Advertisement
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (al-Hadits)
Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com, Pada tulisan ini, kita akan membahas topik yang sebenarnya telah disinggung dalam beberapa edisi sebelumnya, yaitu mengenai aspek ‘merasa’. Aspek ‘merasa’ dalam diri seseorang sebenarnya merupakan bagian dari bentuk kesombongan, namun keberadaannya sering kali tidak disadari. Padahal, hal tersebut adalah wujud kesombongan yang paling halus dan dapat dikategorikan sebagai bentuk eksistensi diri. Banyak orang terjangkit sikap ‘merasa’ untuk menunjukkan keberadaannya di hadapan orang lain, dan biasanya sikap ini berpasangan dengan keinginan untuk ‘ingin terpuji’.
Beberapa bentuk sikap ‘merasa’ antara lain: merasa suci, merasa mampu, merasa kaya, merasa pintar, merasa hebat, merasa tinggi derajatnya, merasa berpengalaman, dan merasa paling berani. Sebenarnya, jenis perasaan ini sangat banyak, namun delapan indikator tersebut merupakan bagian paling pokok dari sikap ‘merasa’ dan sangat menonjol dalam fenomena kehidupan manusia.
1. Merasa Suci
Sikap ini sering dijangkiti oleh orang-orang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain, terutama mereka yang menganggap diri sebagai ahli ibadah. Sikap ini sering tersembunyi dalam diri seseorang, namun terkadang diekspresikan secara tidak langsung, seperti dengan mengatakan, “Saya sering beribadah,” atau “Saya sering bersedekah,” atau “Saya sering menolong orang lain.” Bahkan, ada yang mengekspresikannya dengan cara menjelekkan perilaku orang lain, seperti mengatakan, “Dia itu maling,” atau “Dia itu pelit,” yang sebenarnya menunjukkan eksistensi terbalik bahwa dirinya merasa lebih baik dari orang tersebut.
2. Merasa Mampu
Sikap ini biasanya ditunjukkan untuk memperlihatkan bahwa dirinya lebih bisa melakukan sesuatu daripada orang lain. Secara implisit, orang tersebut menegaskan bahwa orang lain tidak mampu melakukan hal yang sama. Sikap ini sering dijangkiti oleh orang-orang yang memiliki prestasi tertentu.
3. Merasa Kaya
Sikap ini biasanya dijangkiti oleh orang-orang yang baru saja menjadi kaya (OKB) atau bahkan oleh mereka yang sebenarnya berada dalam keterbelakangan ekonomi. Ironisnya, orang yang benar-benar kaya justru sering kali tidak merasa perlu menunjukkan kekayaannya dan justru bersikap rendah hati.
4. Merasa Pintar
Sikap ini biasanya ditunjukkan dengan cara menggurui orang lain, merasa lebih tahu, dan menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang yang merasa pintar cenderung mendominasi pembicaraan, memotong penjelasan orang lain, dan tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Mereka juga cenderung menolak kebenaran yang datang dari orang lain dan merendahkan pandangan orang lain, terutama jika pandangan tersebut dianggap salah.
5. Merasa Hebat
Sikap ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki popularitas atau terkenal. Mereka sering kali mengatakan, “Siapa yang tidak mengenal saya?” sebagai bentuk pengakuan atas kehebatan diri mereka.
6. Merasa Tinggi Derajatnya
Sikap ini merupakan warisan feodalisme, seperti sistem kasta. Meskipun sistem kasta sudah tidak ada lagi, sikap merasa tinggi derajatnya masih sering ditemui, terutama pada orang-orang yang memiliki status sosial tertentu, seperti orang kaya, pejabat, polisi, atau tentara. Bahkan, keluarga mereka pun ikut merasa memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang lain.
7. Merasa Paling Berpengalaman
Sikap ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang telah banyak mengalami sesuatu, baik dalam pekerjaan maupun dalam petualangan hidup. Mereka merasa bahwa pengalaman mereka lebih banyak dan lebih berharga daripada orang lain.
8. Merasa Paling Berani
Sikap ini biasanya terlihat pada orang-orang yang hidup di lingkungan keras atau penuh kekerasan. Mereka merasa bahwa keberanian mereka adalah yang paling unggul dibandingkan dengan orang lain.
Apapun bentuk sikap ‘merasa’ tersebut, jika dibiarkan berkembang, justru akan memberikan dampak negatif. Sikap ini bertujuan untuk menonjolkan diri agar terlihat lebih dari orang lain, namun di sisi lain, sikap ini juga memicu sikap merendahkan orang lain dan tidak menghargai keberadaan mereka.
Secara implisit, sikap ‘merasa’ mengandung unsur bahwa orang tersebut sebenarnya tidak ingin direndahkan atau berusaha secara preventif untuk tidak direndahkan oleh orang lain. Padahal, boleh jadi keadaan dirinya justru sebaliknya, yaitu dalam posisi yang rendah.
Orang-orang yang memiliki sikap ‘merasa’ sering kali lupa akan keberadaan dirinya yang sebenarnya. Akibatnya, mereka tidak dapat mengontrol sikapnya dan kadang bersikap melampaui batas. Banyak di antara mereka yang akhirnya menunjukkan sikap tidak beradab atau tidak beretika.
Mereka cenderung memperlihatkan eksistensi dirinya dengan sering menceritakan keberadaannya kepada orang lain, padahal orang yang diajak berbicara mungkin tidak tertarik atau bahkan jenuh mendengarkan cerita tersebut. Namun, orang yang memiliki sikap ‘merasa’ sering kali tidak menyadari hal ini.
Pertanyaannya, adakah unsur-unsur tersebut berada dalam diri kita dan mewarnai sikap kita dalam kehidupan sehari-hari? Jika ya, berarti kita masih jauh dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.
Kenalilah sikap-sikap tersebut, dan ingatlah bahwa hanya orang-orang yang mengenal dirinya yang akan mengenal Allah SWT.
Advertisement
