Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Gelombang Protes Nasional di AS: Warga Kecam Kebijakan Imigrasi Trump dan Penangkapan Massal oleh ICE

Gelombang Protes Nasional di AS: Warga Kecam Kebijakan Imigrasi Trump dan Penangkapan Massal oleh ICE

Berita Utama Rabu, 11 Juni 2025 22:18 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, San Fransisco – Amerika Serikat kembali diguncang gelombang protes besar-besaran menyusul kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump terkait imigrasi. Sejumlah kota di berbagai negara bagian—dari Seattle, San Francisco, hingga Washington DC—menjadi panggung perlawanan publik terhadap operasi besar-besaran Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang menargetkan imigran ilegal dan aktivis pendukung mereka.

Aksi demonstrasi dimulai pada Jumat (6/6/2025), setelah ICE meluncurkan penggerebekan di berbagai wilayah, termasuk Los Angeles. Sejak saat itu, protes menyebar luas, menandai penolakan keras masyarakat terhadap apa yang mereka sebut sebagai tindakan “gila” dan tidak manusiawi oleh pemerintah Trump.

Advertisement

Di Seattle, sekitar 50 mahasiswa dari kelompok Students for a Democratic Society Universitas Washington menggelar unjuk rasa di depan pengadilan imigrasi. Sambil menabuh drum, mereka mengangkat spanduk bertuliskan “Bebaskan mereka semua. Hapuskan ICE” dan “Tolak deportasi”.

Mereka menyuarakan solidaritas terhadap para imigran yang ditangkap dan menuntut pembebasan segera.
Di San Francisco, kemarahan publik meningkat drastis. Sekitar 200 orang berkumpul pada Selasa (10/6/2025) untuk memprotes penangkapan ratusan demonstran yang sebelumnya terlibat aksi damai sejak Minggu. Aksi berubah ricuh, dengan lebih dari 150 orang ditangkap. Vandalisme meluas, sejumlah mobil termasuk kendaraan polisi dirusak, dan dua petugas terluka dalam bentrokan. Kepolisian San Francisco memperingatkan bahwa kekerasan tidak akan ditoleransi meskipun hak untuk berunjuk rasa dijamin.

BACA JUGA:  PDIP Pecat Achmad Hidayat, Habis Kunjungan ke Jokowi, Ganjar pun Komentar

Kondisi serupa terjadi di Santa Ana, California, tempat unjuk rasa dilanjutkan sejak Senin. Kendaraan lapis baja digunakan untuk memblokade akses ke Civic Center, markas berbagai institusi pemerintah. Meskipun petugas kebersihan mulai membersihkan lokasi, ketegangan masih terasa. Sejumlah kelompok tandingan juga muncul, bahkan seorang pria terlihat mengenakan topi merah bertuliskan “Make America Great Again”.

Demonstrasi di Austin dan Dallas, Texas, pun berlangsung panas. Massa yang marah melemparkan batu dan botol ke arah aparat. Bentrokan tak terhindarkan, dan beberapa demonstran kembali ditahan. Sementara itu, di Chicago, sekelompok warga menuntut Trump menghentikan operasi ICE dan menarik pasukan federal dari California.

Di Boston, ratusan orang berkumpul di City Hall Plaza untuk menuntut pembebasan David Huerta, pemimpin serikat pekerja yang ditangkap ICE di Los Angeles. Spanduk bertuliskan “Massachusetts bersama Los Angeles” dan “Lindungi imigran di negara bagian tetangga kami” mewarnai aksi solidaritas tersebut.

BACA JUGA:  Evaluasi Jalur Sepeda Jakarta: Warga Desak Penghapusan demi Urai Macet

Di jantung kekuasaan AS, Washington DC, unjuk rasa juga melibatkan sejumlah serikat pekerja dan anggota legislatif. Salah satunya adalah Pramila Jayapal, anggota DPR dari Partai Demokrat, yang turut mengecam keras kebijakan penggerebekan ICE.

“Sudah cukup dengan penggerebekan ICE yang menyasar orang-orang tak bersalah,” tegas Jayapal dalam orasinya.

Ketegangan meningkat setelah sejumlah warga mulai menghalangi penggerebekan ICE, bahkan membakar kendaraan sebagai bentuk perlawanan.

Menanggapi situasi yang kian memburuk, Presiden Trump mengerahkan ribuan Garda Nasional dan ratusan personel marinir untuk meredam aksi-aksi demonstrasi.

Masyarakat sipil, aktivis, dan sejumlah tokoh politik menilai respons pemerintah terlalu represif dan justru memperburuk ketegangan sosial. Mereka menuntut agar kebijakan imigrasi Trump direvisi dan agar aparat tidak lagi menggunakan kekuatan militer untuk menghadapi warganya sendiri.

Gelombang protes ini menegaskan bahwa isu imigrasi tidak hanya soal hukum dan keamanan, tetapi menyangkut kemanusiaan, keadilan sosial, dan nilai-nilai dasar demokrasi Amerika.

Advertisement

Demontrasi Donald Trump Protes Trump
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Berita Utama

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Berita Utama

Bobby Nasution Tanggapi Putusan MK Soal Ijazah SMA Gibran: Setahu Saya Sarjana

Berita Utama

Ojol Akhirnya Menang, Bebas dari Eksploitasi

Berita Utama

Bukan Soal Ijazah Semata: Ketika MK Tak Menemukan Bukti, tetapi Gugatan Gibran Tetap Kandas

BERITA TERBARU

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Penggali Sumur di Malingping Meninggal, Tertimbun 7 Jam

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version