Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara terhadap beberapa fasilitas strategis milik Iran, termasuk kompleks nuklir di Bushehr. Di tengah sorotan dunia, tiga negara besar Asia—Rusia, China, dan Korea Utara —muncul sebagai pendukung baru Teheran, baik secara diplomatik, moral, maupun finansial.
Rusia: Ancaman Nuklir dan Tuduhan ke Barat
Advertisement
Rusia menjadi negara pertama yang menyampaikan pernyataan paling keras atas agresi militer tersebut. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyebut serangan AS dan Israel sebagai tindakan provokatif yang setara dengan “pernyataan perang baru” terhadap Iran.
“Langkah ini justru memperkuat posisi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kami memperingatkan bahwa situasi ini berisiko memperluas konflik global,” ujar Medvedev seperti dikutip Reuters (22/6/2025).
Medvedev juga menyampaikan bahwa sejumlah negara “siap memasok Iran dengan senjata nuklir” sebagai langkah balasan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran berpotensi memicu bencana selevel Chernobyl dan melanggar perjanjian internasional.
China: Seruan Gencatan Senjata dan Peran Mediasi
Pada 19 Juni 2025, Presiden Xi Jinping melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di mana keduanya secara tegas mengutuk serangan militer yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Menurut pernyataan resmi Kremlin, kedua pemimpin menyatakan bahwa langkah tersebut melanggar Piagam PBB dan norma hukum internasional, serta sepakat bahwa isu nuklir Iran harus diselesaikan secara politik dan diplomatis, bukan militer (reuters.com).
Tak lama setelah itu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan dukungan penuh Beijing kepada Teheran:
“China mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan martabat nasionalnya. Kami siap memainkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan,” ujar Wang Yi, seperti dikutip The Times of India dan laporan Reuters pada 19 Juni 2025 .
China juga menyerukan gencatan senjata secepatnya dan meminta PBB mengadakan sidang darurat guna mencegah eskalasi konflik.
China Evakuasi 1.600 Warganya dari Iran dan Ratusan dari Israel
Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri China mengumumkan bahwa lebih dari 1.600 warganya telah dievakuasi dari Iran, sementara ratusan lainnya dievakuasi dari Israel. Pemerintah China juga memperingatkan kemacetan di jalur perbatasan, seperti Astara (ke Azerbaijan) dan Bajgiran (ke Turkmenistan), sebagai dampak meningkatnya ketegangan regional (reuters.com).
Korea Utara Kecam Serangan AS-Israel ke Iran
Pemerintah Korea Utara melalui Kementerian Luar Negeri dan media resminya, KCNA, secara tegas menyatakan dukungan penuh terhadap Iran menyusul serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas strategis Iran pada pertengahan Juni 2025.
Dalam pernyataan resminya, Korea Utara mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai bentuk nyata “provokasi imperialisme” yang secara terang-terangan melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara berdaulat.
“Korea Utara menolak keras tindakan agresif tersebut dan menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatannya dari setiap bentuk serangan imperialis,” tulis KCNA, kantor berita resmi Korea Utara, dalam laporan yang diterbitkan 18 Juni 2025.
Dukungan Korea Utara ini menambah panjang daftar negara-negara yang mulai merapat ke Iran di tengah tekanan global, menyusul pernyataan dukungan serupa dari Rusia, China, dan sejumlah negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).
Hubungan Korea Utara dan Iran sendiri bukan hal baru. Sejak tahun 1980-an, kedua negara telah menjalin kerja sama militer dan teknologi, khususnya dalam bidang pengembangan rudal balistik dan pertahanan strategis.
“Kami memahami perjuangan rakyat Iran, sebagaimana rakyat kami juga menghadapi tekanan dan sanksi dari kekuatan imperialis,” lanjut pernyataan dari KCNA.
Analis dari lembaga pertahanan regional Asia Timur menyebut bahwa pernyataan Korea Utara ini bukan sekadar retorika, tetapi bagian dari strategi global di mana negara-negara non-Barat semakin mengonsolidasikan kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat.
Menurut laporan Reuters dan The Guardian, Korea Utara juga telah menunjukkan solidaritasnya dengan Rusia dalam konflik di Ukraina, dan memperkuat jalur diplomatik dengan China dalam beberapa bulan terakhir. Iran, dalam posisi yang sama, menjadi salah satu titik tumpu strategis dalam poros Timur tersebut.
Seiring dengan eskalasi dukungan internasional terhadap Iran dari blok Asia Timur, kekhawatiran muncul di kalangan negara-negara NATO terkait potensi pembentukan aliansi militer atau pertahanan informal antara Korea Utara, Iran, Rusia, dan China.
Meski belum ada sinyal dukungan militer langsung dari Pyongyang kepada Teheran, kekuatan simbolik dan politik dari pernyataan Korea Utara sudah cukup menjadi pesan keras bagi Washington dan Tel Aviv.
Advertisement
