Advertisement
Penulis: Lukman Nurhakim
GazanaPublika.com – Konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah Israel menyerang Lebanon dan menewaskan pemimpin Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, serta seorang Jenderal Iran di Beirut. Pada 1 Oktober 2024, Iran membalas dengan meluncurkan rudal-rudal hipersonik dalam operasi *True Promise II*, yang berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel seperti *Iron Dome*, *Arrow I dan II*, serta *David’s Sling*. Serangan ini mengenai target-target penting militer IDF dengan presisi tinggi.
Advertisement
Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, apakah Israel akan segera melancarkan serangan balasan? Selama ini, Israel selalu didukung secara penuh oleh Amerika Serikat, bahkan sering kali memprovokasi AS untuk campur tangan secara langsung dalam konflik dengan Iran dan kelompok proksinya. Meski begitu, AS belum menunjukkan tanda-tanda keterlibatan militer langsung, mengingat intervensi di Timur Tengah dapat mengganggu kepentingan strategis mereka. Selain itu, konflik AS dan sekutunya dengan Houthi di Laut Merah sudah cukup menyulitkan, dan belum ada keberhasilan signifikan dalam menangani ancaman dari kelompok tersebut. Houthi terus menargetkan kapal-kapal niaga yang melintasi jalur menuju dan dari Israel.
Di sisi lain, Iran juga mengancam akan melakukan serangan lebih kuat terhadap Israel, tidak hanya menargetkan instalasi militer tetapi juga infrastruktur sipil, yang dianggap sebagai target sah. Kekhawatiran global meningkat, karena eskalasi ini bisa berdampak luas.
Jika Israel melanjutkan serangan balasannya, seperti yang dinyatakan oleh PM Netanyahu, kemungkinan besar mereka akan menargetkan instalasi militer dan sumber ekonomi Iran, seperti ladang minyak dan kilang-kilang. Ini bertujuan untuk menekan ekonomi Iran yang sudah terpuruk akibat sanksi AS. Meski begitu, Iran masih menjadi negara penghasil minyak terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi dan mampu menjual minyaknya melalui mekanisme khusus yang kompleks. Jika serangan terhadap infrastruktur energi Iran terjadi, rantai pasokan minyak dunia (*global supply chain*) akan terganggu dan harga minyak global bisa melonjak drastis.
Beberapa kelompok proksi Iran, seperti Perlawanan Islam Irak, juga mengancam negara-negara Arab di sekitar Teluk yang mendukung Israel. Mereka menegaskan bahwa tidak akan ada setetes minyak yang keluar dari wilayah tersebut jika mereka ikut terlibat. Dampaknya, negara-negara Eropa bisa menghadapi krisis energi yang parah.
Situasi ini tentu akan mempengaruhi perekonomian dunia, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Masyarakat harus bersiap jika subsidi bahan bakar yang dinikmati saat ini akan dikurangi atau bahkan dicabut oleh pemerintahan baru Prabowo-Gibran.
Penulis adslah Praktisi trade energi
Advertisement
