Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Keunikan Kitab al-Awamil Mandaya

Keunikan Kitab al-Awamil Mandaya

Opini Minggu, 15 Desember 2024 0:25 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Iyang Bahtiar

GazanaPublika.com – Kalangan pesantren mayoritas di wilayah Banten khususnya, pada umumnya sejagat Nusantara, para santri tidak asing lagi mendengar dan mengkaji kitab al-Awamil Mandaya. Kitab tersebut karangan yang ditulis oleh ulama asal Serang- Banten, yaitu Syekh Nawawi bin Muhammad Ali bin Ahmad bin Abu Bakar, atau yang masyhur dijuluki Syekh Nawawi Mandaya.

Advertisement

Apakah yang dimaksud Syekh Nawawi Mandaya itu adalah Syekh Nawawi al-Bantani? Tentu bukan! Dua Nawawi tersebut sosok nama ulama yang berbeda, tapi dua-duanya asal Banten. Kalau Syekh Nawawi al-Bantani lahir di tanah Tanara, pada tahun 1230 hijriyah. Nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali bin Jamad bin Janta bin Masbuqil al-Bantani al-Jawi.

Adapun Syekh Nawawi Mandaya asli orang Desa Carenang kelahiran tahun 1847 Masehi atau 1295 Hijriyah. Sekaligus dimakamkan di Desa Mandaya, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pas sekali bertempat di lingkungan pesantren Bani Nawawi, beliau putra dari Syekh Muhammad Ali pengarang Kitab Murod Awamil.

Kitab ini, secara otomatis menjadi pegangan para santri pemula yang hendak mendalami salah satu aspek penting dari bahasa Arab, yaitu secara sintaksis atau yang booming di jagat raya, dengan sebutan ilmu Nahwu. Namun, ada hal yang menarik dan unik isi kandungan kitab tersebut, diantaranya menerangkan 100 Amil. Dan membawa hikmah dalam kandungan isi kitab.

BACA JUGA:  Menyingkap Rahasia di Balik Bakat: Bagaimana DNA Merancang Keahlian Manusia

Dalam 100 Amil, terbagi menjadi dua, pertama secara Amil Lafdziyah ada 98 Amil, kedua Amil Ma’nawiyah 2. Dari Lafdzi Sama’i terbagi 91 dan Qiyasi 7, adapun Ma’nawiyah tergolong 2, Ibtida 1 dan Tajarrud 1. Sedangkan Amil Lafdzi Sama’i ada yang dinamakan Huruf Jer 19, Inna Wa akhwatuha 6, Ma dan La 2, Huruf Nida 7.

Selanjutnya, Huruf Nasob 5, Huruf Jazm 5, Huruf Syarat 9, Isim Kinayah 4, Isim Fiil 9, Af’al Nawasikh 13, Af’al Muqorobah 4, Af’al Madhi dan Dzami 4. Hal keunikannya dari 100 Amil, apabila dihitung Amil Lafdzi Sama’i bukan 91, tetapi 92. Karena, huruf Mudz dan Mundzu itu dihitung menjadi satu, semacam Alfiyah Ibnu Malik masyhurnya 1000 beit, ternyata lebih 2 bait.

BACA JUGA:  Budiman Sudjatmiko dan Penanggulangan Kemiskinan (Refleksi Defisit Kesadaran)

Secara keunikan lainnya, bisa dikatakan kitab ibtida di kalangan santri. Namun, menariknya sampai menerangkan makna haqiqi dan majazi, padahal itu dibahasnya dalam ilmu Bayan dan Ma’ani. Hal ini, menjadi bukti walau hanya sekedar tipis dan kecil kitabnya, akan tetapi sangatlah besar isi kandungan pemahaman maknanya.

Mengambil analogi lain dari kitab awamil, seperti lafadz “I’lam”. “Perlu diketahui oleh bangsa Indonesia, bahwa sesungguhnya pengamalan didalam negara Indonesia, ada 100 pengamalan.” Yang mana secara amil lafdzi, yaitu, zhahir atau raga kita, pertama, harus ketuhanan yang maha Esa, kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga, persatuan Indonesia, keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dalam permusyawaratan dan perwakilan, kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pandangan makna amil ma’nawi atau disebut jiwa, pertama, harus bertauhid, kedua, meneladani akhlak baginda Nabi Muhammad SAW, ketiga, bersatunya seluruh komponen bangsa yang ada di Nusantara ini, keempat, para ulama dan umara selalu bermusyawarah, kelima, tegakan hukum secara syariat Agama maupun Negara, tidak pandang bulu tumpul ke atas, tajam kebawah.

Advertisement

Kajian Kitab
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

BERITA TERBARU

Kasus Uun Berujung Restorative Justice, Ada Apa?

Haidar Widodo Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Pisau Bermata Dua

Ahok Khawatir UU Perampasan Aset Disalahgunakan

Intelijen Ukraina Klaim 8 WNI Direkrut Jadi Tentara Bayaran Rusia

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.