Advertisement
GazanaPublika.com – Jakarta – Setelah video polisi bersalaman dengan sekelompok orang yang diduga preman pembubaran diskusi kebangsaan di Kemang, Jakarta Selatan, menjadi viral, Polda Metro Jaya bertindak dengan menangkap lima orang yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. Dari lima orang yang ditangkap, dua di antaranya telah resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Kejadian yang terjadi tersebut (28/9/2024) ini sebelumnya memicu kemarahan publik, terutama setelah beredarnya video yang menunjukkan preman dan polisi tampak berinteraksi tanpa adanya tindakan pencegahan dari aparat. Kritik keras pun datang dari berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh yang hadir dalam diskusi tersebut.
Advertisement
Sorotan Terhadap Pelaku Berambut Kuncir
Pakar hukum tata negara, Refly Harun, yang juga hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, memberikan kritik tajam terhadap lambannya tindakan polisi dalam menangani kasus ini. Refly menyoroti salah satu pelaku pembubaran, siapa sebenarnya seorang pria berambut kuncir, yang belakangan diketahui pernah terlihat hadir dalam sebuah acara partai politik.
“Akan tetapi, kita lihat si rambut kuncir ternyata hadir dalam sebuah kegiatan partai politik. Kita enggak ngerti, ya, kok dia bisa ada di sana? Artinya, ini bukan preman sembarangan,” kata Refly dalam siarannya di YouTube pada 30 September 2024. Pernyataan ini memicu spekulasi lebih lanjut mengenai keterkaitan pelaku dengan kekuatan politik tertentu.
Meski begitu, Refly dengan tegas menyatakan bahwa hal ini tidak berarti partai politik tersebut terlibat langsung dalam insiden pembubaran diskusi. Namun, menurutnya, keterlibatan pelaku dalam acara partai politik menunjukkan bahwa dia bukanlah sosok sembarangan. “Kita tidak mengatakan bahwa partai politik tersebut terlibat, tetapi berarti orang ini bukan orang sembarangan karena bisa hadir dalam kegiatan partai politik seperti itu,” lanjut Refly.
Refly juga mengkritik sikap aparat yang dinilai lambat dalam menangani kasus ini. Ia menyebut bahwa seharusnya pihak kepolisian lebih cepat dalam mengusut tuntas siapa dalang di balik pembubaran tersebut. Ia membandingkan penanganan kasus ini dengan kasus-kasus yang melibatkan “pembesar”.
“Kita jangan giliran dengan pembesar, tiba-tiba banyak sekali ininya, bak bik buknya, tetapi dengan orang kecil, cepat sekali main tangkapnya. Jadi, kita harus lihat tuh, karena ini kejahatan demokrasi, tidak hanya soal tindak pidana biasa,” ujar Refly.
Menurutnya, pembubaran diskusi ini merupakan tindakan yang tidak bisa dianggap sebagai tindak pidana biasa, tetapi lebih sebagai bentuk serangan terhadap demokrasi yang terencana. Ia menyatakan bahwa pembubaran diskusi yang dilakukan di tempat tertutup adalah hal yang tidak seharusnya terjadi, bahkan lebih mengkhawatirkan dari sekadar tindakan perusakan.
“Bayangkan, orang mau berdiskusi di tempat tertutup, tetapi malah dibubarkan. Orang yang unjuk rasa di jalan saja tidak boleh dibubarkan tanpa alasan yang jelas, apalagi ini di dalam ruangan tertutup. Ini sangat memprihatinkan,” kata Refly. Ia menambahkan bahwa tidak mengherankan jika spekulasi mengenai keterlibatan pihak-pihak tertentu semakin menguat.
Kronologi Pembubaran Diskusi Kebangsaan di Kemang
Refly Harun, yang hadir dalam diskusi Forum Tanah Air (FTA) di Hotel Grand Kemang pada Sabtu, 28 September 2024, menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Menurutnya, ia tiba di lokasi acara sekitar pukul 09.00 WIB dan diskusi dijadwalkan dimulai pukul 10.30 WIB, setelah proses registrasi peserta selesai.
Namun, tepat sebelum diskusi dimulai, sekitar pukul 10.30 WIB, sekelompok orang tiba-tiba menyerbu ruangan dan memaksa acara dihentikan. “Mereka masuk ke ruangan sambil berteriak, ‘Bubar! Bubar! Bubar!’ Lalu mereka merusak fasilitas di dalam ruangan,” ungkap Refly.
Menurutnya, aksi perusakan dilakukan oleh sekitar sepuluh orang yang segera keluar setelah melakukan kerusakan. Para pelaku meninggalkan ruangan dengan cepat, tanpa ada perlawanan fisik dari pihak peserta diskusi.
Setelah insiden perusakan, para pelaku tampaknya masih melakukan tindakan intimidasi di luar ruangan, seperti yang terlihat dalam video viral. Salah satu pelaku bahkan terdengar menyatakan bahwa mereka bertindak berdasarkan “perintah atasan”, memperkuat spekulasi bahwa pembubaran tersebut sudah direncanakan dan bukan aksi spontan.
Meskipun terjadi pembubaran dan perusakan, para peserta diskusi memilih untuk melanjutkan acara dengan mengadakan konferensi pers yang dihadiri oleh beberapa tokoh, termasuk Din Syamsuddin. Beberapa sesi acara tetap berlangsung, seperti promosi buku oleh salah satu peserta serta pernyataan dari perwakilan daerah, termasuk dari Yogyakarta dan Sumatera Selatan.
Namun, saat perwakilan dari Sumatera Selatan sedang berbicara, pihak hotel datang menyampaikan ancaman dari massa di luar bahwa acara harus dihentikan. Mereka juga meminta bukti dalam bentuk foto atau video bahwa acara benar-benar telah dibubarkan, untuk menenangkan massa yang berada di luar hotel.
Pada akhirnya, acara tidak dapat dilanjutkan karena situasi di luar semakin tidak kondusif. “Peserta satu per satu akhirnya pulang tanpa koordinasi lebih lanjut, meskipun beberapa orang tetap bertahan hingga acara benar-benar dihentikan,” ungkap Refly.
Advertisement
