Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Bonnie Triyana Kritik Dedi Mulyadi: Barak Militer Bukan Solusi untuk Siswa Bermasalah

Bonnie Triyana Kritik Dedi Mulyadi: Barak Militer Bukan Solusi untuk Siswa Bermasalah

Nasional Rabu, 30 April 2025 23:42 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Jakarts — Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menyoroti tajam rencana kontroversial yang dilontarkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, soal pengiriman siswa bermasalah ke barak militer. Dalam pandangan Bonnie, langkah tersebut bukan hanya terburu-buru, namun juga berisiko mengabaikan akar persoalan yang lebih kompleks dalam dunia pendidikan.

“Apakah setiap persoalan anak-anak harus dijawab dengan pendekatan militer?” Bonnie mempertanyakan dengan nada kritis dalam pernyataan tertulis yang dikirimkan kepada redaksi pada Rabu (30/4/2025). Politikus PDI-P itu menegaskan, tentara bukan solusi universal untuk segala permasalahan, apalagi dalam urusan kenakalan siswa yang menyangkut dinamika psikologis dan sosial yang jauh lebih dalam.

Advertisement

Rencana Dedi Mulyadi itu memang mengundang sorotan. Dalam program yang digagasnya, siswa yang dinilai bermasalah akan “disekolahkan” di barak militer—tempat yang konon akan menjadi ruang pembinaan karakter bagi remaja yang sulit dikendalikan, terlibat pergaulan bebas, atau bahkan mulai menyentuh ranah kriminal. Program ini, menurut sang gubernur, akan dimulai pada 2 Mei 2025 di beberapa wilayah rawan di Jawa Barat, dan didukung penuh oleh TNI dan Polri.

Namun Bonnie melihat hal itu justru sebagai pendekatan instan yang cenderung menutup mata terhadap kompleksitas kehidupan remaja masa kini.

BACA JUGA:  Kasus Dugaan Suap Bea Cukai PT Blueray Cargo: KPK Dalami Fakta Sidang, Hotman Paris Tantang Pembuktian Keterlibatan Raffi Ahmad

“Penguatan karakter tidak bisa direduksi hanya ke metode militeristik,” ujar Bonnie. Ia menambahkan bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, pengalaman, dan kondisi emosional yang unik. Oleh sebab itu, pendekatan yang digunakan pun harus bersifat holistik, bukan semata-mata mengandalkan disiplin ketat ala barak.
Menurutnya, dalam banyak kasus, siswa bermasalah justru adalah korban dari situasi sosial yang lebih besar—entah itu kurangnya perhatian dari keluarga, tekanan lingkungan, atau luka batin masa kecil (inner child) yang belum pernah dipulihkan.
“Kalau kita pukul rata dan bawa semua ke barak, yang terjadi bisa jadi malah trauma baru. Bukan perubahan karakter,” tegas sejarawan yang juga dikenal sebagai pegiat pendidikan ini.

Bonnie mendorong agar pemerintah daerah dan sekolah-sekolah lebih kreatif dalam menghadirkan solusi. Ia menyarankan adanya pendekatan berbasis minat dan bakat siswa. Remaja, kata dia, harus diberi ruang untuk mengekspresikan dirinya secara positif—baik melalui olahraga, seni, musik, atau kegiatan produktif lainnya.
“Fasilitas olahraga dan kesenian harusnya ditingkatkan. Daripada membawa anak-anak ini ke barak, kenapa tidak kita bangun ruang bagi mereka untuk berkembang di bidang yang mereka cintai?” cetusnya.
Ia juga menegaskan bahwa pendekatan psikologis dan konseling personal jauh lebih tepat untuk menangani siswa yang menunjukkan perilaku menyimpang. Langkah-langkah itu, katanya, lebih menghargai martabat anak dan tidak menyamaratakan semua masalah dengan satu solusi keras.

BACA JUGA:  BGN Tegaskan Kabar Penghentian Sementara Program Makan Bergizi Gratis Adalah Hoaks

“Tidak semua siswa yang sulit dibina itu nakal. Bisa jadi mereka cuma butuh didengar, diperhatikan, atau diarahkan dengan empati,” ungkap Bonnie.
Sementara itu, Dedi Mulyadi tetap bersikukuh bahwa program ini merupakan upaya menciptakan pendidikan karakter yang lebih tegas. Ia mengatakan, pelatihan di barak militer akan dilangsungkan selama enam bulan, dengan mekanisme seleksi yang melibatkan kesepakatan antara pihak sekolah dan orang tua siswa.

Sekitar 30 hingga 40 barak khusus telah disiapkan oleh pihak TNI sebagai lokasi pelatihan. Para peserta akan diawasi langsung oleh anggota TNI dan Polri, dengan kurikulum yang menekankan kedisiplinan dan keteraturan sebagai fondasi perubahan perilaku.

Namun pertanyaan besar masih menggantung: Apakah disiplin militer benar-benar bisa menggantikan pendekatan kasih sayang, pemahaman psikologis, dan pendidikan yang membebaskan?
Dalam polemik ini, Bonnie Triyana mewakili suara yang menyerukan agar dunia pendidikan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kepekaan sosial, alih-alih mengadopsi pendekatan kekerasan yang bisa menyisakan luka baru di masa depan para siswa.

Advertisement

Dedi Mulyadi
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Haidar Widodo Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Pisau Bermata Dua

Nasional

Ahok Khawatir UU Perampasan Aset Disalahgunakan

Nasional

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Berita Utama

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

BERITA TERBARU

Gerakan 9 Bersama AMPP Gelar Aksi, Soroti Dugaan Buruknya Kualitas Jalan Program Bang Andra di Lebak Selatan

Kasus Uun Berujung Restorative Justice, Ada Apa?

Haidar Widodo Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Pisau Bermata Dua

Ahok Khawatir UU Perampasan Aset Disalahgunakan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.