Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Si Kabayan Adalah Sosok Nyata

Si Kabayan Adalah Sosok Nyata

Historika Minggu, 11 Mei 2025 20:59 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Ade Gogo

GazanaPublika.com – Ini tulisan saya kedua tentang kabayan, sosok nyata, bukan imajinasi. Sosok kabayan ditemukan oleh intel senior Belanda bernama Christiaan Snouck Hurgonje. Snouck adalah seorang sosiolog dan antropolog yang ditugaskan khusus oleh Ratu Wilhelmina di Hindia Belanda sebagai agen utama dengan spesialisasi penggalangan dan penyusupan. Puluhan judul buku dan naskah akademik menyebutkan Snouck seorang orientalis.

Advertisement

Pada tahun 1984 Snouck menulis buku berjudul De Atjeher. Buku yang berisi beragam karakter kejenakaan manusia dari berbagai negara beserta sebutannya. Dia menyebut kabayan ketika menemukan sosok warga jenaka di satu desa di Pandeglang, Banten. Dia menggunakan atribusi Abdul Ghaffar pada narasi dokumenter yang disusunnya. Nama Abdul Ghaffar dia gunakan setelah mendalami Islam di wilayah Arab. Katanya, dia juga melaksanakan tahapan ibadah haji.

Apa dan siapa yang dimaksud kabayan?

Saya pernah meneliti tentang kelompok bissu di Sulawesi Selatan. Bissu, dalam Wikipedia berasal dari kata bessi yang artinya bersih, suci. Bissu dalam aktivitas sosio-kultur masyarakat Suku Bugis diposisikan sebagai pemuka agama tua sejak Islam belum masuk. Dikabarkan hingga saat ini mereka kerap digunakan pada acara keagamaan tertentu. Padahal majelis ulama melarangnya jika difungsikan pada prosesi kegiatan keislaman yang sakral, seperti selamatan pernikahan atau khitanan. Bissu mendominasi prosesi selamatan bumi, seperti pascapanen.

Bissu biasa dihadirkan dalam upacara adat sebagai penghubung komunikasi antara alam manusia dengan alam kahiyangan yang ditempati para dewa. Dalam makna sederhana, bissu adalah dukun. Dalam praktik upacara, bissu menggunakan medium sesajen plus kemenyan dalam komunikasi dengan alam spiritual dalam keyakinan mereka..

Bissu tidak jelas secara gender. Tetapi beberapa sumber warga yang saat itu saya wawamcara mengatakan mayoritas bissu adalah lelaki yang berpenampilan dominan kewanita-kewanitaan. Dalam upacara adat bissu menggunakan kebaya, penutup kepala ikat, wajahnya dipoles make up mencolok, bibirnya menggunakan pewarna merah, hingga gaya bicara dan berjalan persis wanita. Tetapi bissu juga tampak gagah karena menyelipkan keris khas Bugis. Di Sulawesi, pria berpenampilan seperti wanita dikenal dengan sebutan celebay: cele-bay. Istilah umumnya yaitu banci.

BACA JUGA:  Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Jangan-jangan, dalam pikiran saya waktu itu, ‘bay’ itu artinya perempuan alias wanita. Apakah mejenakaan si Kabayan yang dalam beberapa sekuel filem juga terlihat gemulai ada hubungannya dengan makna bay yang ditulis Snouck? Ketika diperankan oleh Didi Petet, beberapa adegan gemulai masuk dalam frame. Selain itu, juga diperkuat dengan satu model pakaian wanita yang disebut abaya.

Selama 10 tahun saya mencari asal muasal nama kabayan yang ditulis oleh Snouck. Di Bali saya menemukan istilah kabayan yang artinya kepala desa atau tokoh lingkungan (banjar). Jangan-jangan, kabayan yang ditemukan oleh Snouck di Banten selatan yang saat ini posisinya di Pandeglang, adalah tokoh masyarakat, mungkin juga kepala desa. Mungkin sekadar perangkat desa di bawah kepala desa.

Saya lalu membuka.kamus Bahasa Arab, saya tidak menemukan arti bay atau bayan adalah wanita, tetapi bermakna penjelas/penerang. Jangan-jangan kabayan itu adalah juru penerang di desa yang bertugas memberikan informasi dari pemerintah desa. Bisa jadi. Karena saya ketika usia remaja di kampung kami ada yang berfungsi sebagai juru penerang, salah satu tugasnya adalah menyampaikan undangan lisan pernikahan atau khitanan. Datang melalui pintu depan atau pintu dapur.

Di antara pernyataan Snouck dalam De Atjeher seperti ini:

Kabajan’s graf wijst men te Pandeglang en op andere plaatsen in Banten, gewoonlijk onder limoes boomen aan. Een zeventigtal dongèngs uit de Preanger, Bantěn en Zuid-Tjirebon, die ik verzameld heb, geven een beeld van zijn karakter.

BACA JUGA:  Silsilah Sunan Gunung Jati ke Musa Al-Kadzim

(Makam Kabajan terletak di Pandeglang dan tempat lain di Banten, biasanya di bawah pohon mangga limus/mangga bacang. Sebanyak tujuh puluh dongèng dari Prianger, Bantěn dan Tjirebon Selatan yang saya kumpulkan, memberikan gambaran tentang karakternya).

Nama kabayan saat ini digunakan untuk penamaan wilayah administrasi salah satu kelurahan di Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Menurut banyak sumber warga, di salah satu TPU di Kelurajan Kabayan ada makam yang sejak ratudan tahun silam diyakini sebagai makam (mungkin dimaknai kuburan) si kabayan.

Dan, saya sangat terkejut ketika hendak masuk ke toilet di dalam sebuah mal di Turkiye. Di sana pria ditulis dengan nama ‘Bay’ dan wanita dengan nama ‘Bayan’.

Lalu, apa arti kabayan dalam Bahasa Sunda? Di dalam peribahasa Sunda terutama kelompok asli Priangan (Prianger), ada frasa ‘kababayan’ ketika seseorang membuang air besar (tinja) di dalam celana. Sedangkan di kelompok masyarakat asli Banten kidul hingga kulon (Sukabumi selatan, Bogor barat, hingga Bantej) istipah kababayan ini adalah kabudulan. Sedangkan kelompok masyarakat Sunda yang saat ini mengaku Suku Betawi (seperti yang ada di Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Jakarta pinggiran) menggunakan istilah kepicirit.

Karena nama kabayan ini ditulis oleh Snouck orang Netherland, saya lebih cenderung sosok jenaka itu adalah perangkat desa (mungkin kepala dusun atau juru penerang), atau pemimpin di kampung seperti istilah di Bali.

Buku Si Kabayan diterbitkan pada tahun 1929 yang bersumber dari penelitian Lina Maria Coster Wisjman, seorang antropolig asal Belanda yang meneliti sosok kabayan setelah membaca buku yang ditulis oleh Snouck. Lina datang ke Hindia Belanda hingga ke Pandeglang dalam penelitian program doktoral di Universitas Leiden. Buku Si Kabayan tersimpan di Perpustakaan Nasional.

Advertisement

Ade Gogo

Advertisement

BERITA LAINNYA

Historika

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

Historika

Silsilah Sunan Gunung Jati ke Musa Al-Kadzim

BERITA TERBARU

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Febi Pirmansyah Kritik Pernyataan Cak Imin soal NU: Jangan Salahkan Organisasi, Lihat Rekam Jejak Sendiri

Aksi Gerakan 9 di Malingping Diwarnai Bentrokan, Mahasiswa Desak Pemeriksaan Proyek Jalan Cikeusik–Simpang Cijaku

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.