus menggerus ruang-ruang hijau. Lapangan berumput tempat anak-anak bermain bola kini digantikan oleh lahan parkir atau perumahan. Sawah yang dulu menjadi tempat memancing belut atau menangkap burung bangau kini sudah berubah menjadi lahan komersial. Kemajuan datang tanpa ampun, mengubah wajah Jakarta, terutama pinggiran kota seperti Kamal, menjadi bagian dari kota besar yang modern, tetapi kehilangan sebagian dari jiwanya yang dulu sederhana dan penuh keakraban.

Awal tahun 2000-an menandai akhir dari masa transisi ini, ketika teknologi semakin menguasai kehidupan sehari-hari. Jakarta berkembang pesat, tetapi harga yang harus dibayar adalah lenyapnya kebersamaan dan hubungan erat antarwarga yang dulu mengisi setiap sudut kehidupan di Kamal. Modernisasi, meskipun membawa banyak kemudahan dan kemajuan, juga meninggalkan jejak kerinduan akan masa lalu, ketika alam, budaya, dan kebersamaan masih menjadi pusat dari kehidupan masyarakat. Dalam perjalanan menuju modernitas, Kamal dan sekitarnya menjadi saksi bisu perubahan yang tak terelakkan, dengan semua kenangan yang perlahan memudar dari ingatan.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Historika

Mumi Dua Ribu Tahun, Tubuh Lady Dai Masih Tampak Segar

Historika

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

BERITA TERBARU

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version