Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Memahami Majnun, Majdub, Khulthah dan Khumul

Memahami Majnun, Majdub, Khulthah dan Khumul

Tasawuf Elegan Minggu, 29 September 2024 16:29 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: Viva.co.id

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Orang yang sedang jatuh cinta terkadang mencapai kulminasi kesadaran tertinggi yang disebut ‘gila’ atau ‘gila cinta’. Orang gila sudah tidak punya kepedulian terhadap lingkungan, bahkan dirinya sendiri. Bahkan, pada titik ekstrem, orang yang gila cinta sampai tidak mau makan dan minum. Sedangkan orang yang benar-benar gila tetap makan secara normal, tetapi hilang kesadaran akan dirinya. Lalu, orang yang gila cinta pun bisa mencapai titik hilang akal. Dalam bahasa Arab, hal ini disebut ‘Majnun’ (مجنون).

Advertisement

Banyak sekali masyarakat yang secara kultural menginterpretasikan ‘Majnun’ (مجنون) sama dengan Majdzub (مَجذوب). Mungkinkah interpretasi tersebut memiliki irisan budaya antara masyarakat Nusantara dengan India? Saat ini, banyak sekali konten dari India yang merebak di media sosial memperlihatkan orang-orang yang dianggap suci atau resi didewakan, meskipun mereka berpakaian compang-camping dan berpenampilan kotor seperti orang yang tidak terurus. Beberapa dari mereka dianggap avatar (titisan) seperti Krisna. Persamaannya, di banyak tempat di Indonesia banyak anggapan bahwa orang-orang gila atau orang yang berperilaku ganjil dianggap sebagai waliyullah karena dipandang sebagai ‘Majdzub’ (مَجذوب) karena mereka sudah tidak memperdulikan aspek duniawi bahkan luput juga pada dirinya.

Banyak orang mengucapkannya Majdub yang maksudnya adalah Majdzub (مَجذوب) dalam bahasa Arab adalah berkedudukan sebagai ‘Isim Maf’ul’ yang posisinya sebagai objek. Sedangkan Jadzab (جذب) atau biasa diucapkan Jadab itu sendiri artinya ‘menarik’, dan orang yang menarik ditulis dengan kata Jaaduba (جادب). Demikianlah penjelasan orang-orang yang memahami istilah ini.

Oleh karena itu, kata Majdzub (مَجذوب) tidak bisa diartikan sebagai orang yang ditarik akalnya sebagaimana banyak tulisan yang menerangkan hal tersebut. Tidak ada waliyullah yang hilang akalnya. Banyak yang memahami bahwa Majdzub adalah orang yang hilang akal, kesadarannya, berpakaian compang-camping, dan kehilangan eksistensi karena cintanya kepada Allah.

Seorang sufi seperti Abu Yazid Al-Busthami ketika mencapai fana (فناء), yang kadang mengucapkan perkataan kontroversial seperti “Di dalam jubahku adalah Allah”, hanya melakukannya pada momen tertentu dan tidak terus-menerus dalam keadaan seperti yang disangkakan Majdzub (مَجذوب) sebab tidak ada yang menganggapnya Majdzub. Abu Yazid tetap tampil normal, bahkan digambarkan bahwa ia mengenakan jubah. Para ulama fikih hanya mengkritik ucapannya saja, sebagaimana kritik mereka terhadap Syekh Siti Jenar.

Ketika kata Majdzub (مَجذوب) diposisikan sebagai objek, maksudnya adalah orang tersebut memiliki kepribadian yang menarik, sehingga masyarakat tertarik padanya. Orang Majdzub memiliki magnet yakni daya tarik bagi lingkungan sekitarnya. Bisakah dibayangkan seorang pejabat publik yang ‘low profile’, bergaul dengan rakyatnya sebagaimana Brama Kumbara atau Prabu Siliwangi pada masa dahulu, yang tidak membuat batas-batas antara dirinya dengan masyarakat? Itulah gambaran orang yang Majdzub (مَجذوب). Lalu gambaran tersebut pun tergambar secara spesifik sebagaimana waliyullah yang sudah tidak membawa-bawa atribut kewaliannya, sebagai hamba Allah bukan orang yang berperilaku aneh untuk mencari perhatian agar diketahui kepribadiannya sebagai wali. Perilaku semacam itu bukanlah Majdzub (مَجذوب).

Oleh karena itu, orang yang ‘Majdzub’ (مَجذوب) sebenarnya bisa bergaul secara normal di tengah masyarakat. Ini disebut dalam perspektif lain disebut ‘Khulthah’ (خلطة), di mana eksistensinya tersembunyi di tengah pergaulan.

Wali-wali bukan orang yang sengaja menghilang dari keramaian dan menyepi ke gunung, tetapi mereka menyembunyikan dirinya di ‘tempat terang’. Menyembunyikan diri ini disebut ‘Khumul’ (خمول). Begitu juga orang yang menutup kejelekan atau aib orang lain pun kepada dirinya disebut Khumul. Oleh karenanya, antara Majdzub (مَجذوب), Khulthah (خلطة), dan Khumul (خمول) memiliki keterkaitan, dan semua ini jangan disamakan dengan ‘Majnun’ (مجنون) atau Sakr (orang yang mabuk cinta pada Tuhan). Mereka tetap hidup normal, dan perilaku janggal justru akan membawa kecurigaan orang lain, yang berpotensi membuka jati diri mereka, dan ini tidak mungkin. Perilaku waliyullah sering kali seperti intelijen karena kecakapan mereka dalam menyamar.

Advertisement

Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Kapolri Temui Jaksa Agung: Tidak Pernah Ada Masalah di Antara Dua Institusi

Kronologi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tersangka Megakorupsi dan TPPU

Gerakan Ayah Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah Mendapat Dukungan Resmi di Berbagai Daerah

KPK Bongkar Brankas Bupati Sukoharjo Etik Suryani, Berisi Gepokan Duit Miliaran dan Emas 2,5 Kg

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.