Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » 197 Tahun Kabupaten Lebak, Di Selimuti Potret Kesehatan yang Menghantui

197 Tahun Kabupaten Lebak, Di Selimuti Potret Kesehatan yang Menghantui

Nasional Rabu, 3 Desember 2025 14:31 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Pitri Awaliyah

GazanaPublika.com -,Di tengah luasnya wilayah Kabupaten Lebak, daerah-daerah terpencil nyaris tak terdengar namanya di ruang publik, ribuan warga hidup dengan jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan. Tempat-tempat seperti inilah, pentingnya kesehatan masyarakat sebagai pondasi kesejahteraan di Lebak terasa seperti wacana yang masih belum jelas.

Advertisement

Warga yang tinggal di daerah terpencil seperti Citorek, Sobang, Lebak Gedong, Cibeber, serta sejumlah daerah di bagian selatan menyimpan tantangan geografis yang tak main-main. Warga harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk mengakses layanan kesehatan. Hal ini membuat warga menghabiskan lebih banyak waktu bepergian
dan lebih lama untuk mengakses layanan kesehatan.

Hak atas kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara. Pada kenyataannya di Lebak menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat menjangkau hak itu dengan mudah. Dalam situasi seperti ini, nyawa kerap dipertaruhkan hanya karena jarak dan akses.

Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak tahun 2023, jarak dari Citorek dan Sobang ke rumah sakit di pusat Kabupaten sekitar ±60 sampai 70 km. Sedangkan wilayah selatan seperti Bayah Malingping menuju rumah sakit rujukan dapat memakan waktu berjam-jam. Artinya, warga di daerah terpencil harus menempuh perjalanan panjang ke Rumah Sakit yang memadai. Seperti di RSUD Adjidarmo, yang memang jarak tempuh nya tidak sebentar untuk sampai ke Pusat Kabupaten.

Dalam konteks kesehatan, ini menjadi bom waktu. Bukan karena penyakitnya tak bisa disembuhkan, tapi karena bantuan tak sempat datang. Akibatnya, pelayanan kesehatan di Lebak akan berdampak hilangnya kepercayaan masyarakat pada sistem kesehatan itu sendiri. Seharusnya, pemda Lebak khususnya dinas terkait memastikan hak setiap warganya dimana pun mereka tinggal tidak lagi mempertaruhkan nyawa karena jarak yang begitu jauh untuk sampai ke RSUD.

BACA JUGA:  Universitas Republik Indonesia Siapkan 10 Kampus Terintegrasi

Sementara ketika darurat datang komplikasi saat melahirkan, serangan jantung, kecelakaan, henti napas, atau bahkan anak dengan demam akut. Dalam situasi yang seharusnya ditangani menit demi menit, warga justru harus bergulat dengan perjalanan panjang yang menguras tenaga dan waktu. Tidak sedikit yang akhirnya “menyerah” di tengah jalan sebelum sempat mendapat pertolongan.

Saya sendiri sudah lama merasakan keresahan ini, bahkan sebelum keluarga saya mengalami musibah. Saya sering melihat warga kampung terlambat ditangani karena jarak rumah sakit terlalu jauh. Waktu tempuh ke rumah sakit saja sudah menjadi perjuangan, belum lagi ketika sudah sampai di fasilitas kesehatan namun pelayanan lambat karena antrean, keterbatasan tenaga medis, hingga proses administrasi yang begitu lambat.

Salah satu contoh nyata keluarga saya hanyalah salah satu cerminan kecil dari banyak kejadian serupa. Kakak ipar saya sempat dibawa ke klinik dan masih terdeteksi ada nyawa. Namun ketika sampai di rumah sakit, semuanya sudah terlambat. Bukan berarti saya mengabaikan takdir, tapi takdir tidak pernah bisa dijadikan alasan untuk membiarkan sistem yang lamban. Apalagi jika masalahnya bisa dipecahkan dengan kebijakan yang tepat.

Kenapa masalah ini begitu mendesak? Karena Kabupaten Lebak dengan luas ±3.305 km² dengan geografis pegunungan dan pesisir. Populasi penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa hanya dilayani oleh sejumlah kecil rumah sakit, yang sebagian besar terpusat di Rangkasbitung dan Malingping. Ketimpangan akses kesehatan inilah yang membuat banyak warga tidak terlayani dengan cepat terhadap layanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak mereka.

BACA JUGA:  Pertemuan Ketum Parpol Bahas RUU Pemilu Masih Tahap Awal

Namun di tengah segala keterbatasan itu, muncul solusi yang mulai menjangkau mereka yang berada di daerah terpencil itu yakni sebuah kebutuhan paling mendesak mendirikan rumah sakit umum tambahan khususnya Lebak bagian selatan, tengah, dan barat. Selain itu, percepatan pelayanan darurat, peningkatan tenaga kesehatan, dan pemerataan ambulans desa yang tentu jadi angin segar bagi warga di daerah terpencil.

Dari suara keresahan mereka (warga) yang hidup di daerah terpencil, yang harus berjuang dua kali melawan penyakit dan jarak. Sudah saatnya Pemda Lebak khususnya dinas terkait memastikan setiap warganya di daerah pelosok terpenuhi akses kesehatan yang layak dengan tenaga medis yang cukup.

Buruknya infrastruktur jalan menjadi salah satu faktor utama yang menghambat akses. Pada Mei 2025, jenazah seorang warga bahkan terpaksa ditandu sejauh 2 kilometer menuju rumah duka karena ambulans tidak dapat melintasi jalan desa yang rusak parah.

Dinas Kesehatan Lebak mencatat bahwa hingga Januari-Agustus 2024, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Lebak masih tinggi dan cenderung meningkat, dengan salah satu penyebabnya adalah minimnya akses ke pusat kabupaten untuk menuju Rumah Sakit yang memadai.

Penulis adalah aktivis perempuan Lebak.

Advertisement

Aktivis Desa Kesehatan
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Nasional

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Nasional

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Nasional

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version