Advertisement
GazanaPublika.com – Perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan dunia, namun kali ini dengan nada yang sedikit lebih sejuk. Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa tarif tinggi terhadap produk impor dari China kemungkinan besar akan diturunkan secara signifikan.
Isyarat ini muncul dari pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam sebuah forum tertutup yang diselenggarakan oleh JPMorgan Chase pada Selasa (22/4) waktu setempat. Dalam forum itu, Bessent menegaskan bahwa ketegangan dagang antara Washington dan Beijing “tidak bisa terus dibiarkan berlangsung” dan perlu segera diredakan.
Advertisement
Menurut laporan AFP, Rabu (23/4/2025), Bessent mengakui bahwa kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan tahun ini telah menyerupai embargo dagang dua arah. Namun, ia menyampaikan harapan agar eskalasi ini segera menemukan titik balik.
“Presiden memperkirakan tarif yang sangat tinggi terhadap banyak produk China akan turun secara substansial,” ujar Bessent, mengutip pandangan Trump dalam forum tersebut.
Sumber yang hadir dalam forum itu menyebut bahwa penurunan tarif ini diharapkan memberi sedikit kelegaan bagi pelaku pasar yang selama ini waspada atas ketidakpastian dagang dua raksasa ekonomi dunia.
Tarif Ekstrem dan Paradoks Kebijakan
Sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih pada Januari lalu, pemerintahan AS telah menerapkan tarif tambahan hingga 145% terhadap berbagai produk asal China. Langkah itu disebut sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran dalam rantai pasokan fentanil serta berbagai praktik perdagangan yang dianggap tidak adil oleh Washington.
Namun, Trump kini terlihat mulai merevisi pendekatannya. Dalam pernyataan terbarunya, ia mengakui bahwa tarif sebesar itu “sangat tinggi” dan menyiratkan bahwa skala tersebut akan direvisi.
“Mereka (China) tidak akan dikenai tarif setinggi itu lagi,” kata Trump. “Tapi juga tidak akan menjadi nol,” tambahnya, memberi sinyal bahwa kompromi mungkin sedang dipertimbangkan.
China Balas, Tapi Masih Buka Pintu Dialog
Menanggapi langkah Washington, Beijing tidak tinggal diam. Pemerintah China memberlakukan tarif balasan sebesar 125% terhadap produk-produk dari AS. Presiden Xi Jinping sendiri menegaskan bahwa perang dagang hanya akan membawa kerugian bagi kedua belah pihak dan tak sejalan dengan kepentingan jangka panjang.
Awal pekan ini, China juga mengirim sinyal ke negara-negara mitra dagang agar tak ikut-ikutan merugikan China lewat kesepakatan yang berat sebelah.
Isyarat Damai di Tengah Tekanan Global
Gedung Putih lewat Sekretaris Pers Karoline Leavitt turut menyuarakan kemungkinan adanya pembicaraan damai. Ia menyebut bahwa pemerintahan Trump “sedang menyiapkan panggung” untuk perundingan dengan China, dan menyebut bola saat ini “bergerak ke arah yang positif”.
“Ada perasaan kuat bahwa semua pihak ingin melihat tercapainya sebuah kesepakatan perdagangan,” katanya kepada awak media. ***
Advertisement
