Advertisement
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (al-Hadits)
Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas perasaan yang kuat dan mengidentifikasi perasaan-perasaan tersebut, seperti amarah dan sejenisnya. Pada bagian ini, kita akan membahas tentang perasaan lemah atau kelemahan jiwa.
Banyak bentuk kelemahan jiwa yang dapat ditemui, di antaranya sifat cengeng (mudah menangis atau patah hati), kurangnya semangat dalam mencapai tujuan, cinta yang berlebihan, rasa kecewa, bahkan hingga tingkat frustrasi. Apabila seseorang mencapai tingkat frustrasi, setan akan mendekat dan dapat memengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan amoral, bahkan hingga menganiaya diri sendiri. Pertanyaannya, apakah semua perasaan lemah ini ada di dalam diri kita?
Cinta sebenarnya adalah bentuk perasaan yang kuat. Namun, ketika cinta muncul secara berlebihan dalam diri seseorang, justru dapat menyebabkan kelemahan jiwa karena cinta yang dimilikinya sudah ‘overdosis’. Dalam hukum agama, segala sesuatu yang berlebihan atau melampaui batas tidaklah baik, karena dalam kehidupan nyata pun hal tersebut dapat menimbulkan efek yang tidak baik. Sebagai contoh, seseorang yang terlalu mencintai istrinya secara berlebihan akan membuat sang istri merasa seperti ‘raja’ dalam rumah tangga, sementara suami yang memiliki rasa cinta berlebihan cenderung akan selalu mengalah dalam setiap sikap, tindakan, dan keputusan. Bahkan, dalam istilah sekarang, hal ini sering disebut sebagai ‘bucin’ atau ‘budak cinta’. Seseorang yang terlalu mementingkan perasaannya akan sulit bersikap tegas terhadap orang yang dicintainya, bahkan ketika orang tersebut berbuat salah. Banyak fenomena sosial di mana seorang suami tetap memaafkan istrinya yang berselingkuh, padahal secara hukum seharusnya ia bisa mengambil tindakan tegas, seperti bercerai. Oleh karena itu, perasaan cinta sebaiknya dikelola secara seimbang dan wajar.
Bahkan Nabi Ibrahim AS, karena rasa cintanya yang berlebihan kepada anaknya, Nabi Ismail AS, diuji oleh Allah dengan perintah untuk menyembelih anaknya tersebut. Namun, karena Nabi Ibrahim AS adalah seorang nabi dan sudah pasti taat kepada Allah, ia pun menjalankan perintah tersebut. Meskipun pada akhirnya, Allah menggantikan tubuh Nabi Ismail AS dengan seekor kambing.
Bentuk selanjutnya dari lemah jiwa atau rasa lemah adalah sifat cengeng dalam menghadapi kehidupan. Salah satu cirinya adalah sering mengeluh, tidak percaya diri, minder, dan selalu merasa tidak mampu meskipun belum mencobanya. Semua hal seperti ini dapat merusak kehidupan kita secara signifikan.
Yang ketiga adalah mudah kecewa karena sensitivitas perasaannya sangat tinggi terhadap ucapan atau tindakan orang lain. Padahal, boleh jadi hal yang dipersepsikan itu hanyalah prasangka belaka. Rasa kecewa yang berlebihan dapat menghilangkan akal sehat karena perasaan yang terlalu dominan menutupi pertimbangan logis. Segala pertimbangan pun lenyap, bahkan pikiran positif tidak muncul karena yang mendominasi adalah rasa kecewa terhadap segala sesuatu, yang akhirnya menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam diri. Salah satu pemicunya adalah rasa tersinggung. Rasa tersinggung bisa memicu amarah, tetapi juga bisa menjadi penyembuh rasa kecewa jika diimbangi dengan pikiran positif untuk mengabaikan hal-hal yang dianggap negatif.
Keempat, lemah perasaan dapat muncul dalam bentuk frustrasi, yang merupakan klimaks dari lemah jiwa. Jika sudah mencapai tahap frustrasi, banyak efek negatif yang mungkin terjadi, termasuk tindakan-tindakan merusak diri sendiri, bahkan hingga mengancam nyawa.
Dari semua uraian tersebut, penting bagi kita untuk mengenali diri sendiri agar segala bentuk perasaan lemah dapat dikendalikan dengan menguatkan jiwa. Salah satu caranya adalah dengan berpikir positif dan mengabaikan pikiran-pikiran negatif. Penyakit jiwa seperti ini sulit dihilangkan kecuali oleh diri kita sendiri. Ketika terjangkit perasaan lemah seperti itu, ia akan mewabah dan merusak unsur-unsur kejiwaan kita.
Indikasi-indikasi di atas bukan cuma merusak kehidupan kita di dunia tetapi juga akan menghambat kepada urusan ukhrawi. Sesungguhnya, Allah SWT menghendaki manusia untuk memiliki kejiwaan yang kuat, karena dengan jiwa yang kuat, manusia dapat lebih dekat kepada-Nya.
Advertisement
