Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Nyawa Nelayan Labuan Melayang, Syahbandar Bungkam, PLTU Lepas Tanga

Nyawa Nelayan Labuan Melayang, Syahbandar Bungkam, PLTU Lepas Tanga

Banten Sabtu, 27 September 2025 5:19 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Nelayan Labuan melakukan aksi di kantor Syahbandar dan minta pertanggungjawaban atas korban tabrakan kapal pengangkut batubara belum lama ini

Advertisement

GazanaPublika.com, Pandeglang – Ratusan nelayan melakukan aksi protes di Labuan menyusul insiden kapal tongkang misterius yang menabrak KM Nanjung Sari pada 12 September lalu. Insiden itu menewaskan satu anak buah kapal (ABK), Suwito, sementara empat ABK lainnya selamat. Hingga kini, identitas kapal penyebab kecelakaan belum diumumkan.

Dari pihak nelayan, Ucu Fahmi meminta kasus tersebut harus diusut tuntas, jangan sampai tidak jelas dan merugikan korban.

Advertisement

“Harus ada pertanggungjawaban, jangan sampai ngambang, karena nelayan telah jadi korban,” ujarnya saat aksi di depan kantor Syahbandar Labuan baru-baru ini.

Sementara, Pengamat kebijakan publik, Eko Supriatno kepada wartawan menilai tindakan PLTU Banten 2 Labuan dan Syahbandar yang bungkam merupakan simbol kegagalan pengawasan dan tanggung jawab sosial. Publik menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban. Nelayan menegaskan bahwa nyawa manusia tidak bisa digantikan retorika atau birokrasi tertutup.

BACA JUGA:  Tinawati Andra Soni: Program PKK Mengajar Bangun Karakter Siswa

“PLTU bangga menyalakan listrik untuk kota-kota, tapi gagal menyalakan transparansi dan tanggung jawab sosial. Lebih peduli menjaga arus listrik ketimbang arus keadilan.” ungkapnya.

Menurutnya, nyawa Suwito menjadi simbol kegagalan sistemik, di mana aparat pengawas, industri, dan pemangku kebijakan mengabaikan keselamatan warga. “Kasus ini menegaskan urgensi penegakan hukum tegas, transparansi publik, dan akuntabilitas penuh dari PLTU 2 Labuan,” terang Eko.

Tegas Eko lagi, Syahbandar yang seharusnya menjadi penjaga keselamatan pelayaran, justru bungkam. Fungsi pengawasan tereduksi menjadi sekadar pemberi izin dokumen kapal besar saja. “Apa artinya kantor megah dan seragam rapi kalau nelayan yang mati hanya dianggap angka statistik?,” tandasnya mempertanyakan.

Tambahnya Eko lagi, aparat berjaga ketat menghalangi nelayan masuk dan ingin mempertanyakan kasus itu ke kantor Syahbandar, sementara pemilik tongkang misterius masih bebas. “Inilah wajah hukum yang timpang: tajam ke nelayan, tumpul ke pemilik modal,” kritik Eko.

BACA JUGA:  Pengurus SMSI Kota Serang Masa Bakti 2026-2029 Resmi Dilantik, Siap Bersinergi Bangun Ibu Kota

Bagi keluarga Suwito, laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan telah berubah menjadi kuburan keadilan, sementara negara absen dalam memastikan perlindungan warganya.

PLTU 2 Labuan dianggap durhaka pada lingkungan. Polusi udara, pencemaran air, dan ceceran batu bara menjadi bukti nyata pengabaian tanggung jawab ekologis. “Dan saya anggap PLTU Labuan telah gagal dalam pengelolaan CSR juga,” terang Eko.
Kata dia, kalau negara lebih berpihak pada korporasi ketimbang keselamatan rakyat, tragedi Suwito bukan kecelakaan semata. Ia adalah bukti nyata kegagalan negara menjaga nyawa nelayannya sendiri,” tegas Eko yang juga Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar Banten.

Diketahui, tragedi tenggelamnya nelayan Suwito akibat tabrakan dengan kapal tongkang pengangkut batu bara tujuan PLTU Banten 2 Labuan. (adn)

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Banten

Kasus Uun Berujung Restorative Justice, Ada Apa?

Banten

Workshop Jurnalistik Kontemporer di SMAN 1 Cibeber, Bina Jurnalis Muda Kreatif

Banten

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

Banten

Driver Lokal Lontar Tolak Penambahan Armada FABA dari Luar Wilayah, Minta Kontrak dan Ritasi Transparan

BERITA TERBARU

Kasus Uun Berujung Restorative Justice, Ada Apa?

Haidar Widodo Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Pisau Bermata Dua

Ahok Khawatir UU Perampasan Aset Disalahgunakan

Intelijen Ukraina Klaim 8 WNI Direkrut Jadi Tentara Bayaran Rusia

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.