Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Proklamasi Kemerdekaan, Apakah Hadiah Jepang?

Proklamasi Kemerdekaan, Apakah Hadiah Jepang?

Opini Sabtu, 17 Agustus 2024 19:41 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Budiana Irmawan (Penulis)

Advertisement

Penulis: Budiana Irmawan

GazanaPublika.com – Pada tanggal 7 September 1944 Perdana Menteri Jepang Jenderal Koiso Kuniaki mengumumkan di depan parlemen Jepang bahwa kemerdekaan Indonesia akan diakui di kelak kemudian hari.

Advertisement

Perubahan sikap pemerintahan militer Jepang disambut hangat para pemimpin nasionalis, kendati janji kemerdekaan di kelak kemudian hari itu tanpa kejelasan waktu yang pasti.

Jepang sebelumnya selalu menghindari pembicaraan tentang kemerdekaan, bahkan 20 Maret 1942 membubarkan semua organisasi kepemudaan, melarang Bendera Merah-Putih dikibarkan, dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan yang meruntuhkan keyakinan Jepang membawa kebebasan dari cengkraman kolonialisme.

Propaganda Tiga A: Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia hanya omong kosong.

Pada masa pendudukan Jepang kaum pergerakan menghadapi situasi sulit. Di dalam kelompok-kelompok pemuda saling mencurigai, karena Kenpetai atau agen polisi rahasia Jepang menyusup dan setiap saat bisa menangkap jika diketahui anti-Jepang.

Selain Asrama Prapatan 10, Asrama Menteng 31, dan Asrama Baperpi Cikini 71 menjadi pusat kegiatan kaum pergerakan ada golongan pemuda yang dipimpin Sutan Sjahrir.

Sutan Sjahrir menghimpun pemuda menggunakan jaringan partai Pendidikan Nasional Indonesia. Keberadaannya lebih luas ada di berbagai daerah dengan tokoh-tokoh terdidik dan militan.

Peneliti barat, seperti Ben Anderson menganggap remeh gerakan bawah tanah kelompok Sjahrir, dan membandingkannya dengan gerakan bawah tanah di negara lain.

Sutan Sjahrir memang mengutamakan pendidikan politik daripada demagogi. Informasi dari radio menjadi bahan diskusi dalam mempersiapkan diri menghadapi kemerdekaan ketika Jepang menyerah.
Pada masa sekarang mendengarkan radio terasa tidak heroik, tetapi ketika pendudukan militer Jepang diancam hukuman mati. Keberanian Sjahrir mendengarkan radio gelap milik Sekutu justru membuatnya lebih awal mengetahui potensi kekalahan Jepang.

BACA JUGA:  Kritik dan Dialektika Kebijakan Alokasi Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026

Sikap Sutan Sjahrir disepakati golongan pemuda lainnya. Menggantungkan kemerdekaan kepada janji Jepang sama artinya kemerdekaan kita dicap hadiah Jepang. Di tengah situasi itu pihak Sekutu yang menang perang punya legitimasi kembali menganeksasi kita dengan alasan menangkap para kolaborator Jepang.

Desakan golongan pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang ditolak Soekarno. Ia lebih mempercayai propaganda Jepang, dan meragukan informasi Sjahrir bahwa Jepang akan kalah dalam Perang Dunia ke-2.

Pertengahan bulan Juli 1945 Panglima Daerah Selatan Marsekal Terauchi di Saigon diperintahkan segera melakukan persiapan kemerdekaan kepada bekas jajahan Belanda. Mendapatkan informasi tersebut, pada tanggal 9 Agustus 1945 Soekarno, Mohamad Hatta dan Dr. Radjiman pergi ke Saigon menemui Marsekal Terauchi. Padahal 6 Agustus 1945 Jepang sudah luluh lantak oleh bom atom Sekutu. Kemudian 11 Agustus 1945 Soekarno dan Mohamad Hatta dilantik sebagai Ketua dan Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dan 14 Agustus 1945 rombongan Soekarno tiba di Jakarta dari Saigon.

15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Melihat perkembangan berakhirnya perang, golongan pemuda memutuskan hari ini juga proklamasi kemerdekaan harus diumumkan. “Bahkan jika Soekarno tidak mau, kita saja yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia”. Ujar golongan pemuda.

Tetapi, Sutan Sjahrir menjawab bahwa hal itu tidak mungkin, Soekarno satu-satunya pemimpin yang mempunyai pengaruh kepada rakyat. Keadaan dilematis bagi golongan pemuda. Proklamasi jangan melalui PPKI buatan Jepang, namun Soekarno sendiri masih percaya kepada Jepang.

BACA JUGA:  Piramida Ekonomi: Menjaga Stabilitas Melalui Kesejahteraan Mandiri Kelas Bawah dan Penguatan Kelas Menengah

Golongan pemuda ditambah agitasi Sukarni tokoh PETA yang mengglorifikasi semangat rakyat yang mengebu-gebu mendasari kesimpulan menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok untuk mendorong segera memproklamasikan kemerdekaan.

Sementara di Jakarta Sutan Sjahrir telah mempersiapkan naskah proklamasi, dengan perkiraan akan dibacakan pada tanggal 15 Agustus 1945. Naskah yang dibuat Sjahrir itu disebar kepada jaringan di berbagai daerah. Namun 15 Agustus 1945 tidak jadi proklamasi, maka terpaksa diberi tahu proklamasi belum berhasil. Tetapi, jaringan Cirebon terlambat mendapatkan pemberitahuan. Dr. Soedarsono tetap menyelenggarakan upaca proklamasi kemerdekaan di Cirebon dengan membacakan naskah Proklamasi yang diterimanya dari Sutan Sjahrir sebelum tanggal 17 Agustus 1945.

Aboe Bakar Loebis pengikut Sjahrir menceritakan, mengetahui Soekarno dan Hatta tidak ada di Jakarta. Mr Soebardjo dan Nishijima pejabat Kaigun Bukanfu berhasil membujuk Wikana memberitahukan keberadaan Soekarno-Hatta yang dibawa golongan pemuda. Malam hari sekitar pukul 21.00 WIB Tanggal 16 Agustus 1945 Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta.

Dan besoknya tanggal 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Meida dibacakan teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan naskah sangat pendek dan kering. Pelaksanaan Proklamasi kemerdekaan Indonesia lebih cepat dari rencana PPKI tanggal 24 September 1945.

Sejak itu pula resmi berdiri sebuah negara yang bernama Republik Indonesia. Langkah berikutnya meyakinkan dunia internasional atas kedaulatan republik…

Penulis : Koordinator Jaringan Kerja Sosialis Kerakyatan

Advertisement

Kemerdekaan
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.