Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek sejak akhir pekan lalu kembali memicu banjir di berbagai titik di DKI Jakarta. Hingga Senin pagi (7/7/2025), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan sedikitnya 109 Rukun Tetangga (RT) dan 3 ruas jalan di lima wilayah kota administratif masih terendam banjir dengan ketinggian bervariasi hingga mencapai lebih dari 2 meter di sejumlah lokasi.
Banjir ini merupakan lanjutan dari hujan lebat yang terjadi sejak Minggu (6/7) pagi dan menyebabkan genangan di kawasan permukiman padat seperti Bidara Cina (Jakarta Timur), Kampung Melayu, hingga Karet Tengsin (Jakarta Pusat).
Advertisement
“Penyebab utama banjir kali ini adalah curah hujan yang tinggi disertai luapan beberapa sungai besar seperti Kali Ciliwung, Kali Krukut, dan Kali Angke, yang tidak mampu menampung debit air,” ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, dikutip dari CNN Indonesia.
Wilayah Terparah: Bidara Cina dan Kampung Melayu
Dari data BPBD, Jakarta Timur mencatat jumlah RT terendam terbanyak dengan 47 RT, disusul Jakarta Selatan (30 RT), Jakarta Pusat (17 RT), dan Jakarta Barat (15 RT). Beberapa titik tergenang cukup parah:
• Kelurahan Bidara Cina (Jakarta Timur): 14 RT tergenang dengan ketinggian air 180–210 cm, disebabkan luapan Kali Ciliwung.
• Kelurahan Kampung Melayu (Jakarta Timur): 4 RT tergenang, ketinggian mencapai 155 cm.
• Kelurahan Pela Mampang (Jakarta Selatan): 13 RT terendam, dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 150 cm.
Kondisi ini memaksa ratusan warga untuk mengungsi ke tempat-tempat aman yang telah disiapkan pemerintah maupun tempat ibadah dan sekolah.
Ratusan Jiwa Mengungsi di Masjid, Sekolah, dan Kantor Kelurahan
BPBD DKI mencatat setidaknya 13 titik pengungsian resmi telah dibuka. Salah satunya berada di Aula Kantor Kelurahan Bidara Cina yang menampung 137 jiwa dari 33 KK. Sementara itu, di wilayah Kampung Melayu, ratusan warga mengungsi di Masjid Jami Ittihadul Ikhwan dan SDN 01/02 Kampung Melayu. Bahkan di Universitas Borobudur, tercatat sebanyak 59 KK (197 jiwa) mengungsi akibat banjir yang merendam permukiman sekitar.
“Kami berupaya memastikan logistik, dapur umum, dan pelayanan kesehatan tersedia di setiap titik pengungsian,” kata Isnawa.
Selain itu, sejumlah tempat ibadah lain seperti Masjid Al-Hawi (Cililitan), Masjid Al Ridwan (Jatipadang), dan Mushola Sibili turut dijadikan pos sementara bagi warga terdampak. BPBD juga telah menyiagakan perahu karet dan petugas evakuasi untuk menjangkau warga yang masih terjebak di rumah-rumah mereka.
3 Ruas Jalan Ikut Terendam, Aktivitas Lalu Lintas Terganggu
Selain permukiman warga, banjir juga menggenangi tiga ruas jalan utama, yaitu:
• Jl. Adi Karya, Kedoya Selatan, Jakarta Barat – genangan setinggi 15 cm.
• Gang H. Musanif, Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat – 45 cm.
• Jl. Cipinang Indah (dekat SMK Penabur), Pondok Bambu, Jakarta Timur – 15 cm.
Kendaraan kecil kesulitan melintas, dan lalu lintas di beberapa titik terpantau tersendat. Petugas Dinas Perhubungan dan Satpol PP dikerahkan untuk mengatur arus kendaraan dan membantu warga.
BMKG: Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) serta gangguan atmosfer lainnya yang meningkatkan potensi curah hujan.
“Kondisi atmosfer saat ini cukup labil dan mendukung pertumbuhan awan hujan secara signifikan,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dikutip dari Kompas.com.
Pemerintah Diminta Evaluasi Tata Kelola Sungai dan Drainase
Banjir yang terus berulang dari tahun ke tahun menimbulkan desakan dari berbagai pihak agar Pemprov DKI Jakarta segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan pengelolaan sungai. Termasuk perlunya mempercepat proyek normalisasi sungai dan perbaikan saluran air di kawasan permukiman padat.
“Kalau hanya bergantung pada penanganan saat banjir, ini tidak akan selesai. Harus ada perencanaan jangka panjang yang tegas dan menyentuh akar masalah,” ujar Pakar Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna.
Imbauan
BPBD dan instansi terkait terus memantau perkembangan banjir dan mengimbau warga untuk:
• Tetap waspada terhadap potensi hujan susulan,
• Menghindari aktivitas di sekitar sungai yang meluap,
• Dan segera mengungsi apabila debit air meningkat.
Pemprov DKI Jakarta melalui dinas terkait juga mengaktifkan Call Center 112 untuk aduan dan informasi darurat bencana.
Dengan ratusan warga masih berada di pengungsian dan curah hujan yang belum mereda, Jakarta kini kembali dihadapkan pada pengingat keras akan pentingnya penataan kota yang tangguh terhadap bencana.
Advertisement
