Advertisement
GazanaPublika.com – Di puncak curam Pegunungan Dangrek, berdiri megah sebuah candi kuno yang dibangun berabad-abad silam untuk memuliakan Dewa Siwa. Candi itu bernama Preah Vihear, saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Khmer yang kini menjadi sumber ketegangan geopolitik di Asia Tenggara. Sebuah situs suci yang mestinya menjadi lambang peradaban dan spiritualitas justru berubah menjadi pemantik perang antara dua bangsa serumpun: Thailand dan Kamboja.
Candi Preah Vihear mulai dibangun pada abad ke-9 M, pada masa awal Kerajaan Khmer, dan diperluas pada masa Raja Suryavarman I dan II (abad ke-11 dan ke-12). Candi ini bukan hanya tempat pemujaan biasa; ia dirancang sebagai pusat ziarah spiritual di puncak dunia, menghadap ke dataran rendah Kamboja, seolah menghubungkan langit dan bumi.
Didedikasikan untuk Dewa Siwa, Candi Preah Vihear menampilkan gaya arsitektur khas Khmer dengan koridor panjang, tangga terjal, dan altar suci di puncaknya. Dalam sejarahnya, ia tidak pernah ditujukan untuk kekuasaan militer atau perdagangan. Namun takdir berkata lain.
Advertisement
Masalah muncul ketika Prancis, yang menguasai Indochina (termasuk Kamboja), dan Inggris, yang mendominasi Siam (sekarang Thailand), membuat perjanjian batas pada awal abad ke-20. Pada 1904, kedua kekuatan sepakat bahwa perbatasan akan mengikuti garis punggung pegunungan Dangrek. Namun, peta resmi yang kemudian dibuat oleh surveyor Prancis menunjukkan Candi Preah Vihear berada di sisi Kamboja, bukan di garis punggung pegunungan. Anehnya, pihak Siam tidak mengajukan protes saat itu.
Setelah Kamboja merdeka dari Prancis, sengketa mencuat. Thailand mengklaim bahwa candi berada di wilayahnya, karena berada di sisi lereng pegunungan yang lebih mudah diakses dari utara (wilayah Thailand). Kamboja membantah, dan membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional (ICJ).
1962: Putusan yang Menyulut Bara Nasionalisme
Pada tahun 1962, ICJ memutuskan bahwa Candi Preah Vihear adalah milik Kamboja, dengan dasar bahwa peta yang disepakati sebelumnya berlaku secara hukum. Thailand menerima keputusan itu secara resmi, tetapi rasa keberatan tetap hidup di kalangan nasionalis dan militer.
Selama beberapa dekade berikutnya, kawasan sekitar candi tetap tegang. Kedua negara menempatkan militer di area yang saling tumpang tindih, terutama karena tidak pernah ada demarkasi jelas terhadap zona di sekitar candi (sekitar 4,6 km²). Candi menjadi tempat sensitif—suci secara spiritual, namun rawan secara geopolitik.
2008: Pengakuan UNESCO, Pecahnya Bentrokan
Ketegangan memuncak ketika pada 2008, UNESCO mengakui Candi Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia di bawah nama Kamboja. Thailand marah. Pihaknya menilai pengakuan itu memberi keuntungan sepihak pada Kamboja dalam mengelola wilayah yang masih disengketakan.
Ribuan pasukan dikerahkan. Baku tembak pecah di sepanjang perbatasan. Bentrokan bersenjata terjadi antara 2008–2011, menewaskan sejumlah tentara dari kedua pihak dan memaksa ribuan warga sipil mengungsi..
Dinding kuno candi pun terkena dampaknya. Granat dan mortir merusak sebagian situs warisan budaya itu. Dunia mengecam. Namun nasionalisme kedua negara sudah telanjur menyulut api konflik.
2011: Kamboja Kembali ke Mahkamah Internasional
Untuk menghindari eskalasi lebih lanjut, Kamboja kembali mengajukan permintaan interpretasi ulang putusan ICJ tahun 1962. Mereka menuntut kejelasan bukan hanya atas candi, tetapi juga wilayah di sekitarnya yang menjadi zona sengketa militer.
2013: Putusan Final
Pada November 2013, ICJ mengeluarkan putusan tambahan yang menyatakan bahwa:
“Seluruh area di mana candi itu berdiri dan tanah di sekitarnya adalah milik Kamboja. Thailand harus menarik seluruh pasukannya dari wilayah tersebut.”
Putusan ini mengakhiri babak formal dari sengketa hukum internasional. Thailand menyatakan akan mematuhi keputusan, namun ketegangan militer masih terus dirasakan di lapangan hingga beberapa tahun berikutnya.
Refleksi: Ketika Warisan Jadi Sengketa
Candi Preah Vihear bukanlah sekadar reruntuhan batu kuno. Ia adalah simbol kebesaran budaya Hindu di Asia Tenggara, tempat meditasi dan persembahan untuk Dewa Siwa. Namun, ketika peradaban berubah dan batas-batas negara menjadi identitas politik, situs suci ini terseret menjadi sumber konflik nasionalisme, hukum internasional, dan militerisasi.
Ironisnya, sebuah situs spiritual yang dibangun untuk menyatukan manusia dengan yang Ilahi, justru menjadi penyebab terjadinya pertumpahan darah di zaman modern.
Advertisement
Advertisement
