Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Naiknya tensi perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat kini bukan lagi sekadar wacana diplomatik. Kebijakan terbaru Presiden AS Donald Trump yang menolak menurunkan tarif dagang ke Indonesia menjadi pukulan telak bagi sektor ekspor nasional—terutama bagi perusahaan-perusahaan yang menggantungkan pendapatannya dari pasar Negeri Paman Sam. Salah satu yang paling disorot adalah perusahaan ekspor udang beku yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo.
Dalam laporan CNBCIndonesia.com, kebijakan tarif dagang AS terhadap Indonesia tetap berada di level 32%, angka yang jauh lebih tinggi dibanding negara-negara ASEAN lainnya seperti Filipina (17%), Vietnam (20%), atau Malaysia (25%). Hal ini membuat berbagai pelaku ekspor utama Indonesia kelimpungan, termasuk perusahaan yang diduga memiliki kaitan bisnis dengan Kaesang, yakni PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP).
Advertisement
Perusahaan tersebut memiliki lini bisnis utama di bidang ekspor udang beku dan selama ini menjadikan Amerika Serikat sebagai pasar utamanya. Hingga September 2024, penjualan ke AS mencapai US$ 42,33 juta, atau sekitar 66,8% dari total penjualan perusahaan yang sebesar US$ 63,37 juta. Namun, dengan tarif ekspor yang tinggi dan daya saing yang semakin tergerus, PMMP menghadapi ancaman serius terhadap profitabilitasnya. Perusahaan ini bahkan telah mencatat kerugian sebesar US$ 15,26 juta (setara Rp240,07 miliar) pada kuartal ketiga 2024, jauh sebelum tarif baru ini resmi diberlakukan.
Ekonom senior dari Permata Bank, Josua Pardede, dalam laporan CNBC juga mengingatkan bahwa kebijakan proteksionis dari Trump berpotensi melemahkan daya saing ekspor Indonesia secara umum, termasuk produk unggulan seperti perikanan, tekstil, alas kaki, dan furnitur. Dengan kontribusi AS sekitar 9–10% dari total ekspor Indonesia, penurunan volume ekspor dapat memicu defisit transaksi berjalan hingga mendekati 0,87% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025.
Tak hanya PMMP, perusahaan lain yang turut terpukul adalah PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) yang bergerak di industri furnitur kayu. WOOD mencatat 90,27% dari total penjualannya senilai Rp2,79 triliun berasal dari pasar AS. Dengan beban pokok penjualan yang sudah melambung 38% (year on year) dan biaya operasional yang naik 2,26%, kebijakan Trump ini ibarat palu godam bagi stabilitas keuangan mereka.
Perusahaan otomotif dan suku cadang seperti PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) juga tak luput dari imbasnya, meski porsi ekspornya ke AS hanya sekitar 15,85% dari total pendapatan. Demikian pula dua raksasa industri kertas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), yang turut mengandalkan pasar ekspor AS meskipun dalam porsi kecil.
Bahkan produk consumer goods seperti Indomie milik PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan induknya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), juga berisiko terdampak. Meski kontribusi ekspor mereka ke AS tergolong kecil, masing-masing 4,29% dan 2,85%, namun pertumbuhan distribusi global yang telah dibangun bertahun-tahun dapat terganggu.
Presiden Trump sendiri masih membuka ruang negosiasi hingga 1 Agustus 2025, namun sinyal yang diberikan tampak kurang bersahabat. Jika Indonesia tidak menunjukkan langkah mitigasi yang kuat dan diplomasi dagang yang agresif, maka tarif 32% akan resmi diberlakukan dan akan memperbesar tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.
Bagi PMMP—perusahaan yang dihubungkan dengan Kaesang—kondisi ini bisa menjadi momen penentu. Bila tidak ada langkah strategis untuk diversifikasi pasar dan efisiensi internal, kerugian berkelanjutan bisa menjadi pukulan reputasi bagi perusahaan yang terafiliasi dengan nama besar di politik nasional tersebut. Artikel ini dilansir dari laporan asli
CNBCIndonesia.com berjudul “Trump Ogah Bantu RI, Perusahaan Kayu-Udang Milik Kaesang Bisa Tekor!” yang tayang pada 10 Juli 2025.
Advertisement
