Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Presiden Jokowi Pertanyakan Harga Obat dan Alkes Mahal ke Menkes

Presiden Jokowi Pertanyakan Harga Obat dan Alkes Mahal ke Menkes

Nasional Rabu, 3 Juli 2024 11:13 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Presiden Joko Widodo dan Menkes Budi Gunadi Sadikin (Sumber: tribunews.com)

Advertisement

GazanaPublika.com –  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kekhawatiran Presiden Joko Widodo terkait tingginya harga obat dan alat kesehatan (alkes) di dalam negeri yang tidak sebanding dengan kemajuan industri farmasi. Usai bertemu dengan Presiden Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (2/7/2024), Budi menjelaskan beberapa penyebab utama yang mendasari masalah ini.

Budi mengungkapkan bahwa sebelumnya Presiden Jokowi bertanya mengapa harga obat dan alkes di Indonesia lebih mahal dibandingkan negara-negara tetangga, sementara industri farmasi dalam negeri tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan. “Dia (Presiden Jokowi) ingin harga alat kesehatan dan obat-obatan itu bisa sama dengan negara-negara tetangga. Kan kita harga alat kesehatan dan obat-obatan mahal. Kenapa harga obat dan alkes tinggi, yang kedua kok industrinya enggak maju-maju,” ungkap Budi.

Advertisement

Budi menjawab bahwa masalah utama kemungkinan disebabkan oleh inefisiensi jalur perdagangan dan tata kelola yang menyebabkan peningkatan harga tidak beralasan. Selain itu, kebijakan perpajakan yang tidak berpihak pada industri dalam negeri turut berkontribusi. Sebagai contoh, pemerintah tidak mengenakan bea masuk untuk impor barang jadi alat kesehatan seperti USG, tetapi mengenakan bea masuk 15 persen jika mengimpor bahan baku untuk dirakit di dalam negeri.

BACA JUGA:  Bongkar Dugaan Korupsi Besar di PLN, Asabri, dan Krakatau Steel: Penemuan Brankas Raksasa

“Ini kan ada inkonsistensi. Di satu sisi kita ingin dorong industri ini supaya produksi dalam negeri, tapi di sisi lain supporting insentifnya atau insentifnya enggak line (satu garis lurus),” jelas Budi. Untuk mengatasi masalah ini, Budi berencana berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Dalam dua minggu ke depan, Budi akan melaporkan kepada Presiden mengenai formulasi kebijakan agar harga obat dan alkes jauh lebih murah di dalam negeri. Salah satu langkah yang direncanakan adalah memberikan insentif bea masuk kepada pabrik pengimpor bahan baku obat dan alat kesehatan, terutama ketika Kementerian Kesehatan berencana menyebarkan cath lab ke pelayanan kesehatan di semua kabupaten/kota.

BACA JUGA:  Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Didakwa Terima Suap Rp203 Miliar, Modus Pembayaran Jasa Hukum

“Ingin dong kalau bisa pabrik cath lab dari GE atau dari China bisa masuk. Gimana kita memberikan insentif agar pabrik-pabrik ini bisa masuk karena ada rencana pembelian pemerintah. Koordinasi ini yang tadi Bapak Presiden minta coba dirapikan, nanti kan ada Pak Luhut di (rapat) sana dua minggu,” jelas Budi.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan harga obat dan alat kesehatan di Indonesia bisa lebih terjangkau, serta mendorong kemajuan industri farmasi dalam negeri. Presiden Jokowi berharap kebijakan yang lebih efisien dan mendukung produksi dalam negeri dapat segera diterapkan, sehingga dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Sumber: kompas.com

Advertisement

Joko Widodo Obat
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Berita Utama

KPK Tetapkan Sejumlah Tersangka Terkait OTT di BNPB

Nasional

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Nasional

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Nasional

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

BERITA TERBARU

Gerakan Sembilan Desak Pemkab Lebak Tutup Batching Plant PT BCL dan PT Alin

Pemerintah Azerbaijan Larang Hijab di Sekolah, Gelombang Protes Pecah

KPK Tetapkan Sejumlah Tersangka Terkait OTT di BNPB

Lari dari Proses Hukum, Kakak Ipar Pemerkosa Adik di Binuang Serang Jadi Buronan Polisi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version