Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Candi Preah Vihear, Warisan Hindu yang Menjadi Bara Api Peperangan di Perbatasan

Candi Preah Vihear, Warisan Hindu yang Menjadi Bara Api Peperangan di Perbatasan

Spesial Selasa, 29 Juli 2025 18:22 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Candi Preah Vihear (Khmer: ប្រាសាទព្រះវិហារ, Prasat Preah Vihear) adalah candi Khmer yang terletak di bukit setinggi 525 di Pegunungan Dângrêk,
Candi Preah Vihear (Khmer: ប្រាសាទព្រះវិហារ, Prasat Preah Vihear) adalah candi Khmer yang terletak di bukit setinggi 525 di Pegunungan Dângrêk,

Advertisement

GazanaPublika.com – Di puncak curam Pegunungan Dangrek, berdiri megah sebuah candi kuno yang dibangun berabad-abad silam untuk memuliakan Dewa Siwa. Candi itu bernama Preah Vihear, saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Khmer yang kini menjadi sumber ketegangan geopolitik di Asia Tenggara. Sebuah situs suci yang mestinya menjadi lambang peradaban dan spiritualitas justru berubah menjadi pemantik perang antara dua bangsa serumpun: Thailand dan Kamboja.

Candi Preah Vihear mulai dibangun pada abad ke-9 M, pada masa awal Kerajaan Khmer, dan diperluas pada masa Raja Suryavarman I dan II (abad ke-11 dan ke-12). Candi ini bukan hanya tempat pemujaan biasa; ia dirancang sebagai pusat ziarah spiritual di puncak dunia, menghadap ke dataran rendah Kamboja, seolah menghubungkan langit dan bumi.
Didedikasikan untuk Dewa Siwa, Candi Preah Vihear menampilkan gaya arsitektur khas Khmer dengan koridor panjang, tangga terjal, dan altar suci di puncaknya. Dalam sejarahnya, ia tidak pernah ditujukan untuk kekuasaan militer atau perdagangan. Namun takdir berkata lain.

Advertisement

Masalah muncul ketika Prancis, yang menguasai Indochina (termasuk Kamboja), dan Inggris, yang mendominasi Siam (sekarang Thailand), membuat perjanjian batas pada awal abad ke-20. Pada 1904, kedua kekuatan sepakat bahwa perbatasan akan mengikuti garis punggung pegunungan Dangrek. Namun, peta resmi yang kemudian dibuat oleh surveyor Prancis menunjukkan Candi Preah Vihear berada di sisi Kamboja, bukan di garis punggung pegunungan. Anehnya, pihak Siam tidak mengajukan protes saat itu.

Setelah Kamboja merdeka dari Prancis, sengketa mencuat. Thailand mengklaim bahwa candi berada di wilayahnya, karena berada di sisi lereng pegunungan yang lebih mudah diakses dari utara (wilayah Thailand). Kamboja membantah, dan membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional (ICJ).

1962: Putusan yang Menyulut Bara Nasionalisme

Pada tahun 1962, ICJ memutuskan bahwa Candi Preah Vihear adalah milik Kamboja, dengan dasar bahwa peta yang disepakati sebelumnya berlaku secara hukum. Thailand menerima keputusan itu secara resmi, tetapi rasa keberatan tetap hidup di kalangan nasionalis dan militer.

Selama beberapa dekade berikutnya, kawasan sekitar candi tetap tegang. Kedua negara menempatkan militer di area yang saling tumpang tindih, terutama karena tidak pernah ada demarkasi jelas terhadap zona di sekitar candi (sekitar 4,6 km²). Candi menjadi tempat sensitif—suci secara spiritual, namun rawan secara geopolitik.

2008: Pengakuan UNESCO, Pecahnya Bentrokan

Ketegangan memuncak ketika pada 2008, UNESCO mengakui Candi Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia di bawah nama Kamboja. Thailand marah. Pihaknya menilai pengakuan itu memberi keuntungan sepihak pada Kamboja dalam mengelola wilayah yang masih disengketakan.

Ribuan pasukan dikerahkan. Baku tembak pecah di sepanjang perbatasan. Bentrokan bersenjata terjadi antara 2008–2011, menewaskan sejumlah tentara dari kedua pihak dan memaksa ribuan warga sipil mengungsi..

Dinding kuno candi pun terkena dampaknya. Granat dan mortir merusak sebagian situs warisan budaya itu. Dunia mengecam. Namun nasionalisme kedua negara sudah telanjur menyulut api konflik.

2011: Kamboja Kembali ke Mahkamah Internasional

Untuk menghindari eskalasi lebih lanjut, Kamboja kembali mengajukan permintaan interpretasi ulang putusan ICJ tahun 1962. Mereka menuntut kejelasan bukan hanya atas candi, tetapi juga wilayah di sekitarnya yang menjadi zona sengketa militer.

2013: Putusan Final

Pada November 2013, ICJ mengeluarkan putusan tambahan yang menyatakan bahwa:

“Seluruh area di mana candi itu berdiri dan tanah di sekitarnya adalah milik Kamboja. Thailand harus menarik seluruh pasukannya dari wilayah tersebut.”

Putusan ini mengakhiri babak formal dari sengketa hukum internasional. Thailand menyatakan akan mematuhi keputusan, namun ketegangan militer masih terus dirasakan di lapangan hingga beberapa tahun berikutnya.

Refleksi: Ketika Warisan Jadi Sengketa
Candi Preah Vihear bukanlah sekadar reruntuhan batu kuno. Ia adalah simbol kebesaran budaya Hindu di Asia Tenggara, tempat meditasi dan persembahan untuk Dewa Siwa. Namun, ketika peradaban berubah dan batas-batas negara menjadi identitas politik, situs suci ini terseret menjadi sumber konflik nasionalisme, hukum internasional, dan militerisasi.

Ironisnya, sebuah situs spiritual yang dibangun untuk menyatukan manusia dengan yang Ilahi, justru menjadi penyebab terjadinya pertumpahan darah di zaman modern.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Berita Utama

Wacana Pilkada Lewat DPRD Menguat, 5 Partai Dukung

Spesial

KUHP Baru: Nikah Siri, Ada Ancaman Pidana

Spesial

Di Cina, Alat Kontrasepsi Kena Pajak, Penitipan Anak Bebas PPN

Spesial

Gemar Konsumsi Jajanan Manis, Perempuan Surabaya Alami Diabetes LADA di Usia Muda

BERITA TERBARU

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Febi Pirmansyah Kritik Pernyataan Cak Imin soal NU: Jangan Salahkan Organisasi, Lihat Rekam Jejak Sendiri

Aksi Gerakan 9 di Malingping Diwarnai Bentrokan, Mahasiswa Desak Pemeriksaan Proyek Jalan Cikeusik–Simpang Cijaku

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.