Advertisement
GazanaPublika.com. Jakarta – Memasuki 100 hari pertama kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Lingkaran Survei Indonesia Denny JA (LSI Denny JA) merilis hasil analisis mereka yang menunjukkan sebagian besar kebijakan pemerintah menuai sentimen positif dari publik. Meskipun demikian, kritik tajam muncul terhadap salah satu isu, yakni wacana perubahan sistem Pilkada melalui DPRD.
Pendiri LSI Denny JA, Denny Januar Ali, menjelaskan bahwa selama tiga bulan pertama, penampilan Prabowo di forum internasional, tanggapannya terhadap berbagai isu, serta sikap tegasnya terhadap korupsi telah berhasil meningkatkan optimisme masyarakat. Menurut Denny, secara keseluruhan publik memiliki pandangan yang positif terhadap arah kepemimpinan Prabowo. Namun, isu Pilkada menjadi perhatian khusus karena menimbulkan reaksi negatif yang signifikan.
Advertisement
Dalam analisisnya, LSI Denny JA mengkaji delapan program utama yang menjadi fokus pemerintah di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosial. Tujuh dari delapan program tersebut mendapatkan dukungan mayoritas dari masyarakat. Salah satu program yang diapresiasi adalah perbaikan gizi bagi ibu hamil dan menyusui, meskipun distribusi di daerah terpencil masih menjadi tantangan. Selain itu, program swasembada pangan dengan rencana mencetak sawah 4 juta hektar juga mendapat sambutan positif, meski publik tetap skeptis terhadap efisiensi anggaran.
Program lain yang diapresiasi adalah alokasi anggaran besar untuk kesejahteraan guru dan rehabilitasi sekolah. Dukungan masyarakat terhadap program ini sangat tinggi, terutama dari sektor pendidikan. Di sisi ekonomi, transisi menuju energi hijau dan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen juga menarik perhatian publik, meskipun sebagian masyarakat menganggap target tersebut terlalu ambisius.
Program penurunan prevalensi stunting dengan makanan bergizi berbasis pangan lokal juga diapresiasi, meski distribusinya masih perlu diperbaiki. Pemerintah juga menuai pujian atas rencana penyediaan 3 juta rumah, termasuk 2 juta rumah untuk masyarakat pedesaan, serta kenaikan upah minimum nasional sebesar 6,5 persen. Namun, setiap program tetap menghadapi tantangan, seperti pendanaan dan distribusi yang merata.
Satu-satunya program yang mendapatkan kritik dominan adalah wacana Pilkada melalui DPRD. Sentimen publik terhadap isu ini mayoritas negatif, dengan banyak pihak khawatir langkah tersebut dapat melemahkan demokrasi dan meningkatkan risiko korupsi. Menurut Denny, wacana ini dianggap bertentangan dengan semangat reformasi dan berpotensi menciptakan praktik politik uang yang lebih besar.
Secara keseluruhan, LSI Denny JA menilai bahwa 100 hari pertama pemerintahan Prabowo Subianto memberikan optimisme kepada publik, terutama melalui program-program yang menyasar kesejahteraan masyarakat. Namun, isu sensitif seperti sistem Pilkada memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati agar tidak menimbulkan resistensi di tengah masyarakat.
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia Denny JA (LSI Denny JA), Denny Januar Ali, menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto mengutamakan pelaksanaan program-program yang telah mendapatkan dukungan positif dari masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya transparansi serta pengawasan yang kuat dalam menjalankan kebijakan untuk mencegah penyimpangan.
Denny menyoroti isu Pilkada melalui DPRD yang dinilainya bisa menjadi langkah keliru bagi pemerintahan Prabowo. Menurutnya, sistem politik Indonesia yang presidensial tidak sejalan dengan konsep parlementer seperti yang diterapkan di India, Singapura, atau Malaysia.
“Pada tahun 2014, upaya serupa untuk mengubah mekanisme Pilkada agar dipilih DPRD pernah dilakukan, namun dibatalkan oleh Presiden SBY setelah mendapat penolakan luas. Survei saat itu menunjukkan lebih dari 80 persen rakyat menolak hak pilih langsung mereka dicabut,” ujar Denny.
Ia memperingatkan bahwa pengusungan isu ini dapat berisiko merosotnya dukungan publik terhadap Prabowo. Menurutnya, harga politik yang harus dibayar terlalu mahal jika kebijakan ini tetap diupayakan.
“Rakyat bisa dengan mudah membalikkan dukungannya. Untuk mewujudkan program-program besar di tahun pertama, Prabowo membutuhkan dukungan publik yang kuat. Jika berhasil menghindari kebijakan yang bertentangan dengan semangat reformasi, Prabowo berpotensi dikenang sekelas dengan pemimpin besar Asia seperti Mahathir Mohamad, Deng Xiaoping, dan Lee Kuan Yew,” kata Denny.
Riset LSI Denny JA didasarkan pada analisis isi komputasional menggunakan aplikasi LSI INTERNET, sebuah alat yang dirancang untuk menggali opini publik di ruang digital. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan, dari 20 November hingga 20 Desember 2024, dengan mengumpulkan data dari berbagai platform digital, seperti media sosial (Twitter, TikTok, Facebook), media online (portal berita, blog, video), forum diskusi, hingga podcast.
Pendekatan ini mampu mendeteksi topik utama dan sentimen publik berdasarkan kata kunci yang relevan. Analisis sentimen dibagi menjadi dua kategori, yaitu sentimen positif dan negatif, tanpa menyertakan opini netral.
Hasil riset juga dilengkapi dengan analisis kualitatif melalui pendapat para ahli. Dengan metode ini, LSI Denny JA berharap memberikan gambaran yang lebih komprehensif terhadap opini masyarakat terkait program-program pemerintahan Prabowo Subianto.
Sumber: liputan6.com
Advertisement
