Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Warga Pulau Sebesi Gemar Tonton Erupsi Gunung Anak Krakatau

Warga Pulau Sebesi Gemar Tonton Erupsi Gunung Anak Krakatau

Spesial Senin, 21 September 2026 16:22 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Lampung – Suara dentuman dari arah Anak Krakatau tidak selalu membuat warga Pulau Sebesi berlari meninggalkan aktivitas mereka. Bagi masyarakat yang telah puluhan tahun hidup berdekatan dengan gunung api tersebut, suara letusan justru menjadi salah satu tanda alam yang mereka kenali dan pantau.

Pulau Sebesi berada sekitar 20 kilometer dari Anak Krakatau. Sekitar 2.700 warga tinggal di pulau tersebut dan menjalani kehidupan dengan gunung api sebagai bagian dari lingkungan mereka. Kedekatan itu membuat masyarakat memiliki pengetahuan tersendiri dalam membaca perubahan alam dan menentukan kapan harus meningkatkan kewaspadaan.

Advertisement

Pengetahuan tersebut tidak hanya diperoleh dari informasi resmi mengenai aktivitas vulkanik. Pengalaman sehari-hari, cerita antargenerasi dan pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan turut membentuk cara warga memahami ancaman bencana.

Hal itu terlihat ketika aktivitas Anak Krakatau kembali terdengar pada awal September 2026. Sejak Jumat, 4 September, menjelang dini hari, warga mulai mendengar suara dentuman dari arah selatan. Keesokan paginya, suara tersebut semakin jelas dan lebih sering terdengar.

Warga Sebesi sudah terbiasa membedakan suara Anak Krakatau dengan suara petir. Bagi mereka, keduanya memiliki karakter yang berbeda.

Hayun, warga Dusun Bangunan, Desa Tejang Pulau Sebesi, mengatakan suara petir atau kilat biasanya terdengar seperti gelegar panjang. Sementara suara Anak Krakatau terdengar seperti letupan meriam, diawali bunyi seperti tarikan kemudian disusul dentuman keras sebelum kembali sunyi.

Pengalaman semacam itu membuat warga tidak hanya menunggu informasi dari luar. Mereka ikut mengamati kondisi gunung dari wilayah pulau yang dianggap memungkinkan untuk melihat aktivitas Anak Krakatau dari kejauhan.

Sebagian warga bahkan mendatangi kawasan Teluk Baru di sebelah selatan Pulau Sebesi untuk menyaksikan aktivitas gunung. Bagi orang yang tidak terbiasa tinggal di sekitar gunung api, tindakan tersebut mungkin terlihat berisiko atau tidak lazim.

Namun bagi warga Sebesi, pengamatan terhadap gunung merupakan bagian dari cara mereka memahami situasi. Mereka mengenali lingkungan tempat tinggalnya melalui apa yang dilihat dan didengar secara langsung.

Kewaspadaan kemudian berlanjut hingga malam hari. Warga melakukan ronda secara bergantian untuk memantau kemungkinan perubahan kondisi. Komunikasi juga dilakukan melalui grup WhatsApp sehingga informasi mengenai perkembangan aktivitas Anak Krakatau dapat segera diketahui warga lainnya.

Sebagian warga bahkan memilih tidur di luar rumah. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan terhadap kemungkinan erupsi maupun tsunami.

Hayun juga mengingatkan anggota keluarganya yang berada di dusun berbeda agar meningkatkan kewaspadaan.

BACA JUGA:  Penerimaan SDA Ratusan Triliun, Berapa yang Hilang di Tengah Jalan?

“Krakatau irupsi, ati-ati.”

Pesan sederhana itu menunjukkan bagaimana peringatan mengenai ancaman bencana disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak selalu menggunakan istilah teknis, tetapi melalui bahasa yang mudah dipahami dan berdasarkan pengalaman warga sendiri.

Kebiasaan tersebut tidak muncul dalam waktu singkat. Masyarakat Pulau Sebesi memiliki sejarah panjang dalam menghadapi bencana yang berkaitan dengan aktivitas Krakatau.

Pada 1883, letusan besar Krakatau memberikan dampak dahsyat terhadap Pulau Sebesi. Pulau tersebut dilaporkan tertutup lumpur hingga sekitar enam meter, sementara batu apung berukuran besar berserakan di sepanjang pantainya.

Setelah letusan tersebut, Pulau Sebesi sempat menjadi wilayah yang tidak berpenghuni. Baru pada dekade 1920-an orang-orang kembali mendatangi pulau tersebut untuk mengambil hasil panen.

Bagi generasi masyarakat Sebesi saat ini, letusan 1883 tentu bukan pengalaman langsung. Peristiwa tersebut lebih banyak diwariskan melalui cerita orang tua, pengetahuan lokal, pendidikan, arsip dan berbagai pemberitaan.

Namun, memori mengenai bencana kembali menjadi pengalaman nyata ketika tsunami Selat Sunda terjadi pada 2018.

Tsunami yang terjadi setelah runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau menerjang sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda, termasuk Pulau Sebesi. Gelombang tsunami dilaporkan mencapai sekitar 10 meter dan menyapu hampir 100 rumah penduduk.

Seorang anak meninggal dunia dalam bencana tersebut. Sementara itu, sebagian besar warga berupaya menyelamatkan diri menuju Gunung Sebesi yang berada di bagian barat daya pulau.

Peristiwa 2018 menjadi pengalaman langsung yang semakin memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai risiko di lingkungan tempat tinggal mereka.

Meski demikian, pengalaman bencana tersebut tidak serta-merta membuat warga meninggalkan Pulau Sebesi atau memutus hubungan mereka dengan Anak Krakatau.

Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Warga semakin memperhatikan berbagai tanda alam yang dianggap berkaitan dengan perubahan aktivitas gunung, seperti aroma belerang yang semakin kuat, turunnya hujan abu maupun kondisi ombak yang terlihat lebih tinggi dari biasanya.

Ada pula satu ungkapan sederhana yang menggambarkan bagaimana kewaspadaan telah menjadi kebiasaan masyarakat.

“Jangan tidur lelap-lelap kalau (Anak) Krakatau sedang aktif.”

Kalimat tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan mengenai risiko telah berkembang menjadi kebiasaan. Ancaman bencana bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika terjadi erupsi, tetapi menjadi bagian dari cara warga menjalani kehidupan di pulau tersebut.

Karena itu, perilaku warga yang menyaksikan erupsi dari kejauhan tidak bisa begitu saja dipahami sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap bahaya. Di sisi lain, ronda malam juga tidak selalu menunjukkan kepanikan.

Keduanya dapat berlangsung bersamaan. Warga dapat menyaksikan aktivitas Anak Krakatau karena mereka memahami karakter gunung tersebut, sekaligus tetap melakukan penjagaan karena menyadari adanya kemungkinan bahaya.

BACA JUGA:  Di Swiss, Gereja Jadi Sepi Gara-gara Warga Hindari Pajak, Kok Bisa?

Hubungan masyarakat Sebesi dengan Anak Krakatau menjadi lebih kompleks daripada sekadar persoalan takut atau tidak takut terhadap gunung api.

Anak Krakatau berada di ruang hidup mereka. Sementara itu, Pulau Sebesi merupakan tempat masyarakat mencari penghidupan, membangun keluarga, menjalankan kehidupan sosial dan mempertahankan kehidupan dari generasi ke generasi.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Devi Riskianingrum, menggambarkan kondisi tersebut sebagai bagian dari budaya risiko masyarakat yang terbentuk melalui hubungan panjang antara manusia dan lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam pandangan tersebut, memahami masyarakat Sebesi tidak cukup hanya dengan melihat seberapa besar risiko yang mereka hadapi. Hal yang tidak kalah penting adalah melihat bagaimana mereka belajar mengenali, menghadapi dan hidup bersama risiko tersebut.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan di Desa Laingpatehi, Sulawesi Utara. Permukiman tersebut berada sekitar satu kilometer dari kawah Gunung Ruang. Masyarakat setempat memiliki pengetahuan adat untuk mengenali tanda-tanda erupsi sekaligus mengetahui langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.

Setelah erupsi Gunung Ruang pada 2024 yang menyebabkan wilayah sekitar dikosongkan, sebagian warga tetap kembali ke tempat tinggal mereka.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa pengalaman bencana tidak selalu membuat masyarakat memutus hubungan dengan ruang hidupnya. Ada keterikatan dengan tempat tinggal, sumber penghidupan, lingkungan sosial dan sejarah yang membuat hubungan manusia dengan kawasan rawan bencana menjadi jauh lebih kompleks.

Pulau Sebesi memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api membangun pengetahuan dari pengalaman. Suara dentuman, perubahan kondisi laut, aroma belerang, hujan abu hingga aktivitas gunung menjadi bagian dari tanda-tanda yang mereka perhatikan.

Bagi warga Sebesi, Anak Krakatau bukan sekadar gunung api yang berada di kejauhan. Gunung tersebut telah menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka hidup, sumber ingatan tentang bencana sekaligus ancaman yang harus terus dipahami.

Ketika dentuman kembali terdengar dari arah Anak Krakatau, respons warga pun tidak hanya berupa rasa takut. Ada pengalaman yang bekerja, ada pengetahuan yang diwariskan, ada komunikasi antarwarga dan ada kebiasaan berjaga yang terbentuk dari sejarah panjang hidup berdampingan dengan gunung api.

Artikel ini ditulis oleh Devi Riskianingrum, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan diterbitkan di The Conversation Indonesia pada 21 September 2026. (sumber: The Conversation Indonesia)

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Spesial

Penerimaan SDA Ratusan Triliun, Berapa yang Hilang di Tengah Jalan?

Spesial

Di Swiss, Gereja Jadi Sepi Gara-gara Warga Hindari Pajak, Kok Bisa?

Berita Utama

Wacana Pilkada Lewat DPRD Menguat, 5 Partai Dukung

Spesial

KUHP Baru: Nikah Siri, Ada Ancaman Pidana

BERITA TERBARU

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Penggali Sumur di Malingping Meninggal, Tertimbun 7 Jam

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version