Advertisement
GazanaPublika.com,Tel Aviv/Gaza — Suasana emosional menyelimuti dua sisi perbatasan pada Senin (13/10/2025) malam, ketika Hamas membebaskan seluruh sandera Israel yang masih hidup, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.
Dalam pernyataannya, militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa 20 sandera terakhir telah diterima dengan selamat setelah dipindahkan keluar dari Jalur Gaza oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Di Tel Aviv, ribuan warga berkumpul di ‘Hostage Square’ — alun-alun yang sejak lama menjadi simbol perjuangan keluarga para sandera — untuk menyambut kabar pembebasan tersebut.
Advertisement
Tangis, pelukan, dan teriakan bahagia pecah di tengah malam yang hangat.
“Saya sangat bahagia, sulit menggambarkan perasaan ini. Saya tidak tidur semalaman,” tutur Viki Cohen, ibu dari sandera Nimrod Cohen, sambil bergegas menuju kamp militer Reim, tempat para sandera dievakuasi dan menjalani pemeriksaan medis.
Pemerintah Israel menyatakan seluruh sandera kini dalam kondisi stabil dan akan segera dipertemukan dengan keluarga mereka setelah menjalani proses identifikasi dan pemeriksaan psikologis.
Namun, di sisi lain perbatasan, suasana tak kalah emosional juga terjadi di Khan Younis, Jalur Gaza selatan. Ribuan warga Palestina tumpah ruah di depan Rumah Sakit Nasser, menyambut sekitar 2.000 tahanan dan narapidana Palestina yang dibebaskan Israel sebagai bagian dari pertukaran.
“Saya bahagia anak-anak kami dibebaskan, tapi hati kami masih sakit atas semua yang terbunuh dan kehancuran Gaza,” ujar Um Ahmed, warga Gaza, dalam pesan suara penuh tangis kepada Reuters.
Banyak dari para tahanan yang baru bebas tampak melambaikan tangan dari jendela bus sambil mengacungkan tanda kemenangan. Pejuang Hamas bersenjata dan bertopeng berjaga di sekitar rute pembebasan, sementara suara takbir menggema dari pengeras suara masjid.
Meski momen itu disebut sebagai akhir dari babak panjang konflik bersenjata, banyak pengamat menilai situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Reuters melaporkan sejumlah wilayah di Gaza masih menghadapi krisis kemanusiaan parah: ribuan warga kehilangan tempat tinggal, infrastruktur kesehatan lumpuh, dan akses bantuan masih terbatas.
Para diplomat dari AS, Mesir, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kesepakatan ini sebagai “permulaan rapuh menuju perdamaian abadi”, menekankan bahwa keberlanjutan gencatan senjata sangat bergantung pada komitmen kedua pihak untuk menahan diri dan memprioritaskan kemanusiaan di atas politik.
Advertisement
