Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Perang Timur Tengah: Harga Energi Melonjak, Amerika Terancam Inflasi dan Bakal Kolaps

Perang Timur Tengah: Harga Energi Melonjak, Amerika Terancam Inflasi dan Bakal Kolaps

Internasional Rabu, 4 Maret 2026 14:33 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Jakarta – Ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini tak hanya berdampak pada dinamika geopolitik, tetapi juga menyeret perekonomian Washington ke dalam pusaran ketidakpastian. Konflik yang kian meluas di kawasan Timur Tengah memicu gejolak pasar energi global, memantik kenaikan harga minyak dan memperbesar risiko inflasi di dalam negeri Amerika.

Aksi saling serang antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran telah mengguncang perdagangan minyak dunia. Gangguan distribusi energi, termasuk efek penutupan efektif Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima suplai minyak global—menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga.

Advertisement

Harga minyak mentah Brent tercatat sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2024. Kenaikan ini diperkirakan segera berdampak pada harga bahan bakar di Amerika Serikat, isu yang selalu sensitif di ranah politik domestik.

Analis utama Oxford Economics, John Canavan, mengatakan harga bensin kemungkinan akan naik hanya dalam hitungan hari. “Harga di SPBU kemungkinan akan naik dalam beberapa hari,” ujarnya kepada AFP, dikutip Rabu (4/3/2026).

Ia menilai tren kenaikan sebenarnya telah terlihat sejak awal tahun. Menurutnya, para pelaku ritel bahan bakar biasanya bergerak cepat merespons perkembangan geopolitik yang berpotensi mendorong harga lebih tinggi.

BACA JUGA:  Iran Bantah Adanya Dialog Teknis di Doha, Tuntut Pelaksanaan MoU Selat Hormuz

Kenaikan biaya energi ini berpotensi membebani rumah tangga Amerika dan menggerus daya beli masyarakat. Mengingat konsumsi menyumbang sekitar dua pertiga produk domestik bruto (PDB) AS, tekanan pada belanja konsumen dapat menjalar ke berbagai sektor lain, termasuk transportasi dan distribusi barang.

Ekonom ING, James Knightley, memperkirakan kenaikan harga energi akan berdampak pada tarif penerbangan serta ongkos logistik. Meski Amerika relatif mandiri dalam pasokan gas alam, harga domestik tetap mengikuti dinamika global, sehingga lonjakan harga internasional berisiko menaikkan biaya listrik di dalam negeri.

“Ini tidak diragukan lagi akan menjadi titik kritis bagi perekonomian AS,” kata Knightley.

Ia menambahkan, apabila masyarakat dipaksa mengalokasikan lebih banyak dana untuk bahan bakar dan utilitas, tekanan terhadap keuangan rumah tangga akan meningkat dan berpotensi memperlambat pertumbuhan, terutama jika konflik berlangsung lama.

Perkembangan ini juga membawa konsekuensi politik bagi Presiden AS Donald Trump. Pemerintah diperkirakan akan berupaya menahan dampak kenaikan harga energi karena pengaruhnya terhadap persepsi publik menjelang pemilihan umum.

BACA JUGA:  Berdikari Pasca 50 Tahun Diembargo, Energi Raksasa Iran Teknologi Turbin Gas F-Class MGT-75

Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, menilai isu keterjangkauan harga menjadi perhatian utama pemerintah. “Harga bensin yang lebih tinggi akan berdampak negatif pada kepercayaan dan sentimen konsumen. Itu bisa terlihat di bilik suara pada bulan November,” ujarnya.

Di tengah tekanan tersebut, bank sentral Amerika, Federal Reserve, menghadapi dilema kebijakan. Risiko inflasi yang meningkat mendorong suku bunga tetap tinggi, sementara perlambatan ekonomi serta potensi pelemahan pasar tenaga kerja justru membuka ruang untuk pelonggaran moneter.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan otoritas moneter masih memantau sejauh mana konflik memengaruhi harga dalam jangka panjang. “Kita harus menunggu dan melihat,” katanya.

Knightley menilai situasi ini menyulitkan bank sentral untuk segera memangkas suku bunga. Inflasi yang berpotensi kembali menguat menjadi hambatan utama, sementara kebutuhan menjaga stabilitas lapangan kerja tetap mendesak. Menurutnya, The Fed kini harus menyeimbangkan dua mandat yang sama-sama penting namun saling berlawanan arah: mengendalikan inflasi dan mempertahankan tingkat pekerjaan maksimal.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Internasional

Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz, Kenyataannya Tidak

Internasional

Gempa Magnitudo 7,1 di Jepang Picu Ledakan dan Runtuhnya Aeon Mall Kumamoto, Belasan Orang Masih Hilang

Berita Utama

Harga Minyak Dunia Tembus $100 per Barel Akibat Eskalasi Konflik di Laut Merah dan Selat Hormuz

Internasional

Iran Klaim Hantam Fasilitas Militer AS di Yordania dan Kuwait Lewat Serangan Rudal dan Drone

BERITA TERBARU

Aksi Gerakan 9 di Malingping Diwarnai Bentrokan, Mahasiswa Desak Pemeriksaan Proyek Jalan Cikeusik–Simpang Cijaku

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.