GazanaPublika.com, Jekarta – Di sebuah persimpangan politik yang sunyi namun sarat makna, Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) memutuskan untuk menanggalkan identitas lamanya. Nama yang selama ini lekat dengan sosok Joko Widodo kini dilepas, diganti dengan bendera baru: Barisan Relawan Jalan Perubahan.
Pengumuman itu datang dari wilayah Sumatera Utara, menandai pergeseran arah yang bukan sekadar kosmetik organisasi, melainkan perubahan jalur perjuangan. Para anggotanya, satu per satu, diarahkan untuk melangkah ke dalam rumah politik yang sama: Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Momen tersebut dikaitkan langsung dengan pernyataan Presiden Joko Widodo dalam Kongres PSI di Solo. Di sana, dukungan Jokowi kepada partai itu menjadi semacam ‘tanda zaman’ bagi jejaring relawan yang selama ini berdiri di garis luar kekuasaan formal.
“Pada Kongres PSI di Solo, Bapak Jokowi telah menyatakan untuk mendukung PSI. Maka Bara JP dan organ relawan lainnya kita harapkan ikut bersama-sama memenangkan PSI,” ujar Plt Ketua DPW PSI Sumut, Sahat Martin Philip Sinurat, Jumat, 23 Januari 2026.
Keputusan ini berjalan beriringan dengan langkah PSI membuka pintu selebar-lebarnya bagi kader baru. Rekrutmen kepengurusan dimulai dari tingkat DPW, DPD, kecamatan, hingga ranting. Di ruang inilah para relawan yang dulu bergerak sebagai simpul dukungan kini dipersilakan bertransformasi menjadi bagian dari struktur partai.
Nada serupa disampaikan dari tubuh Bara JP sendiri. Sekretaris Bara JP Sumut, Juvinando Bertho Sinaga, menyebut instruksi telah disebar hingga ke daerah-daerah.
“Bara JP Sumut siap bergabung menjadi pengurus PSI, baik di DPW Sumut maupun DPD PSI Kota Medan,” tambah Juviando.
Perubahan nama, arah, dan rumah politik ini menandai sebuah fase baru bagi Bara JP. Dari gerakan relawan yang tumbuh di bawah bayang-bayang figur presiden, kini mereka melangkah ke arena partai, membawa semangat yang sama, tetapi dengan panggung yang sepenuhnya berbeda. Di titik inilah ‘jalan perubahan’ yang mereka gaungkan diuji: apakah mampu menjelma dari slogan menjadi peran nyata dalam peta politik nasional.
