GazanaPublika.com, Jakarta — Suasana ‘hangat Lebaran’ tak hanya terasa di dalam negeri, tetapi juga menjalar ke percakapan lintas negara. Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan momentum Idulfitri untuk menyapa para pemimpin dunia Muslim melalui sambungan telepon—sebuah gestur sederhana, namun sarat makna diplomatik.
Rangkaian kegiatan Presiden selama Idulfitri terbilang padat dan berpindah lintas wilayah. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, Presiden mengawali malam takbiran di Sumatera Utara, melaksanakan Salat Id di Aceh, lalu kembali ke Jakarta untuk bersilaturahmi dengan masyarakat di Istana Merdeka.
“Setelah bermalam takbiran di Sumatra Utara, Salat Idulfitri di Aceh, serta halal bihalal bersama masyarakat di Istana Merdeka, Jakarta,” kata Teddy seperti dilihat Minggu (22/3/2026).
Di sela agenda domestik tersebut, Prabowo juga menjalin komunikasi langsung dengan sejumlah pemimpin negara Muslim. Di antaranya Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Raja Yordania Abdullah II, serta Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
“Dalam beberapa hari di suasana Idulfitri ini Presiden Prabowo juga melaksanakan silaturahmi melalui sambungan telepon dengan para pemimpin negara muslim, di antaranya Presiden Republik Turki Recep Tayyip Erdoğan, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, Raja Abdullah II dari Kerajaan Yordania, Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman,” ungkapnya.
Menurut Teddy, komunikasi tersebut belum berhenti. Sejumlah kepala negara lain dijadwalkan akan dihubungi dalam waktu dekat, menunggu konfirmasi dari masing-masing pihak.
“Beberapa kepala negara lainnya juga akan dihubungi dalam waktu dekat, menunggu konfirmasi dari masing-masing negara,” ujarnya.
Lebih dari sekadar ucapan hari raya, langkah ini dibaca sebagai sinyal penguatan jejaring hubungan bilateral di antara negara-negara Muslim. Di tengah dinamika global yang terus bergerak, momentum Idulfitri menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi—bahwa relasi antarnegara tak selalu harus dibangun melalui forum formal, tetapi juga lewat sentuhan kultural seperti silaturahmi.
“Silaturahmi ini menjadi wujud eratnya persaudaraan dan kerja sama antar negara-negara Muslim, sekaligus memperkuat hubungan bilateral di tengah suasana penuh keberkahan,” imbuhnya.
Di balik percakapan singkat lintas negara itu, tersimpan pesan yang lebih dalam: bahwa diplomasi tidak hanya soal kepentingan, tetapi juga tentang menjaga rasa—dan dalam konteks ini, rasa persaudaraan yang dibingkai oleh ‘semangat Lebaran’.
