Penulis: Ade Gogo
GazanaPublika.com – Ini tulisan saya kedua tentang kabayan, sosok nyata, bukan imajinasi. Sosok kabayan ditemukan oleh intel senior Belanda bernama Christiaan Snouck Hurgonje. Snouck adalah seorang sosiolog dan antropolog yang ditugaskan khusus oleh Ratu Wilhelmina di Hindia Belanda sebagai agen utama dengan spesialisasi penggalangan dan penyusupan. Puluhan judul buku dan naskah akademik menyebutkan Snouck seorang orientalis.
Pada tahun 1984 Snouck menulis buku berjudul De Atjeher. Buku yang berisi beragam karakter kejenakaan manusia dari berbagai negara beserta sebutannya. Dia menyebut kabayan ketika menemukan sosok warga jenaka di satu desa di Pandeglang, Banten. Dia menggunakan atribusi Abdul Ghaffar pada narasi dokumenter yang disusunnya. Nama Abdul Ghaffar dia gunakan setelah mendalami Islam di wilayah Arab. Katanya, dia juga melaksanakan tahapan ibadah haji.
Apa dan siapa yang dimaksud kabayan?
Saya pernah meneliti tentang kelompok bissu di Sulawesi Selatan. Bissu, dalam Wikipedia berasal dari kata bessi yang artinya bersih, suci. Bissu dalam aktivitas sosio-kultur masyarakat Suku Bugis diposisikan sebagai pemuka agama tua sejak Islam belum masuk. Dikabarkan hingga saat ini mereka kerap digunakan pada acara keagamaan tertentu. Padahal majelis ulama melarangnya jika difungsikan pada prosesi kegiatan keislaman yang sakral, seperti selamatan pernikahan atau khitanan. Bissu mendominasi prosesi selamatan bumi, seperti pascapanen.
Bissu biasa dihadirkan dalam upacara adat sebagai penghubung komunikasi antara alam manusia dengan alam kahiyangan yang ditempati para dewa. Dalam makna sederhana, bissu adalah dukun. Dalam praktik upacara, bissu menggunakan medium sesajen plus kemenyan dalam komunikasi dengan alam spiritual dalam keyakinan mereka..
Bissu tidak jelas secara gender. Tetapi beberapa sumber warga yang saat itu saya wawamcara mengatakan mayoritas bissu adalah lelaki yang berpenampilan dominan kewanita-kewanitaan. Dalam upacara adat bissu menggunakan kebaya, penutup kepala ikat, wajahnya dipoles make up mencolok, bibirnya menggunakan pewarna merah, hingga gaya bicara dan berjalan persis wanita. Tetapi bissu juga tampak gagah karena menyelipkan keris khas Bugis. Di Sulawesi, pria berpenampilan seperti wanita dikenal dengan sebutan celebay: cele-bay. Istilah umumnya yaitu banci.
Jangan-jangan, dalam pikiran saya waktu itu, ‘bay’ itu artinya perempuan alias wanita. Apakah mejenakaan si Kabayan yang dalam beberapa sekuel filem juga terlihat gemulai ada hubungannya dengan makna bay yang ditulis Snouck? Ketika diperankan oleh Didi Petet, beberapa adegan gemulai masuk dalam frame. Selain itu, juga diperkuat dengan satu model pakaian wanita yang disebut abaya.
Selama 10 tahun saya mencari asal muasal nama kabayan yang ditulis oleh Snouck. Di Bali saya menemukan istilah kabayan yang artinya kepala desa atau tokoh lingkungan (banjar). Jangan-jangan, kabayan yang ditemukan oleh Snouck di Banten selatan yang saat ini posisinya di Pandeglang, adalah tokoh masyarakat, mungkin juga kepala desa. Mungkin sekadar perangkat desa di bawah kepala desa.
Saya lalu membuka.kamus Bahasa Arab, saya tidak menemukan arti bay atau bayan adalah wanita, tetapi bermakna penjelas/penerang. Jangan-jangan kabayan itu adalah juru penerang di desa yang bertugas memberikan informasi dari pemerintah desa. Bisa jadi. Karena saya ketika usia remaja di kampung kami ada yang berfungsi sebagai juru penerang, salah satu tugasnya adalah menyampaikan undangan lisan pernikahan atau khitanan. Datang melalui pintu depan atau pintu dapur.
Di antara pernyataan Snouck dalam De Atjeher seperti ini:
Kabajan’s graf wijst men te Pandeglang en op andere plaatsen in Banten, gewoonlijk onder limoes boomen aan. Een zeventigtal dongèngs uit de Preanger, Bantěn en Zuid-Tjirebon, die ik verzameld heb, geven een beeld van zijn karakter.
(Makam Kabajan terletak di Pandeglang dan tempat lain di Banten, biasanya di bawah pohon mangga limus/mangga bacang. Sebanyak tujuh puluh dongèng dari Prianger, Bantěn dan Tjirebon Selatan yang saya kumpulkan, memberikan gambaran tentang karakternya).
Nama kabayan saat ini digunakan untuk penamaan wilayah administrasi salah satu kelurahan di Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Menurut banyak sumber warga, di salah satu TPU di Kelurajan Kabayan ada makam yang sejak ratudan tahun silam diyakini sebagai makam (mungkin dimaknai kuburan) si kabayan.
Dan, saya sangat terkejut ketika hendak masuk ke toilet di dalam sebuah mal di Turkiye. Di sana pria ditulis dengan nama ‘Bay’ dan wanita dengan nama ‘Bayan’.
Lalu, apa arti kabayan dalam Bahasa Sunda? Di dalam peribahasa Sunda terutama kelompok asli Priangan (Prianger), ada frasa ‘kababayan’ ketika seseorang membuang air besar (tinja) di dalam celana. Sedangkan di kelompok masyarakat asli Banten kidul hingga kulon (Sukabumi selatan, Bogor barat, hingga Bantej) istipah kababayan ini adalah kabudulan. Sedangkan kelompok masyarakat Sunda yang saat ini mengaku Suku Betawi (seperti yang ada di Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Jakarta pinggiran) menggunakan istilah kepicirit.
Karena nama kabayan ini ditulis oleh Snouck orang Netherland, saya lebih cenderung sosok jenaka itu adalah perangkat desa (mungkin kepala dusun atau juru penerang), atau pemimpin di kampung seperti istilah di Bali.
Buku Si Kabayan diterbitkan pada tahun 1929 yang bersumber dari penelitian Lina Maria Coster Wisjman, seorang antropolig asal Belanda yang meneliti sosok kabayan setelah membaca buku yang ditulis oleh Snouck. Lina datang ke Hindia Belanda hingga ke Pandeglang dalam penelitian program doktoral di Universitas Leiden. Buku Si Kabayan tersimpan di Perpustakaan Nasional.
