Advertisement
Lebak, GazanaPublika.com – Majelis Al Ma’arijul Wathon menyelenggarakan kegiatan milad Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili yang ke 852 (dalam hitungan tahun hijriyah) di Desa Cikeusik Timur, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten (28/4/2024).
Giat itu dihadiri sejumlah santri dan ulama serta beberapa organisasi masyarakat, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Damar Alam, Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia ( TTKKBI), Matan dan lainnya juga Muspika Malingping.
Advertisement
Acara Milad Syekh Hasan Sadzily memghadirkan Dai, KH. Amin Fauzi atau biasa dipanggil Ki Jablai dari Tanggerang.
Ketua Panitia Milad Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili, Hida N Hidayat mengungkapkan bahwa seharusnya kegiatan ini diselenggarakan pada hari ke-10 Syawal atau 10 hari lebaran. Namun karena pertimbangan tertentu, kegiatan ini pun diundur pelaksanaannya pada hari ini (28/4/2024) agar semua pihak yang menghadiri dapat berpartisipasi di dalam acara tersebut.
“Alhamdulillah, kita menyelenggarakan ini rutin setiap Syawal sejak tahun 2016,” tutur Hida N. Hidayat.

Hida mengungkapkan acara ini diadakan setiap tahun untuk memastikan jamaah Majelis Al-Ma’arijul Wathon terus mengingat kehidupan, peribadahan, dan kewaliannya Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili sebagai pendiri Tarekat Syadziliyah yang terkenal di dunia. Ia pun dikenal sebagai salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW.
“Tujuan kami untuk mengenang. Ya mengenang. Mengenang kehidupan waliyullah itu barakah. Ibadah. Kita meyakini itu sebagai ahlus sunnah wal jamaah. Kita berharap syafaatnya. Apalagi beliau masyhur dikenal sebagai keturunan Rasulilah. Itu sahih ya,” jelas Hida kepada GazanaPublika.com.
Diketahui, Majelis Al Ma’arijul Wathon dibawah asuhan Kiyai Hudi Nurhudiat, S.H., S.Ag., M.H. Dibawahnya para salik dibimbing untuk mengenal dan mempraktikan ilmu tasawuf dan tarekat Syadziliyah.
Sementara itu, KH. Amin Fauzi yang diundang untuk memberikan ceramah dalam acara Milad Syekh Abul Hasaj Asy-Syadzili memberikan nasehat-nasehat yang bermakna bagi hadirin. Dalam ceramahnya, KH. Amin Fauzi menekankan pentingnya berzikir, shalawat, sedekah, membaca Al Qur’an dan berdoa.
Dalam hal berzikir, KH. Amin Fauzi memberikan keberadaan orang tarekat yang banyak mengalami kesuksesan yang dikarenakan mereka bersungguh-sungguh berzikir mendapatkan hikmahnya.
“Coba renungkan, tujuan tarekat sebenarnya adalah mencari ridho Allah, tetapi mengapa banyak yang bertarekat menjadi kaya?” tutur KH. Amin Fauzi.
Namun demikian, KH. Amin Fauzi mengingatkan agar tidak lalai terhadap syariat ketika seseorang rajin berzikir. Syariat adalah dasar agama.
“Barangsiapa yang berzikir tanpa berfiqih, ia akan fasik. Orang yang berzikir tidak ada artinya jika tidak shalat,” ujar KH. Amin Fauzi.
KH. Amin Fauzi terutama menjelaskan mengenai karamah Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili. Oleh karena itu, hadirin dianjurkan untuk bertawasul kepadanya setiap kali memiliki hajat. Setiap doa pada hakikatnya akan sampai kepada Allah, tetapi sampaikan tawasul terlebih dahulu kepada Syekh Abu Hasan agar mendapatkan berkah. Berkah adalah sesuatu yang dikejar oleh manusia.
Menjelang akhir ceramahnya, KH. Amin Fauzi memberikan petuah kepada hadirin untuk mengingat kematian, karena, ungkapnya, manusia cepat atau lambat akan mati.
“Ingat mati, karena kematian tidak bisa diduga, baik yang muda maupun yang tua, yang sehat maupun yang sakit semua akan mati. Untuk itu, perbaiki ibadah kita,” tegas KH. Amin Fauzi.
Sementara, Chaidar Widodo Hudori, Ketua Mawakop (Marijul Wathon Kebon Kopi menjelaskan, bahwa acara itu memang tidak seperti tarekat yang lain, menyelenggarakan Haul. Mawakop menyenggarakan milad seorang guru. Milad itu bertujuan mengenang perjalanan hidup seseorang, khususnya pendiri guru tarekat.
“Kalau mengadakan milad di masa hidup justru takut tasyabuh. Kalau sudah meninggal justru tujuannya untuk mengingat perjalanan hidupnya supaya sebagian hikmah dalam kepribadiannya bisa meresap kepada diri kita,” ungkap Wa Dodo allias Chaidar Widodo.
Advertisement
