GazanaPublika.com, Islamabad – Jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini memasuki babak baru yang krusial. Washington dilaporkan telah melayangkan draf proposal perdamaian terbaru kepada pihak Teheran. Di dalam tawaran kesepakatan tersebut, pihak Gedung Putih bersedia memberikan sejumlah pelonggaran sanksi ekonomi serta bersiap menghentikan aktivitas militernya demi meredam konflik yang terjadi.
Informasi mendetail mengenai draf kesepakatan damai ini diungkapkan pertama kali ke publik pada (23/5/2026). Rencana penyelesaian konflik tersebut dibeberkan oleh seorang jurnalis asal Amerika yang mengetahui secara rinci isi dokumen penawaran itu. Melalui platform media sosial X, koresponden ABC Alex Marquardt menjelaskan bahwa rancangan perdamaian ini dibangun secara bertahap dan didasarkan pada landasan proposal 14 poin yang telah dirumuskan sebelumnya.
“Yang perlu diperhatikan, proposal tersebut dilaporkan mencakup dana ekonomi besar untuk ganti rugi Iran, keringanan penjualan minyak Iran, pencairan dana secara bertahap, pencabutan sanksi, dan tidak ada hal pasti mengenai pengayaan nuklir,” menurut Marquardt seperti dikutip dari Anadolu, Sabtu (23/5/2026), dikutip dari Kompas.com.
Direncanakan, penandatanganan dokumen nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MOU) antara Washington dan Teheran bakal digelar secara resmi di ibu kota Pakistan, Islamabad. Kesepakatan awal ini nantinya akan berfungsi sebagai pemantik untuk memulai negosiasi lanjutan yang lebih substansial terkait dengan ‘kesepakatan akhir’ guna mengakhiri ketegangan bersenjata secara permanen.
Berdasarkan ketentuan dari draf kesepakatan yang ditawarkan, kedua belah pihak diwajibkan untuk segera menghentikan seluruh bentuk operasi militer mereka di lapangan, termasuk aktivitas militer yang berlangsung di wilayah Lebanon. Selain itu, baik AS maupun Iran harus berkomitmen penuh untuk tidak melayangkan ancaman penggunaan kekuatan bersenjata di kemudian hari.
Terkait isu sensitif mengenai program nuklir, draf perjanjian ini sengaja menunda pengambilan keputusan krusial seputar penarikan bahan yang telah diperkaya serta aktivitas pengayaan nuklir itu sendiri hingga pembahasan di meja negosiasi akhir. Namun, sebagai kompensasi awal, pihak Iran diharuskan untuk memegang komitmen kuat agar tidak pernah melangkah ke tahap pengembangan senjata nuklir.
Fakta strategis lain yang termuat dalam tawaran kedamaian ini adalah komitmen rekonstruksi pascaperang di Iran yang akan disokong penuh oleh AS beserta negara-negara di kawasan sekitar, dengan pembahasan detail operasional yang akan dirampungkan di waktu mendatang. Seiring berjalannya proses perundingan, Washington diklaim bersedia mencairkan dana-dana milik Teheran secara bertahap. Puncaknya, setelah kerangka waktu pada kesepakatan akhir diketok palu, seluruh sanksi sekunder maupun sanksi utama yang dijatuhkan oleh AS dan PBB bakal dihapuskan secara menyeluruh.
Sebagai langkah awal sebelum seluruh sanksi resmi dicabut, Gedung Putih terlebih dahulu akan menerbitkan pengecualian hukum khusus. Regulasi ini akan membuka kembali keran ekspor komoditas minyak bumi Iran, memulihkan aktivitas sektor perbankan, serta mengizinkan sektor perekonomian lainnya untuk beroperasi kembali secara normal.
Tuntutan lain yang wajib dipenuhi pascapenandatanganan nota kesepahaman mencakup pembongkaran blokade di wilayah perairan laut dan penarikan mundur armada militer AS dari kawasan sekitar Iran. Arus lalu lintas maritim di wilayah strategis tersebut diproyeksikan akan berjalan normal kembali dalam jangka waktu 30 hari, sementara penarikan seluruh pasukan militer AS dijadwalkan rampung dalam satu bulan setelah kesepakatan akhir disahkan secara hukum.
